Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Pertumbuhan Pesat Fintech Lending Jadi Potensi Bisnis Asuransi Umum

Senin, 30 Mei 2022 | 04:30 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan pesat industri fintech p2p lending dinilai menjadi potensi baru bagi industri asuransi umum di Indonesia mengoptimalkan lini bisnis asuransi kredit. Meski momentum ini harus segera dimanfaatkan, asuransi umum diimbau untuk tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan menyampaikan, outstanding pinjaman fintech p2p lending mencapai Rp 37,39 triliun atau tumbuh 96,39% per Maret 2022. Munawar bilang, volume dan angka pertumbuhan itu dapat dipandang sebagai potensi bagi asuransi umum.

Advertisement

"Tentu teman-teman di industri asuransi bisa melihat ini sebagai potensi, sebelum nantinya kita bicara risiko. Karena ada penyaluran dana yang sangat besar, baik di Jawa maupun luar Jawa," kata dia dalam webinar AAUI bertajuk ‘Asuransi Kredit untuk Pinjaman Fintech P2P Lending: Peluang atau Ancaman?’, akhir pekan lalu.

Potensi juga dapat dilihat dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) yang proyeksi penyaluran pinjaman baru fintech p2p lending tahun 2022 mencapai Rp 225 triliun. Nilai itu tumbuh 45,16% dibandingkan realisasi pinjaman baru 2021 sebesar Rp 155 triliun.

Baca juga: 175 Ribu Retail Lender Akseleran Dukung Penyaluran Pinjaman Rp 1,1 T

Munawar menyatakan, pemberian asuransi kredit bagi setiap pinjaman yang disalurkan merupakan bagian dari upaya memitigasi risiko dan perlindungan konsumen. Apalagi fintech p2p lending hanya bertindak sebagai penghubung antara peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender), serta menempatkan lender sebagai insurable interest.

Lebih lanjut, dia bilang bahwa skema asuransi kredit pada pendanaan di fintech p2p lending nantinya bisa diatur sedemikian rupa oleh platform dan perusahaan asuransi. Hal yang perlu dipastikan adalah tetap menjaga perlindungan konsumen, termasuk memastikan skema pembayaran klaim.

"Kalau model yang dilakukan itu adalah stop loss, ada potensi bahwa lender bisa tidak terbayarkan ketika ada klaim. Misalnya lender-lender bagian akhir yang sudah bayar premi tapi tidak bisa mendapatkan klaim. Ini harus didiskusikan antara platform dan perusahaan asuransi, jangan sampai merugikan lender hanya karena limit sudah tercapai," jelas Munawar.

Menilik risiko lebih jauh, rasio kualitas pinjaman di fintech p2p lending tergambarkan melalui tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) di level 97,68%. Artinya, pinjaman macet atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP) sebesar 2,32%. Data OJK menunjukkan bahwa kualitas pinjaman fintech p2p lending terus menguat sepanjang sepanjang Januari-Maret 2022.

Baca juga: Perhatian! Sarana Menara Nusantara (TOWR) Bakal Bagikan Dividen Rp 1,2 T

Kualitas pinjaman tersebut pun relatif lebih baik dibandingkan kualitas kredit (non performing loan/NPL) perbankan di level 2,99% per Maret 2022. Kualitas pinjaman dari fintech p2p lending yang digambarkan melalui TWP 90 juga lebih baik dibandingkan kualitas pembiayaan (non performing financing/NPF) dari multifinance sebesar 2,78%.

Risiko lain adalah mencatat pinjaman direstrukturisasi fintech p2p lending karena pandemi Covid-19 mencapai Rp 1,35 triliun per Oktober 2021. Di saat yang sama, sepanjang Januari-Oktober 2021 pinjaman baru mencapai Rp 129,38 triliun, sehingga pinjaman direstrukturisasi hanya mencakup 1,04%.

Jaga Prinsip Kehati-hatian

Di sisi lain, Adhika Nurbuditya dari Departemen Asuransi Kredit Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan bahwa tidak semua pinjaman dari fintech p2p lending dapat diasuransikan karena setiap produk memiliki tingkat risiko yang berbeda. Oleh karena itu, perusahaan asuransi perlu lebih dulu membuat skema untuk bisa mendapat gambaran tentang karakteristik dan risiko dari setiap produk.

"Pemahaman akan produk dan karakteristik fintech p2p lending itu menjadi sangat penting. Tidak serta merta (perusahaan) sudah digital dan lainnya, tapi di satu sisi tidak paham bisnisnya dan hanya ikut-ikutan saja. Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa risiko fintech itu tinggi, tapi beberapa produk bisa digunakan untuk kita bisa masuk ke sini," kata Adhika.

Baca juga: Berikut Daftar Emiten dengan Praktik Tata Kelola Terbaik

Dia menambahkan, keputusan untuk menggarap bisnis asuransi kredit di fintech p2p lending tergantung pada risk appetite setiap perusahaan asuransi. Di samping itu, perusahaan asuransi harusnya juga sudah sadar bahwa pertumbuhan penyaluran pinjaman fintech p2p lending sudah sangat cepat.

"Saya takut kita telat masuk, saya khawatirkan seperti itu. Tapi kalau memang Bapak/Ibu (perusahaan asuransi) belum siap, coba kita pelajari pelan-pelan dari sisi produk, apa yang perlu kita lakukan dari sisi risiko kredit, termasuk kolaborasi. Dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, bisa membuat ancaman menjadi peluang untuk kita bisa memperoleh premi yang cukup signifikan dan kontribusi positif dari fintech p2p lending," ujar Adhika.

Data AAUI mencatat lini bisnis asuransi kredit berhasil membuahkan premi senilai Rp 13,68 triliun atau mencakup pangsa pasar sebesar 17,5% pada akhir 2021. Asuransi kredit sendiri masuk tiga besar penghasil produksi premi terbesar bagi asuransi umum Indonesia, dalam tiga tahun belakangan.

Terlepas dari potensi yang ada, perusahaan asuransi yang menggarap bisnis asuransi kredit turut diimbau meramu kebijakan harga yang sesuai. Sehingga bisa mendukung keberlangsungan hidup perusahaan asuransi dalam jangka panjang.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN