Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu saat acara Majalah Investor Awards: Best Bank 2022, Senin (30/5/2022).

Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu saat acara Majalah Investor Awards: Best Bank 2022, Senin (30/5/2022).

Perbankan Nasional dalam Kondisi Sehat Walafiat

Senin, 30 Mei 2022 | 20:31 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Konsolidasi kinerja keuangan perbankan nasional dinilai berjalan dengan baik. Hal tersebut tercermin dari sejumlah indikator keuangan yang bergerak positif dan kian solid.

Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu menyampaikan, aset perbankan nasional per Februari 2022 naik 10,3% secara year on year (yoy) menjadi Rp 10.062 triliun. Perbankan nasional juga membukukan laba bersih Rp 30,9 triliun, naik 43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Advertisement

"Kondisi perbankan saat ini boleh disebut dalam keadaan yang sehat walafiat. Pada Maret 2022, kredit tumbuh 6,6% secara year on year menjadi Rp 5.862 triliun. Februari 2022, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 11,1% (yoy) menjadi Rp 7.384 triliun," kata Primus dalam sambutannya di acara Majalah Investor Awards: Best Bank 2022, Senin (30/5/2022).

Baca juga: Ini Tujuh Tantangan bagi Perbankan Nasional

Dia menjelaskan, meski kredit perbankan melaju cukup kencang, kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) relatif terus menurun. NPL net perbankan pada Februari 2022 mampu dijaga di level 0,8%. Posisi itu turun dari 1,1% per Desember 2019.

"Selama dua tahun pandemi Covid-19 yakni pada 2020 dan 2021 ada pembengkakan NPL, tapi dengan kebijakan restrukturisasi dan program relaksasi yang digulirkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPL dapat dijaga pada level yang aman," ujar Primus.

Dia pun mengungkapkan, membaiknya kinerja perbankan nasional juga terlihat pada perkembangan loan at risk (LAR). LAR merupakan indikator risiko batas kredit yang disalurkan, risiko itu terdiri atas kredit kolektibilitas I yang telah direstrukturisasi, kredit kolektibilitas II atau dalam perhatian khusus, dan NPL.

Baca juga: 18 Bank Raih Penghargaan Bank Terbaik 2022

Sempat melambung pada masa pandemi, LAR sempat mencapai 23,4% pada Desember 2020. Namun, LAR sudah turun di level 18,8% pada Maret 2022.

Menurut dia, pulihnya aktivitas ekonomi Indonesia akan mengurangi LAR. Apalagi, setelah PDB Indonesia pada kuartal I-2022 melaju 5,0%, ekonomi Indonesia diyakini kembali melaju 6% pada kuartal II-2022. Pada tahun ini, bahkan banyak analis yang memperkirakan ekonomi bahkan tumbuh 6,5% di tengah ancaman kenaikan inflasi dunia.

Kondisi perbankan yang sehat juga ditopang oleh rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) per Februari 2022 sebesar 25,8%. Kondisi CAR perbankan tahun ini bahkan lebih bagus dibandingkan periode sebelum pandemi, pada tahun 2019, CAR perbankan 23,4%.

Baca juga: BI: Bunga Kredit dan Simpanan Perbankan Turun pada April 2022

Sejak 2018, kata dia, perbankan pun mulai menurunkan suku bunga pinjaman. Namun, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang dinikmati perbankan masih cukup tebal. "Pada Februari 2022, NIM perbankan nasional 4,5%, turun tipis dari 5,1% tahun 2018 sebelum pandemi," tutur Primus.

Terlepas dari sejumlah indikator tersebut, dia juga menyoroti perkembangan pesat dari digital banking. Dalam hal ini, Primus menilai bahwa biaya operasional perbankan masih relatif tinggi. Tercermin dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang masih lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu.

"BOPO per Februari 2022 di level 80,6%. Memang turun dari 86,6% per Desember 2020, namun masih tinggi dibandingkan BOPO 2018 sebesar 77,9%," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN