Menu
Sign in
@ Contact
Search
Askrindo

Askrindo

Produk Bermasalah, Askrindo Hentikan Asuransi Kredit Konsumtif Sejak 2021

Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:49 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) mulai menghentikan pemasaran produk asuransi kredit konsumtif sejak 2021. Produk itu dinilai memiliki banyak masalah, mulai dari aspek cakupan risiko, risiko asuransi, underwriting, durasi perlindungan, mode pembayaran, sampai harga premi.

Direktur Teknik Askrindo Vincentius Wilianto menerangkan, kontribusi premi asuransi kredit menempati posisi ketiga, setelah lini asuransi properti dan kendaraan bermotor di industri asuransi umum. Dua besar produk asuransi kredit yakni program penjaminan KUR dan asuransi kredit konsumtif.

Dari dua jenis produk tersebut, asuransi kredit konsumtif disebut sebagai dalang dari masalah di industri asuransi umum dan reasuransi. Oleh karena itu, sejak awal tahun 2021 Askrindo bersama anak perusahaan Indonesia Financial Group (IFG) lainnya mulai berhenti menerima premi baru, sekaligus melakukan negosiasi ulang dengan pihak bank agar terjadi restrukturisasi.

Baca juga: 2022, Pendapatan Premi Perusahaan Asuransi Capai Rp 205,9 T

"Asuransi kredit Askrindo pada 2018-2019 itu didominasi oleh asuransi kredit konsumtif, imbang dengan penjaminan KUR. Tapi kemudian pada 2021 karena kita stop, itu sudah mulai menurun. Ini yang menyebabkan asuransi kredit tidak lagi dominan di dua tahun terakhir," kata Vincent dalam sebuah seminar, baru-baru ini.

Di lini bisnis ini, Askrindo menjadi salah satu pemain utama. Per semester I-2022, premi asuransi kredit atau penjaminan perseroan mencapai Rp 2,64 triliun atau mencakup pangsa 41,40% dari premi asuransi kredit industri asuransi umum. Penjaminan KUR dan PEN mendominasi portofolio Askrindo dengan nilai mencapai Rp 2,09 triliun.

Dibanding semester I-2021 dengan premi Rp 2,63 triliun, pangsa pasar asuransi kredit atau penjaminan Askrindo sempat mencapai 44,82% dari total premi di industri mencapai Rp 5,87 triliun. Penurunan pangsa pasar pada paruh pertama tahun 2022 ini seiring dengan keputusan perusahaan tidak lagi menggarap asuransi kredit konsumtif.

Baca juga: Industri Perasuransian Didorong Sebar Risiko Domestik ke Luar Negeri

Secara bertahap sejak 2019 porsi asuransi kredit konsumtif terhadap total portofolio Askrindo turun dari 35% pada 2019 menjadi 24% pada 2020, dan kembali susut menjadi 10% pada 2021. Kini pada Juni 2022 asuransi kredit konsumtif Askrindo menyisakan Rp 24 miliar atau mencakup 1% dari portofolio perusahaan.

Sebaliknya, kemampuan perusahaan bertambah untuk melakukan penjaminan KUR sehingga porsi pada portofolio terus meningkat. Pada 2019 sebesar 35%, naik menjadi 44% pada 2020, kembali meningkat menjadi 60% pada 2021, dan akhirnya sebesar 79% pada Juni 2022.

Dia menjelaskan, program KUR berikut produk penjaminan telah lebih baik dibandingkan asuransi kredit konsumtif. Cakupan risiko (risk coverage) penjaminan KUR maksimal 70%. Sedangkan asuransi kredit konsumtif bisa mencapai 70-100%, sehingga dalam hal ini ada produk yang mencakup keseluruhan risiko bank.

Baca juga: Allianz Merek Asuransi Paling Direkomendasikan Masyarakat 

Masalah berikutnya yakni dari sisi profil risiko. Hal ini menjadi penting apalagi seharusnya bank lebih tahu profil risiko nasabahnya, dibandingkan perusahaan asuransi. Proses underwriting yang diterapkan adalah guaranteed acceptance yang memungkinkan tidak ada underwriting sama sekali.

Dari sisi risiko asuransi pun punya permasalahan tersendiri. Produk penjaminan KUR menanggung risiko ketika kredit mulai masuk dalam kategori kolektibilitas 4. Tetapi ditemui ada beberapa produk asuransi kredit konsumtif yang bisa diklaim pada saat kredit masuk kolektibilitas 3. Asuransi kredit konsumtif pun terkadang sepaket dengan asuransi jiwa kredit.

"Hebatnya lagi, itu tidak ada underwriting seperti health questionnaire, tidak ada waiting period. Jadi guaranteed acceptance tanpa ada underwriting. Risiko yang ditanggung juga termasuk lay off, kalau ganti payroll, itu langsung diklaimkan. Belum lagi kalau nasabah (bank) itu adalah anggota DPR, pergantian antar waktu pun diklaim. Jadi terlalu luas," beber Vincent.

Baca juga: Migas dan Penerbangan Melesat, Asuransi Tugu (TUGU) Paling Diuntungkan, Begini Analisanya!

Masalah tidak sampai disana, dari sisi durasi, pertanggungan penjaminan KUR dibatasi antara tiga bulan sampai dengan tujuh tahun. Tapi asuransi kredit konsumtif, yang seharusnya punya tenor pendek bahkan memiliki durasi perlindungan 1-20 tahun. Beberapa diantaranya karena ada yang mengadopsi durasi dari produk KPR.

Aspek pembayaran pun menimbulkan permasalahan. Penjaminan KUR relatif dibayarkan per tahun (regular premium), sedangkan asuransi kredit konsumtif cenderung premi tunggal (single premium). Hal ini yang kedepan bisa membuka peluang permasalahan, terutama mismatch pencadangan perusahaan asuransi.

Kemudian masalah yang tidak kalah penting adalah terkait pengenaan premi (premium rate) per tahun. Penjaminan KUR memiliki rentang premium rate mulai 1,5% sampai 2%. Tetapi asuransi kredit konsumtif punya premium rate 0,25% sampai dengan 0,70%.

Baca juga: Indonesia Re Perkuat Peran Industri Reasuransi bagi Ekonomi Nasional

"Kenyataan yang terjadi, itu menjadi masalah besar di asuransi umum. Premi yang telah menjadi pendapatan (earning premium), dan klaim dibayar berikut komisi atau fee based dari tahun 2014 (sampai 2020) yang kita petakan itu sudah lebih besar dari premi yang menjadi pendapatan," ungkap Vincent.

Dalam hal ini, Askrindo mencatat klaim dan komisi dibayar lebih besar dibandingkan premi yang menjadi pendapatan. Hal ini bahkan telah terjadi sejak tahun 2014 dan berlangsung sampai dengan tahun 2020. Di tahun 2020, premi yang dicatatkan sebagai pendapatan hanya sebesar Rp 966 miliar, sedangkan klaim dan komisi mencapai Rp 1,54 triliun.

Menurut dia, hal ini bisa terjadi dan tidak terdeteksi lebih awal karena sejumlah faktor. Dimulai masalah perang harga (price war), perhitungan aktuaria yang tidak mumpuni karena top line mindset, dan salah cara memandang loss ratio sehingga terjadi serupa ponzi scheme.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com