Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pandemi Covid-19 Ajang Transformasi Digital Banking

Senin, 16 November 2020 | 09:53 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - Semakin tingginya persaingan di industri jasa keuangan, mendorong perbankan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah berbasis digital. Pandemi Covid-19 sebagai ajang percepatan transformasi digital yang sudah menjadi keniscayaan bagi industri perbankan saat ini.

Industri perbankan mengambil peran penting dalam digitalisasi keuangan, karena menguasai hampir 85% transaksi di pasar keuangan. Sebagai pemain besar di pasar keuangan, perbankan perlu melakukan transformasi untuk mendukung digitalisasi sistem keuangan. Perbankan pun dapat melakukan interlink dengan financial technology (fintech).

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa memiliki perilaku yang cukup aktif di dunia maya. Berdasarkan laporan HootSuite, sebuah agensi pemasaran media sosial bertajuk 'Digital 2020', penetrasi akses digital masyarakat Indonesia sudah mencapai 64% atau sekitar 174 juta jiwa. Angka ini menunjukkan Indonesia berpotensi besar untuk memasuki era ekonomi dan keuangan digital.

Perry Warjiyo. Foto: IST
Perry Warjiyo. Foto: IST

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo  menilai, digitalisasi merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya. Sejalan dengan hal tersebut, BI juga mendorong digitalisasi melalui sektor perbankan. Di mana pihaknya mendorong agar perbankan mengembangkan digital banking.

"Transaksi pembayaran digital banking atau open banking tumbuh tinggi di atas 52% juga berkaitan fintech terutama beberapa transaksi. Kebijakan yang kami lakukan untuk mendorong digitalisasi sistem pembayaran diintegrasikan ekonomi digital, khususnya UMKM dan ritel melalui implementasi blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025," jelas Perry, akhir pekan lalu.

Selain itu, sudah ada beberapa langkah yang dilakukan BI dalam upaya transformasi digital. Salah satunya melalui sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Bahkan, hingga saat ini sudah lebih dari 5 juta merchant yang tersambung melalui QRIS.

Ke depan, tuntutan terhadap keberadaan perbankan yang berdaya tahan tinggi dan efisien semakin mengemuka. Industri perbankan dituntut harus resilient, sehingga tidak menjadi episentrum dari krisis keuangan. Namun di lain pihak, perbankan dituntut memiliki peran yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Metamorfosis industri perbankan tak terlepas dari pandemi Covid-19 yang memacu bank meningkatkan layanan digitalnya, guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Seperti PT Bank Maybank Indonesia Tbk yang memberikan fokus pada transformasi digital yang tengah berjalan dengan meningkatkan dan menyempurnakan layanan digital banking. Meskipun masih dalam tahap awal proses transformasi, digital banking mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam akuisisi nasabah dan jumlah serta volume transaksi.  

Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Foto: DAVID GITA ROZA
Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Foto: DAVID GITA ROZA

Tercermin dari transaksi finansial yang dilakukan melalui aplikasi Maybank2U (M2U), salah satu platform digital payment meningkat 132% menjadi 7,8 juta transaksi selama kuartal pertama hingga kuartal ketiga 2020.

"Sementara, lebih dari 60 ribu rekening tabungan atau simpanan dibuka dan lebih dari 76 ribu rekening terdaftar melalui M2U," ungkap Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria.

M2U tidak hanya memberikan proses pembukaan rekening yang mudah tetapi juga cepat, serta menawarkan fitur gaya hidup yang bebas repot dan nyaman digunakan seperti QR Pay, KYC digital untuk pembukaan rekening baru, saluran donasi, dan fitur lainnya.

Head Strategy Transformation & Digital Office Maybank Indonesia Michel Hamilton menambahkan, kebutuhan masyarakat akan layanan perbankan digital semakin meningkat. Adanya pandemi Covid-19 juga memacu percepatan pengembangan digital banking Maybank.

"Jadi, sebenarnya kebutuhan ini memang sudah sangat meningkat, dan pandemi juga mendorong kami untuk meningkatkan kecepatan pengembangan sampai 3 hingga 5 kali lipat," imbuh Michel.

OJK
OJK

Untuk mendukung digitalisasi perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menelurkan payung hukum terkait transformasi digital berupa Peraturan OJK (POJK) No. 12/POJK/03/2018 tentang Penyelenggaraan Layanan Perbankan Digital oleh Bank Umum.

Di sisi lain, penyediaan layanan perbankan digital dapat berdampak pada peningkatan risiko terutama pada risiko operasional, risiko strategi, dan risiko reputasi. Oleh karena itu, perlu peningkatan penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi secara efektif oleh bank

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta mengatakan, digitalisasi membuka lebar peluang inklusivitas dan elektronifikasi di Indonesia.

"Digital banking, fintech, dan e-commerce dapat membuka peluang inklusivitas kepada 51% penduduk unbanked dan 62,9 juta UMKM yang dimulai dengan digitalisasi sistem pembayaran," kata dia.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta Foto: IST
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta Foto: IST

Fili juga menyampaikan, SPI 2025 mendukung digitalisasi perbankan sebagai lembaga utama dalam ekonomi-keuangan digital, melalui open banking maupun pemanfaatan teknologi digital dan data dalam bisnis keuangan. BI juga telah menyiapkan inisiatif, salah satunya membuat standar open API, antara bank dengan fintech.

Melalui digitalisasi di sektor jasa keuangan, diyakini mampu membawa Indonesia bertransformasi menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi. Untuk itu, diperlukan kerja sama oleh regulator dan perbankan, serta lembaga keuangan lain untuk menjawab tantangan di era kenormalan baru ini.

Waspadai Shadow Banking

Wimboh Santoso. Foto: IST
Wimboh Santoso. Foto: IST


Di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat, marak ditemui fenomena shadow banking. Oleh karena itu, perlu diatur dengan jelas serta sanksi agar tidak merugikan perbankan dan nasabah.

Shadow banking merupakan aktivitas keuangan dan perbankan yang dilakukan oleh lembaga non bank di luar jangkauan regulator. Dalam hal ini, OJK menegaskan bahwa shadow banking tidak bisa dianggap enteng.

"Ada produk bank yang diberikan dari non bank, ini tidak bisa dianggap enteng, ini shadow banking. Kalau tidak dikasih koridor jelas, orang akan lebih suka non bank dari pada bank," tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Dia mengatakan sektor perbankan sudah memiliki tingkat keamanan yang lebih baik dibandingkan oleh industri jasa keuangan lainnya, karena mengedepankan prinsip kehati-hatian yang kuat.

“Mungkin kalau masih kecil oke, tapi kalau ini sudah menjadi gede itukan menjadi isu. Kami dukung kalau ini jadi pembasahan sendiri bagaimana roadmap kita di digital,” ujar Wimboh.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN