Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mirza Adityaswara. Foto: Investor Daily/IST

Mirza Adityaswara. Foto: Investor Daily/IST

Pandemi Berakhir, Pembayaran Angsuran Bank Diharapkan Lancar

Nida Sahara, Rabu, 29 April 2020 | 09:18 WIB

JAKARTA, investor.id  – Industri perbankan hingga saat ini masih melakukan restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19).

Diharapkan, setelah pandemi berakhir dan masa restrukturisasi selesai, pembayaran angsuran oleh debitur berjalan lancar sehingga kinerja perbankan membaik.

Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara mengungkapkan, sektor usaha yang mengalami dampak signifikan dari Covid-19 adalah perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, penyediaan akomodasi dan makan minum.

Kemudian, transportasi dan pergudangan, industri pengolahan, jasa penerbangan, hingga jasa pembiayaan kredit motor.

Kinerja sektoral terdampakCovid-19 tersebut terlihat pada penurunan omzet lebih dari 30% untuk sektor yang mengalami dampak signifikan.

Untuk sektor yang terdampak medium mengalami penurunan omzet 10-30%, sedangkan sektor terdampak rendah mengalami penurunan omzet kurang dari 10%.

Dengan adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 11/2020 tentang restrukturisasi kredit debitur terdampak Covid-19, akan membuat cashflow bank terganggu.

Hal tersebut diharapkan pulih ketika masa pandemic berakhir apabila aktivitas ekonomi kembali berjalan, dan para debitur kembali membayar angsurannya ke bank.

“Kualitas kredit bisa ditingkatkan setelah restrukturisasi. Menjaga kualitas kredit perbankan, agar get back to normal secepat mungkin setelah krisis usai,” ungkap Mirza dalam video conference LPPI bertajuk Dampak Covid-19 Terhadap Industri Keuangan di Indonesia, Selasa (28/4).

Mantan deputi gubernur senior Bank Indonesia (BI) ini juga menyebut, hal tersebut juga bisa terhambat apabila efektivitas yang bisa tersendat oleh sentiment bisnis yang pesimistis post Covid-19 (bottleneck di credit demand).

Risikonya, kemungkinan underestimate kredit bermasalah. Dalam POJK Nomor 11/2020 perbankan diizinkan untuk memberikan perpanjangan plafon hingga satu tahun kepada debitur terdampak Covid-19.

Dengan demikian, setelah relaksasi selama satu tahun, diharapkan aktivitas ekonomi normal dan dapat memenuhi kewajibannya kepada bank. Pasalnya, dengan melakukan relaksasi, perbankan akan kesulitan likuiditas, potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) yang membuat alokasi cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) membengkak sehingga modal akan tergerus.

Dari sisi likuiditas, BI terus melonggarkan kebijakan untuk membantu perbankan menjaga pasokan likuiditasnya.

Dengan menurunkan giro wajib minimum (GWM), membuka keran term repo bagi bank yang memiliki surat berharga bisa datang ke BI.

Namun, di sisi risiko kredit masih akan terdampak ke depan. Hal tersebut tergantung seberapa lama masa pandemi berlangsung di Indonesia.

“Tergantung kalau ekonomi bisa dibuka Juni, artinya ekonomi tutup pada April sampai Mei, NPL naik tidak banyak karena hanya 2 bulan tutup. Tapi kalau harus tutup karena virus tidak berhenti, NPL naik signifikan,” ucap Mirza.

Mirza menilai, perbankan perlu menambah modalnya agar bisa bertahan. Melihat kurva Covid-19 di berbagai negara, khususnya Indonesia, dia mengharapkan PSBB bisa selesai pada akhir Mei, sehingga aktivitas ekonomi bisa kembali berjalan.

“Jadi pemburukan pada April dan Mei yang mudah-mudahan tidak besar, karena bunga bank sekarang rendah,” terang Mirza.

Dia menyebutkan, selain menurunnya kualitas kredit, perbankan akan menghadapi potensi penurunan pendapatan. Margin bunga bersih (net interest margin/ NIM) akan menurun seiring dengan pemotongan suku bunga acuan BI.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN