Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ngobrol bareng Pemred dan Himbara, di Jakarta, Rabu (6/1/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Ngobrol bareng Pemred dan Himbara, di Jakarta, Rabu (6/1/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

KETUA HIMBARA SUNARSO:

Penghargaan Kredit Macet UMK Mendongkrak Kredit

Kamis, 7 Januari 2021 | 10:54 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id) ,Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Penghapusan kredit macet dan akses untuk mendapatkan kredit baru bagi usaha mikro dan kecil (UMK) dengan nilai Rp 5 miliar ke bawah merupakan solusi penting untuk mendongkrak laju pertumbuhan kredit. Dengan memberikan kredit baru kepada UMK, ekonomi akan pulih lebih cepat.

Penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sangat menentukan pertumbuhan kredit. Saat pandemi Covid-19, banyak UMKM yang terkapar.

“Jika tidak bisa semua kredit macet UMKM, paling tidak, kredit kepada UMK dengan nilai pinjaman Rp 5 miliar ke bawah diputihkan. Jika ini dilakukan, dampaknya akan sangat dahsyat bagi pertumbuhan kredit dan pemulihan ekonomi,” ungkap Ketua Himbara Sunarso dalam pertemuan awal tahun dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Rabu (6/1/2020).

Ngobrol bareng Pemred dan Himbara, di Jakarta, Rabu (6/1/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Ngobrol bareng Pemred dan Himbara, di Jakarta, Rabu (6/1/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Hadir pada pertemuan bertopik “Mencari Solusi Menumbuhkan Kredit” itu Dirut PT Bank Mandiri Tbk Darmawan Junaidi, Dirut PT BNI Tbk Royke Tumilaar, Plt Dirut BTN Tbk Nixon LP Napitupulu, para direksi empat bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), dan sejumlah pemimpin redaksi.

Sunarso mengatakan, banyak debitur UMKM yang terlibat program lama dan belum terbayar hingga saat ini. “Bank belum berani hapus, itu aset negara, paling responsif dan elastis kalau ditambah satu yaitu selesaikan. Kalau dihapus itu aset negara atau bukan, itu akan meningkatkan daya jelajah kita,” terang Sunarso yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Jumlah UMKM, Kredit UMKM, dan Jumlah Kredit macet UMKM
Jumlah UMKM, Kredit UMKM, dan Jumlah Kredit macet UMKM

Menurut dia, dengan kejelasan tersebut diperkirakan bisa membuat pelaku UMKM kembali bangkit dan dapat meminjam kredit di perbankan lagi. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan dari pemangku kepentingan atau stakeholder.

“Dengan stakeholder beri kelonggaran kredit, sebut saja UMK yang punya masalah masa lalu bisa dipulihkan, supaya bisa lincah kembali, beroperasi lagi. Supaya bisa dapat akses kredit lagi,” tutur dia.

Keempat dirut bank anggota Himbara menyatakan, mereka bisa saja memacu laju pertumbuhan kredit hingga dua digit. Tapi, kondisi riil ekonomi nasional dan kondisi internal bank tidak memungkinkan untuk memacu pertumbuhan kredit tahun 2021 lebih dari 5%.

Solusi menumbuhkan kredit
Solusi menumbuhkan kredit

“Kita harus bijaksana melihat peluang untuk mendongkrak laju pertumbuhan kredit dan mencari tahu struktur dasar masalah yang membuat kredit sulit dipacu lebih tinggi,” ujar Sunarso.

Menurut dia, penurunan suku bunga bukan satu-satunya variable yang menentukan kenakan laju ekspansi kredit. Setelah diuji secara ekonometri, kata Sunarso, ternyata banyak variebel yang menentukan pertumbuhan kredit.

Pertama, demikian Sunarso, kredit sulit didongkrak saat daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga menurun. Kedua, kredit sulit didongkrak selama UMKM tidak memiliki kekuatan beraktivitas dan bertumbuh.

“Ini variabel yang harus jadi fokus kita. Sudah tepat pemerintah keluarkan stimulus, yang terima stimulus itu masyarakat bawah, pengusaha mikro dan kecil. Jadi yang harus disentuh adalah lapis bawah dengan stimulus,” ucap dia.

Market share perbankan umum
Market share perbankan umum

Sunarso memaparkan, berdasarkan data tahun 2010 di mana suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menurun, diikuti juga dengan penurunan suku bunga lainnya di perbankan. Namun, ketika suku bunga acuan BI naik di tahun 2018, perbankan justru kembali menurunkan suku bunganya. Menurut dia, suku bunga bukan pengaruh utama pertumbuhan kredit perbankan.

“Pertama, loan growth kita adu dengan suku bunga. Pada saat bunga kredit relatif tinggi 2010-2014 loan growth kita paling tinggi double digit. Kemudian kita lihat sampai 2014 KUR generasi pertama, tidak ada subsidi bunga hanya premi penjaminan, bunga 22% tapi kredit tumbuh tinggi,” imbuh Sunarso.

Lalu, memasuki tahun 2015, pemerintah memberikan subsidi bunga KUR dari 22% menjadi 7% yang dibayar nasabah.

“Apa yang terjadi ketika suku bunga diturunkan itu? Ternyata penurunan suku bunga kredit ini tidak diikuti pertumbuhan kredit,” sambung dia.

Di BRI sendiri, segmen yang bisa tumbuh cepat adalah usaha mikro, tercermin pada pertumbuhan kredit mikro BRI bisa tumbuh dua digit. Sebaliknya, kredit menengah sulit tumbuh, dan korporasi dengan sengaja tidak ditumbuhkan oleh perseroan.

“Data ini benar-benar terpakai, konsumsi rumah tangga dan daya beli, stimulus harus diarahkan ke situ. Kita ramai-ramai alokasikan resources,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN