Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jahja setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Beritasatumedia Photo/DEFRIZAL

Jahja setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Beritasatumedia Photo/DEFRIZAL

Pelonggaran LTV, Bank Sesuaikan Profil Risiko Nasabah

Nida Sahara, Jumat, 20 September 2019 | 08:31 WIB

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) kembali melonggarkan kebijakan rasio loan to value (LTV) atau uang muka (down payment/DP) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan juga kredit kendaraan bermotor (KKB). Hal tersebut membuat industri perbankan akan lebih selektif dan menyesuaikan profil risiko nasabah sebelum memberikan DP yang murah.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menyebut langkah yang dilakukan bank sentral positif. Namun, perseroan tentu akan melihat profil risiko dari calon debitur sebelum memberikan DP yang rendah.

"LTV kami sesuaikan dengan credit profile nasabah, yang penting sudah ada dukungan BI. Pelaksanaan akan disesuaikan dengan risk apetite masing-masing bank," jelas Jahja ketika dihubungi Investor Daily, Kamis (19/9).

Menurut Jahja, pihaknya tidak akan memberikan DP yang rendah kepada calon debiturnya. Hal tersebut untuk mencegah terjadinya kredit macet, untuk itu diperlukan kehati-hatian dari bank. "Karena LTV terlalu besar juga bahaya buat risikonya," lanjut Jahja.

Senada, SVP Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan industri perlu lebih prudent dalam memberikan kredit properti maupun otomotif kepada nasabahnya. Hal ini supaya tidak menjadi rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). "Makanya harus lebih hati-hati atau ekstra prudent," imbuh Ryan.

Menurut dia ,kemungkinan suku bunga kredit konsumer dapat lebih cepat diturunkan perbankan. Hal tersebut karena adanya pelonggaran LTV dari bank sentral. Meski demikian, Ryan menyebut dampak pelonggaran kebijakan tersebut tidak akan langsung terasa. "Mungkin efeknya tidak tahun ini karena tinggal tiga bulan, tetapi di 2020 baru efeknya nyata," ungkap Ryan.

Direktur Keuangan BNI Ario Bimo juga menyebutkan, adanya relaksasi kebijakan dari BI diharapkan dapat meningkatkan permintaan dan penyaluran kredit perseroan. "Apalagi ditambah dengan berbagai keringanan yang juga diberlakukan, mulai dari LTV hingga financing to value. Keringanan tersebut dapat membuat kami mendorong fungsi intermediasi perbankan menjadi lebih optimal, khususnya mendongkrak kredit konsumtif," terang Bimo.

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA