Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Profil dan perkembangn fintech lending

Profil dan perkembangn fintech lending

Penyaluran Berkurang, Pembiayaan Fintech Lending Tumbuh Melambat

Selasa, 14 Juli 2020 | 05:03 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Penyaluran pembiayaan industri fintech p2p lending tercatat tumbuh melambat pada periode Mei 2020. Hal itu salah satunya karena para penyelenggara yang menggarap sektor multiguna atau konsumtif mengurangi penyaluran pembiayaan baru.

Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede menyampaikan, mengutip data OJK, penyaluran pembiayaan fintech p2p lending selama pandemi Covid-19 memang tercatat melambat. Penyebabnya adalah beberapa penyelenggara mengurangi penyaluran pembiayaan, khususnya sektor konsumtif.

“Memang masih ada peningkatan penyaluran dari April ke Mei 2020 sebesar 3,12%, namun jika dibandingkan dari April-Mei tahun lalu yang masih 10,87%, peningkatannya melambat 7,75%. Hal ini karena para penyelenggara fintech p2p lending khususnya sektor multiguna (konsumer) agak mengurangi penyaluran pinjaman baru untuk mengantisipasi gagal bayar,” kata Tumbur saat webinar, Senin (13/7).

Secara rinci, pada periode Mei 2020 total penyaluran pembiayaan sebesar Rp 109,18 triliun, atau hanya naik 3,12% dari posisi April 2020 sebesar Rp 106,06 triliun. padahal penyaluran pembiayaan pada Mei 2019 tercatat naik 10,87% menjadi sebesar Rp 41,03 triliun, dari posisi April 2019 sebesar Rp 37,01 triliun.

Begitu juga penyaluran April 2020 yang hanya tumbuh 3,57% dari posisi Maret 2020 sebesar Rp 102,53 triliun. Sedangkan pada April 2019, pembiayaan sempat naik 11,48% dari Maret 2019 sebesar Rp 33,20 triliun. Meski demikian, akumulasi penyaluran pembiayaan fintech p2p lending per Mei 2020 tercatat naik 166,03% dari posisi Mei 2019.

Sementara itu, Ketua Harian AFPI Kuseryansyah menambahkan, secara umum penurunan terjadi hampir pada sebagian besar penyelenggara fintech p2p lending selama masa pandemi Covid-19. Namun ada beberapa sektor yang terjadi peningkatan penyaluran pembiayaan khususnya di sektor produktif.

Lebih lanjut, dia memaparkan, pembiayaan yang dimaksud adalah di sektor kesehatan seperti UMKM farmasi dan alat pendukung kesehatan. Begitu juga sektor yang terkait distribusi pangan, produk agrikultur, makanan kemasan. Sektor telekomunikasi dan online ecosystem yang menjadi layanan juga semakin banyak digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari dan berpotensi untuk berkembang terus seiring pergeseran perilaku konsumsi masyarakat.

“Dimasa wabah Covid-19 ini, industri fintech p2p lending akan menjaga kinerja positif dengan selektif menyalurkan pembiayaan khususnya ke peminjam baru. Dengan demikian diharapkan dapat menjaga peran aktif fintech p2p lending untuk meningkatkan pendanaan bagi masyarakat yang selama ini belum tersentuh lembaga keuangan formal," ucap Kuseryansyah.

Dia menambahkan, hal ini mengingat kebutuhan pembiayaan masyarakat sangat besar yakni lebih dari Rp 1.000 triliun. Diharapkan penyelenggara fintech p2p lending yang saat ini tercatat sebanyak 158 entitas bisa berperan banyak untuk ikut memenuhi kebutuhan itu.

Fintech Lending Ilegal

Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV
Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko. Sumber: BSTV


Di sisi lain, AFPI kembali mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan penawaran pinjaman online atau fintech peer to peer (p2p) lending illegal. Karena sejumlah penyelenggara fintech p2p lending legal yang merupakan anggota AFPI lebih selektif menentukan penyaluran pinjaman baru selama pandemi untuk mengantisipasi tingginya gagal bayar.

Nampaknya hal tersebut memang terjadi, per Mei 2020, tingkat keberhasilan 90 hari (TKB 90) tercatat sebesar 94,90%. Posisi itu terhitung terus merosot sejak terakhir kali sempat menguat pada Februari 2020 sebesar 96,08%.

Wakil Ketua Umum AFPI, Sunu Widyatmoko mengatakan asosiasi secara konsisten memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak meminjam kepada fintech p2p lending illegal agar tidak terjerat masalah di kemudian hari. Fintech p2p lending illegal tersebut tidak ada perlindungannya kepada nasabah karena tidak terdaftar di OJK.

“Dimasa pandemi Covid-19 ini, tingkat kebutuhan dana masyarakat semakin meningkat. Inilah yang dimanfaatkan pelaku fintech illegal yang mengiming-imingi pinjaman dengan syarat-syarat yang sangat mudah. Namun ujung-ujungnya akan merugikan masyarakat, karena fintech illegal ini sering menyalahgunakan data-data peminjamnya. Adapun fintech legal atau anggota AFPI hanya boleh mengakses data peminjam berupa CAMILAN (camera, microphone dan location),” kata Sunu.

Selain itu, dia mengemukakan, AFPI sangat menunggu dan memberikan perhatian besar terhadap adanya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Untuk saat ini, sebagai bagian dari perlindungan terhadap industri fintech p2p lending, AFPI sudah memiliki pusat data fintech atau Fintech Data Center (FDC) yang bermanfaat untuk meminimalisir penyalahgunaan data konsumen.

“AFPI ingin meminimalisir tingkat fraud dan mencegah efek negatif dari industri ini, dan saat ini AFPI telah memiliki FDC serta code of conduct atau kode etik yang mengatur semua anggota,” tambah Sunu.

Berdasarkan penemuan Satgas Waspada Investasi (SWI) sepanjang bulan Juni 2020, SWI berhasil menemukan 105 fintech p2p lending ilegal yang menawarkan pinjaman ke masyarakat melalui aplikasi dan pesan singkat di telepon genggam. Sementara itu total fintech p2p lending ilegal yang telah ditangani SWI sejak tahun 2018 sebanyak 2.591 entitas.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN