Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pembiayaan Berkelanjutan Bank Capai Rp 809,5 Triliun

Selasa, 2 November 2021 | 16:19 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sebanyak 50% bank yang mewakili 91% aset pasar perbankan Indonesia menunjukkan komitmen dalam penerapan keuangan berkelanjutan (sustainable finance). Total pembiayaan dari perbankan terkait keuangan berkelanjutan tercatat mencapai Rp 809,05 triliun.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan, komitmen OJK dalam mengakselerasi keuangan berkelanjutan telah diwujudkan dalam penerbitan Roadmap Keuangan Berkelanjutan pada 2015-2019 dan dilanjutkan pada tahap kedua pada 2020 hingga 2024.
Sasaran strategis Roadmap Keuangan Berkelanjutan meliputi terciptanya ekosistem yang mendukung percepatan keuangan berkelanjutan, peningkatan pasokan dan permintaan dana dan instrumen keuangan yang ramah lingkungan, serta penguatan pengawasan dan koordinasi dalam penerapan keuangan berkelanjutan di Indonesia.
“Di sektor perbankan, total pinjaman terkait keuangan berkelanjutan tercatat sebesar US$ 55,9 miliar (Rp 809,75 triliun). Hampir 50% bank di Indonesia yang mewakili 91% dari total aset pasar perbankan Indonesia menunjukkan komitmen yang meningkat dalam menerapkan keuangan berkelanjutan, yang diukur dari Laporan Keberlanjutan mereka,” kata Wimboh memaparkan melalui siaran pers, Selasa (2/11).
Selain pembiayaan berkelanjutan dari bank tersebut, data terkini dari OJK juga memaparkan bahwa penerbitan green bond di pasar domestik tercatat US$ 35,12 juta atau sekitar Rp 500 miliar, mencakup 0,01% dari total outstanding bond.
Sementara global sustainability bond yang diterbitkan oleh emiten Indonesia telah mencapai lebih dari US$ 2,22 miliar atau Rp 31,6 triliun. Kemudian portofolio blended finance telah mendapatkan komitmen sebesar US$ 2,46 miliar atau senilai Rp 35,6 triliun. Indeks SRIKehati ESG telah membuktikan ketangguhannya selama pandemi dan mengungguli indeks harga saham gabungan (IHSG).

OJK telah menyiapkan empat langkah strategis penerapan prinsip keuangan berkelanjutan.

Wimboh dalam Ministerial Talks on "Achieving Ambitious Target on GHG Emission Reduction" yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Paviliun Indonesia sebagai bagian dari COP 26, Glasgow, Skotlandia, menegaskan komitmen jangka panjang OJK dalam melaksanakan kebijakan keuangan berkelanjutan. Terutama untuk mendukung upaya dunia menuju program ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.
"OJK memegang komitmen jangka panjang terhadap Sustainable Finance untuk memastikan kelancaran transisi menuju ekonomi rendah karbon. OJK terus mendukung komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Perjanjian Paris serta langkah negara untuk mencapai tujuan Net Zero Emission," ucap dia.
Wimboh menuturkan, OJK telah memantau risiko terkait perubahan iklim serta krisis energi yang menambah tekanan pada ekonomi global. Tingginya biaya transisi ke ekonomi rendah karbon membawa tantangan dalam mempercepat implementasi pembiayaan berkelanjutan di negara berkembang. Risiko perubahan iklim tersebut harus diperlakukan sebagai prioritas tinggi dan perlu dikurangi dengan upaya kolaboratif seluruh pemangku kepentingan.
Adapun Sustainable Banking and Finance Network (SBFN) pada tahun 2021 memasukkan Indonesia, Republik Rakyat Tiongkok dan Kolombia sebagai negara dalam tahap konsolidasi regulasi keuangan berkelanjutan, selangkah lebih maju dari tahapannya.
Dalam hal ini, OJK telah menyiapkan empat langkah strategis penerapan prinsip keuangan berkelanjutan. Pertama, penyelesaian penyusunan Taksonomi Hijau Indonesia yang akan diluncurkan awal tahun depan. Kedua, pengembangan kerangka manajemen risiko untuk industri dan pedoman pengawasan berbasis risiko bagi pengawas dalam rangka penerapan risiko keuangan terkait iklim.
Ketiga, mengembangkan skema pembiayaan atau pendanaan proyek yang inovatif dan feasible terhadap keuangan berkelanjutan. Serta keempat yaitu meningkatkan awareness dan capacity building untuk seluruh pemangku kepentingan.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN