Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Perkreditan Rakyat. Logo: ojk.go.id

Bank Perkreditan Rakyat. Logo: ojk.go.id

Pandemi Belum Usai, BPR Masih Prospektif

Kamis, 6 Agustus 2020 | 07:43 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

JAKARTA, invrstor.id – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dinilai masih prospektif dengan adanya segmen konsumen yang cukup baik dalam meningkatkan fungsi intermediasinya pada tahun ini, khususnya dalam masa Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digalakkan pemerintah.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, kondisi perbankan secara keseluruhan masih relatif stabil. Guna menjaga likuiditas perbankan, LPS kembali menurunkan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan rupiah di bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR) masing-masing sebesar 25 basis poin (bps). Dengan demikian, tingkat bunga penjaminan LPS di bank umum untuk simpanan rupiah menjadi 5,25%, bank umum untuk simpanan valas 1,5%, dan di BPR untuk simpanan rupiah sebesar 7,75%.

"LPS bersama dengan OJK juga telah memberikan beberapa insentif bagi BPR. Dari sisi LPS misalnya memberi keringanan bagi perbankan dalam membayar premi penjaminan sepanjang semester II-2020. Keringanan tersebut berupa penghapusan denda bagi yang terlambat membayar premi yang mulai berlaku pada Juli 2020 hingga akhir tahun ini. Hal ini dalam rangka memberi ruang gerak bagi perbankan nasional," jelas Halim dalam seminar virtual, Rabu (5/8).

Sementara itu OJK juga telah menerapkan relaksasi yang manfaatnya dapat dirasakan oleh BPR di tengah masa sulit akibat pandemi ini. Melalui POJK Nomor 34/POJK.03/2020 tentang Kebijakan Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Sebagai Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 pada 2 Juni 2020, OJK meringankan penghitungan penyisihan penghapusan aset produktif (PPAP) umum, dan nilai agunan yang diambil alih (AYDA) sebagai faktor pengurang modal inti dalam perhitungan kewajiban pemenuhan modal minimum.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Perbarindo Joko Suyanto menyampaikan, industri BPR-BPRS dalam kondisi yang sehat, terjaga dan masih tumbuh positif. "Hal ini tercermin dari beberapa indikator kinerja misalnya aset industri BPR per Mei 2020 tumbuh 6,08% dibandingkan posisi yang sama setahun yang lalu dan mencapai Rp 145 triliun," ujar Joko.

Dia menambahkan, masyarakat masih sangat percaya terhadap industri ini. Hal ini terlihat dengan tumbuhnya dana masyarakat yang disimpan di BPR. Misalnya dalam bentuk tabungan tumbuh sebesar 6,77% dibandingkan tahun lalu, sedangkan deposito tumbuh sebesar 6,43%.

Dari sisi likuiditas, industri BPR mampu menjaga likuiditasnya dengan baik. Ini tercermin dari rasio LDR yang mencapai 79,87%. Begitu juga dari sisi penyaluran kredit dimana dalam masa pandemi masih tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut bisa dilihat dari naiknya jumlah dana yang disalurkan dalam bentuk kredit sebesar 5,50% dibandingkan posisi setahun sebelumnya atau mencapai Rp 110 triliun pada Mei 2020.

Joko menegaskan, dalam masa pandemi ini industri BPR-BPRS akan terus menjadi garda terdepan dalam memberikan layanan keuangan kepada masyarakat dengan tetap memegang teguh protokol kesehatan. "Kami akan selalu hadir di tengah masyarakat dalam kondisi apapun. Kami ada memang untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi masyarakat dan meningkatkan tingkat kesejahteraannya," imbuh Joko.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN