Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV

Pangsa Pasar Keuangan Syariah Bisa Digenjot 25%

Jumat, 25 September 2020 | 04:28 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pangsa pasar (market share) ekonomi syariah dinilai bisa digenjot hingga 25% dari posisi Juli 2020 sebesar 9,68%. Inklusivitas dan sinergi antarpemangku kepentingan menjadi kunci mewujudkan ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi. Hal tersebut perlu dibenahi seiring upaya mencari ceruk bisnis baru untuk digarap.

Deputi Komisioner Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II OJK Moch Ihsanuddin menyampaikan, Indonesia dengan 87% penduduk muslim memiliki potensi besar untuk mengembangan ekonomi syariah. Namun demikian, sinergitas antar pemangku kepentingan dan inklusivitas ekonomi syariah menjadi kendala tersendiri guna mendorong porsi pangsa pasar keuangan syariah.

"Boro-boro mengejar pangsa pasar menjadi 87%, ini perlu dikaji lebih mendalam, harus melibatkan stakeholder lebih luas. Jadi jangankan 87%, sebesar 25% itu sudah luar biasa. Saya yakin menjadi sentral ekonomi dunia kalau mencapai titik itu," kata Ihsanuddin pada acara Zooming with Primus dengan tema Menanti Bisnis Syariah Merekah di BeritaSatu TV, Kamis  (24/9).

Di sektor perbankan, kata dia, memang ada beberapa konversi dari bank konvensional ke syariah. Total pangsa pasar bank umum syariah, BPR syariah, unit usaha syariah (UUS) hanya mencapai 6,81% dari total pangsa pasar keuangan. Pangsa pasar yang masih rendah juga dicatatkan IKNB syariah yang berkutat di bawah 5% atau per Juli 2020 sebesar 4,33%.

Moch Ihsanuddin, Deouti Komisioner IKNB 2 OJK dalam diskusi di Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV
Moch Ihsanuddin, Deouti Komisioner IKNB 2 OJK dalam diskusi di Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV

Jika dirinci, pangsa pasar perusahaan asuransi sekitar 37,3% dari pangsa pasar IKNB syariah. Pangsa pasar lembaga keuangan khusus yang terdiri dari LPEI, SMF, dan PNM di IKNB syariah sebesar 33,7%. Sedangkan multifinance, dana ventura, dan pembiayaan infrastruktur memiliki pangsa pasar sebesar 23%.

Lalu pangsa pasar dana pensiun hanya sekitar 5% dari IKNB syariah. Adapun industri yang baru tumbuh yaitu fintech p2p lending pangsa pasarnya masih 0,06%, hal tersebut karena fintech p2p lending adalah suatu platform yang menjadi penyelenggara dan tidak menghimpun dana masyarakat. Fintech p2p lending tidak boleh lebih dari satu hari menyalurkan dana pembiayaan lender ke borrower.

Sementara itu, sambung Ihsanuddin, sejatinya pendirian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) merupakan upaya pemerintah agar sektor ekonomi syariah bisa berkembang. Skenario pengembangan ekonomi syariah yang melibatkan industri jasa keuangan sebagai sentralnya pun telah dirancang. Tetapi implementasi dari rancangan tersebut belum didukung sejumlah penyelenggara secara penuh.

Sebagai ilustrasi permasalahan, 80% kantor lembaga jasa keuangan masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. "Tingkat penyebaran memang menjadi permasalahan klasik. Kita perlu memikirkan bersama dan kerjasama mengembangkan ekosistem syariah antara regulator, pemain, kementerian, kita juga harus banyak terlibat di skala internasional," ujar dia.

Ihsanuddin mengemukakan, bahkan yang memprihatinkan jika menilik indeks inklusi keuangan. Suatu isu hangat yang lebih menarik jika diperbincangkan antar pelaku usaha atau pegiat ekonomi syariah. Karena berdasarkan survei OJK, indeks inklusi keuangan di 2019 sebesar 9% atau malah menurun dibandingkan tahun 2016 sebesar 11%. Dalam hal ini, lagi-lagi keterlibatan pemangku kepentingan dalam suatu perusahaan untuk terus menambah modal dan meningkatkan porsi pembiayaan perlu terus didorong. Diharapkan ketika sinergi antar sektor ekonomi syariah bisa dimanfaatkan dengan baik, bisnis supply chain syariah pun bisa digiatkan guna menggenjot porsi yang lebih besar bagi keuangan syariah.

Dia menjelaskan, sampai Juli 2020 total aset keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp 1.639 triliun atau naik sebesar 20,61% secara tahunan (year on year/yoy). Hal itu menunjukkan bahwa keuangan syariah di Indonesia memiliki daya tahan dan semangat yang tinggi untuk dapat bertahan, termasuk untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Khusus di IKNB, dijumlahkan aset IKNB syariah tumbuh 7,9% (yoy). Dengan rincian asuransi umum syariah masih mencatatkan kinerja positif sebesar 5,1% (yoy). Tapi asuransi jiwa syariah minus 8,4% (yoy), sehingga kalau digabungkan termasuk reasuransi syariah maka tercatat minus 5,78% (yoy). Ini yang perlu dicermati bahwa dampak Covid-19 memanglah besar.

Beralih ke perusahaan pembiayaan atau multifinance syariah, modal ventura syariah, dan perusahaan pembiayaan infrastruktur syariah yang turut terkena kontraksi minus 3,9% (yoy). Namun industri dana pensiun syariah masih mampu tumbuh positif dan cukup besar. Lembaga jasa keuangan khusus juga masih mencatatkan kinerja positif.

Moch Ihsanuddin, Deouti Komisioner IKNB 2 OJK dalam diskusi di Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV
Moch Ihsanuddin, Deouti Komisioner IKNB 2 OJK dalam diskusi di Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV

Lebih lanjut, Ihsanuddin menilai, jika dibandingkan dengan aset yang dimiliki jasa keuangan konvensional saat ini, sulit bagi jasa keuangan syariah untuk memperbesar porsi pangsa pasarnya. Jasa keuangan syariah unik dan memiliki model tersendiri, itulah yang bisa dimanfaatkan untuk para pelaku usaha mencari ceruk bisnis. Artinya, para pelaku usaha mesti memperhatikan sisi ketersediaan produk (supply) dan sisi permintaan (demand). Hal tersebut secara perlahan telah dibenahi para pelaku usaha hingga regulator sebagai pengawas sekaligus pihak yang mendukung bergeraknya pasar.

"Meskipun pelan-pelan itu sudah dibenahi. tetapi bagi pengamatan kami ada satu, dari sisi supply demand, memang perilaku masyarakat itu susah ditebak. Kebetulan di beberapa kantor swasta dan pemerintah, sekarang payroll gaji itu ditawarkan syariah atau konvensional. Biasanya syariah itu sistem IT-nya kalah, ini juga harus dipikirkan," ujar dia.

Selanjutnya, dia menuturkan, regulator sudah berusaha merancang ekosistem, tapi kesadaran masyarakat untuk menggunakan layanan syariah itu perlu ditingkatkan. Fanatisme syariah masyarakat dijalankan dengan baik untuk mau menggunakan keseluruhan ekosistem. Sehingga seluruh ekosistem bisa diserap agar bisnis syariah ini bisa terus merekah.

Teknologi Sebagai Solusi

Taufiq Aljufri, CEO DANA Syariah, dalam diskusi Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV
Taufiq Aljufri, CEO DANA Syariah, dalam diskusi Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV


Pada kesempatan sama CEO & Co-founder Dana Syariah Taufiq Aljufri menyampaikan, sebagai penyelenggara fintech p2p lending, pihaknya menjembatani pemilik dana (lender) untuk menginvestasikan dananya kepada penerima pembiayaan (borrower) sebagai modal kerja ataupun kebutuhan lain. Bagi penyelenggara fintech p2p lending syariah kini bisnis di ekonomi syariah termasuk telah merekah.

"Perkembangan dua tahun terakhir yang paling tidak kita alami di Dana Syariah, permohonan pengajuan pembiayaan dengan skema syariah ini luar biasa banyaknya. Di sisi lain banyak pendana syariah yang masuk ke kita dengan pertumbuhan yang luar biasa. Sebagai gambaran, tahun lalu kita menyalurkan Rp 250 miliar selama satu tahun. Di tahun 2020, walaupun ada pandemi ada pertumbuhan pendanaan 200% lebih, itupun belum seluruh permohonan pembiayaan kami carikan lender-nya karena masih ada antrian," papar dia.

Taufiq menegaskan, jadi bisnis syariah sudah merekah tapi belum secara merata, karena sebaran infrastruktur syariah pun belum merata. Banyak dari penyelenggara masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera sehingga mengganggu percepatan pertumbuhan. Tetapi hal demikian mempertegas fungsi kehadiran fintech p2p lending dengan cara baru yakni melalui pendekatan teknologi.

"Cara baru ini menjadi lebih mudah, cepat, tidak ada batas waktu, tanpa batas tempat, ini bisa dilakukan secara daring melalui fintech p2p lending. Dana Syariah sebagai fintech p2p lending syariah itu tumbuh luar biasa dan itu belum bisa menjangkau seluruh market, yakni para borrower atau lender yang dananya ingin diinvestasikan. Jadi bisnis syariah di fintech p2p lending itu sudah merekah, bahkan kita ditantang untuk melayani lebih banyak lagi pembiayaan," ucap dia.

Dia mengatakan, jasa keuangan syariah hanya butuh didorong oleh ekosistem ekonomi syariah. Diantaranya perlu didorong dengan dukungan akademisi, pemerintah, regulator, dan pelaku usaha. Termasuk yang tak kalah penting adalah menggenjot Inklusivitas karena tantangan terkait ekosistem.

"Kita mesti juga mensosialisasikan bahwa kita bisa merambah melalui teknologi. Kita tumbuh 200%, apalagi jika di luar pandemi? Kami yakin teman-teman fintech p2p lending lain juga begitu," tandas Taufiq.

Yoga Prasetyo, Pimpinan Unit Usaha Syariah Allianz Life dalam diskusi Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV
Yoga Prasetyo, Pimpinan Unit Usaha Syariah Allianz Life dalam diskusi Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV

Sedangkan Pimpinan Unit Usaha Syariah Allianz Life Yoga Prasetyo menyatakan, pihaknya masih mampu mencatatkan kinerja mentereng sampai paruh pertama tahun ini. Kontribusi kotor perseroan tumbuh 4,3% (yoy), lebih tinggi dari peningkatan kontribusi bruto sebesar 2,9% (yoy) pada industri asuransi jiwa syariah. Kinerja positif juga dicatatkan total aset yang naik 5,1% (yoy) menjadi Rp 3,2 triliun.

Dia menuturkan, pandemi pun mendatangkan berkah tersendiri terhadap bisnis asuransi syariah. Masyarakat kini lebih memperhatikan proteksi diri dengan niat membeli produk asuransi.

"Alasan masih mampu positif, di pandemi secara umum kesadaran orang terhadap hal-hal memproteksi diri seperti meningkatkan kesehatan dan imunitas, sampai perlindungan asuransi itu mulai dicari. Jadi orang mulai mencari perlindungan asuransi jiwa. Dana pihak ketiga (DPK) di beberapa bank diketahui malah ada pertumbuhan signifikan, masyarakat ini juga melihat untuk mengalihkan dananya untuk berasuransi," ungkap dia.

Mengenai penetrasi yang rendah, kata dia, karena asuransi masih banyak fokus mendorong pasar dengan segmen kalangan kelas atas. Tetapi ke depan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi mulai bergeliat naik, segmen masyarakat kelas menengah kebawah pun mulai ditargetkan ikut dirambah.

"Apalagi berbagai platform digital kini sudah membantu kita untuk menjual produk asuransi. Ini sudah berkembang dan sangat membantu," terang Yoga.

Dia menambahkan, langkah awal yang perlu dilakukan para pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk perluasan pangsa pasar khususnya pada asuransi syariah adalah terkait perbedaan dengan asuransi konvensional.

Menurut Yoga, asuransi konvensional lebih pada jual beli risiko, sedangkan asuransi syariah lebih pada penggalangan dana dengan mekanisme tolong menolong. Hal tersebut menjadi tantangan bersama. Meski tidak menyelesaikan sepenuhnya permasalahan, namun setidaknya masyarakat mulai mengetahui alasan untuk memilih asuransi syariah.

Permasalahan Struktural

Dian Masyita, pengamat ekonomi syariah, dosen Unpad Bandung, dalam diskusi Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV
Dian Masyita, pengamat ekonomi syariah, dosen Unpad Bandung, dalam diskusi Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV


Di samping itu, Pengamat Ekonomi Syariah, Dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Dian Masyita menyatakan, menggenjot pangsa pasar syariah tidak terlepas untuk menggali akar permasalah atau gangguan yang sebenarnya mempengaruhi lambatnya pertumbuhan itu. Selain inklusi dan literasi, permasalah struktural bahkan telah terlihat dari sisi supply.

Hasil diskusi sejumlah akademisi Unpad misalnya, kata dia, menemukan beberapa struktur yang melemahkan perbankan syariah saat masih bersama induk. Ada kecenderungan bahwa pembagian konsumen yang terjadi tidak terlalu kompetitif, ada keengganan dari bank syariah untuk mengambil pangsa pasar konvensional induk.

"Kemudian, marketing fund juga relatif lebih kecil. Ini terlihat simpel tapi sebenarnya memiliki banyak perubahan jika dibenahi. Payroll juga menarik untuk dibahas, karena biasanya lahan itu diambil alih oleh konvensional. Kalau payroll dialihkan dengan benar ke perbankan syariah misalnya, akan besar efeknya," ucap dia.

Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Menanti Bisnis Syariah Merekah, Live di BeritaSatu TV, Kamis (24/9/2020). Sumber: BSTV

Dian mengatakan, oleh karena itu pendekatan penggabungan usaha (merger) perbankan syariah BUMN akan membuat skala ekonomi syariah menjadi besar. Begitu juga struktur biaya yang akan lebih murah. Apalagi masing-masing bank punya segmen yang berbeda, sehingga ketika mereka bergabung, cakupan pasarnya bakal cukup besar.

"Di ekonomi syariah itu penting untuk sangat efisien dan efektif, artinya paling penting mereduksi cost. Apalagi jika didukung infrastruktur, kebijakan, SDM yang bagus dan inovatif, ini akan bagus," kata dia.

Dia menambahkan, terus menggali ceruk bisnis untuk memenuhi kebutuhan nasabah juga perlu dilakukan dengan cermat. Gambaran besar saat merancang produk misalnya, setidaknya harus berorientasi hingga dua tahun setelah pandemi. Alhasil, industri jasa keuangan syariah tidak hanya tumbuh tapi terus beradaptasi dengan struktur yang kuat secara berkesinambungan.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN