Menu
Sign in
@ Contact
Search
Nasabah  mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan (multifinance) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan (multifinance) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Peringatan untuk Multifinance: Hati-hati Tahun 2023!

Kamis, 29 September 2022 | 19:27 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Situasi perekonomian domestik dan global tahun 2023 diprediksi bakal cukup menantang, sehingga berpotensi meningkatkan eksposur risiko industri pembiayaan (multifinance). Karena itu, pelaku usaha di sektor ini diharapkan lebih hati-hati dalam setiap kebijakannya.

Kepala Departemen Pengawas IKNB 2B OJK Bambang W Budiawan menyampaikan, beberapa faktor berpotensi menciptakan eksposur risiko yang lebih tinggi di sisa tahun ini dan tahun depan. Hampir semua indikator perekonomian global dan domestik berpotensi menurun, sehingga berdampak pada stabilitas dan pertumbuhan industri multifinance.

Baca juga: Mandala Multifinance (MFIN) Buka Ruang Kerjasama Pembiayaan Motor Listrik

"Lebih dari itu, kita harus berupaya untuk memitigasi potensi risiko di masa mendatang. Hal ini penting bagi perusahaan pembiayaan atau multifinance untuk secara konsisten berhati-hati dalam setiap kebijakannya," kata Bambang pada suatu seminar, dikutip pada Kamis (29/9/2022).

Menurut dia, beberapa dampak potensial yang perlu menjadi perhatian multifinance meliputi tren ekonomi, risiko geopolitik, kebijakan moneter terkait suku bunga acuan akibat peningkatan inflasi, potensi dampak kenaikan harga BBM, dan konflik antara Rusia dan Ukraina.

Baca juga: Kebijakan Restrukturisasi Pembiayaan di Multifinance Berpotensi Tidak Diperpanjang

Selain itu, kinerja industri otomotif sebagai salah satu kontributor utama portofolio bisnis multifinance juga menghadapi gangguan dari sisi pasokan karena terbatasnya pasokan semikonduktor.

"Dalam hal ini, OJK berharap industri multifinance meningkatkan kapasitas pencadangan dengan tepat, menyesuaikan pergerakan, dan potensi NPF. Terutama, bagi multifinance yang sedang memberikan fasilitas restrukturisasi pembiayaan kepada debitur," jelas Bambang.

Baca juga: Laba Naik 26,7%, Multifinance Makin Tajir

Dia pun mengungkapkan, penting melakukan stress test secara berkala untuk mensimulasikan dampak dari kemungkinan skenario yang merugikan kinerja perusahaan. Stress test juga diperlukan terkait portofolio restrukturisasi sebagai benchmark untuk menilai kecukupan pencadangan guna menyerap risiko di masa mendatang.

Per Juli 2022, total aset industri multifinance mencapai Rp 451,9 triliun atau meningkat atau 4,5% (year on year/yoy). Piutang pembiayaan juga membaik, naik 7,12% (yoy) menjadi Rp 384,6 triliun. Diikuti, pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross sebesar 2,72%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com