Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi online. (ist)

Ilustrasi asuransi online. (ist)

Premi Insurtech Rp 811,71 Miliar, OJK Optimistis Kontribusi Makin Besar

Rabu, 14 April 2021 | 21:10 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Untuk itu, hadirnya insurtech diyakini akan memberikan kontribusi yang semakin besar, terlihat dari perolehan premi tahun 2020 sebesar Rp 811,71 miliar.

Kepala Departemen Pengawas IKNB 1B OJK Heru Juwanto mengatakan, masih cukup ruang bagi pelaku industri asuransi melakukan inovasi digital seperti insurtech. Dengan memberi layanan secara digital, masyarakat dapat lebih mudah memiliki produk asuransi, sehingga pendapatan premi meningkat dan juga penetrasi asuransi juga naik.

Menurut dia, saat ini pelaku insurtech masih fokus pada digitalisasi distribusi penjualan bekerja sama dengan pialang asuransi. "Tahun 2020 OJK mencatat premi insurtech dengan pialang asuransi atas penjualan produk sebesar Rp 811,71 miliar, atau 1,06% dari total premi asuransi umum. Angka ini menggembirakan, OJK meyakini kontribusi insurtech akan semakin besar seiring dengan pertumbuhan digital," terang Heru dalam webinar, Rabu (14/4).

Heru mengungkapkan, kehadiran insurtech di Indonesia terlihat 2-3 tahun terakhir. Pesatnya teknologi informasi membuat insurtech bisa memberikan layanan digital dan juga mendapat izin usaha dari OJK dengan bekerja sama dengan asuransi atau pialang asuransi untuk pengembangan proses underwriting.

"Diharapkan insurtech bisa menggenjot penetrasi yang belum pernah digarap asuransi konvensional. Dari data OJK, kontribusi tersebut didukung kerja sama pialang asuransi dengan e-commerce yang ada," kata dia.

Adapun, produk asuransi yang tersedia di e-commerce seperti asuransi kendaraan bermotor, shipping insurance, asuransi layar gadget, dan juga personal accident.

"Selama pandemi, transaksi pembelian produk online itu naik luar biasa bisa 2 kali lipat, untuk elektronik, alat rumah tangga. Ini dibarengi juga dengan asuransi pengiriman, yang pada akhirnya menaikkan premi asuransi sehubungan dengan pembelian produk," jelas Heru.

Menurut dia, peran insurtech tidak hanya sekadar memanfaatkan teknologi untuk distribusi. Namun lebih dari itu bisa memanfaatkan artificial intelligence (AI), big data, blockchain untuk memudahkan proses underwriting. Sepanjang tahun 2020, pendapatan premi industri asuransi sebesar Rp 499,23 triliun, dengan tingkat penetrasi asuransi baru berkisar antara 2,97-3,3%.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe menilai, generasi Z dan milenial akan menjadi penopang pendapatan industri asuransi ke depan terutama insurtech. Sebab, generasi tersebut sangat aktif menggunakan internet dan ponsel, sehingga akan lebih mudah membeli produk asuransi dari insurtech.

"Kita melihat kondisi pandemi ini asuransi harus menggunakan digital, karena sebelum pandemi masih ada yang ragu-ragu, tapi dengan dipaksa pandemi jadi ada terobosan untuk menggunakan teknologi ini," ungkap Dody.

Pihaknya menyampaikan bahwa insurtech bisa mengatasi hambatan yang terjadi di konvensional, ada tiga tantangan yang jadi tujuan insurtech. Pertama, awareness bagaimana pengguna asuransi bisa memahami risiko, karena literasi masih rendah.

Kedua, hambatan akses, untuk mendapatkan produk asuransi diperlukan agen asuransi yang menawarkan, perlu adanya perluasan pemasaran. "Ketiga, affordability, premi asuransi disebut mahal, sehingga dibandingkan kebutuhan primer masih belum menjadi prioritas masyarakat," ujar Dody.

Adapun, implementasi insurtech di asuransi umum masih rendah. Berdasarkan distribusinya, pada tahun 2020 terbesar masih melalui direct marketing sebesar 30%, diikuti dengan broker 23%, lalu agen asuransi 11%, bancassurance 9%, leasing 8%, telemarketing 0,14%, dan internet aplikasi hanya 0,07%. Dengan rendahnya distribusi melalui digital, mengindikasikan masih besar ruang untuk insurtech bertumbuh ke depannya.

"Kami baru data tahun 2020 jadi masih kecil, tapi kami yakin yang direct marketing dan broker di dalamnya ada yang pakai internet, kita akan perdalam kembali platform ini yang jadi distribusi channel," pungkas dia.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN