Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

RBC Asuransi Berpotensi Kena Imbas Jika Premi Terkoreksi Berkelanjutan

Selasa, 11 Agustus 2020 | 20:22 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Rasio solvabilitas atau risk based capital (RBC) perusahaan asuransi dinilai bisa mengkhawatirkan jika kinerja premi secara berkelanjutan terus terkoreksi. Oleh karena itu, perusahaan asuransi diimbau untuk terus mengembangkan kanal distribusi digital, sekaligus melakukan efisiensi biaya seoptimal mungkin.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan, tambahan premi asuransi jiwa di Juni 2020 mencapai Rp 13,07 triliun. Premi pun turun 10,0% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan posisi RBC cenderung menurun sampai Juni 2020 dibandingkan akhir tahun lalu.

Pada Desember 2020 posisi RBC asuransi jiwa tercatat di level 789%. Posisi itu turun cukup dalam menjadi sebesar 642,7% pada Maret 2020, OJK menyebut penurunan itu dampak dari pandemi Covid-19. Kemudian pada Mei 2020, RBC menguat pada posisi 651%. Tren itu berlanjut pada Juni 2020 dengan RBC asuransi jiwa tercatat sebesar 688%.

Meskipun tren RBC mulai membaik, per Juni 2020 masih terdapat 6 perusahaan asuransi jiwa yang mencatatkan RBC di bawah 120%, bertambah 2 entitas jika dibanding sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020.

Pasal 3 ayat (1-3) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi menerangkan, bahwa rasio pencapaian tingkat solvabilitas sekurang-kurangnya adalah 100%, dengan target internal paling rendah 120% dari Modal Minimum Berbasis Risiko (MMBR).

Kepala Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fauzi Arfan menyampaikan, kinerja premi yang terkoreksi berkelanjutan akan memberikan pengaruh negatif terhadap posisi RBC jangka panjang. Hal itu bisa saja terjadi meskipun RBC sepanjang tahun ini diprediksi masih mampu bertahan di atas ketentuan.

"Akan tetapi jika tidak diimbangi oleh strategi penjualan menyesuaikan kondisi Covid-19 dan efisiensi biaya yang optimal, dapat diproyeksi akan membawa posisi RBC yang cukup mengkhawatirkan," kata dia kepada Investor Daily, Senin (10/8) malam.

Menurut Fauzi, perolehan premi yang lebih rendah akan mengurangi profit. Adapun jika profit turun atau bahkan merugi, maka RBC berpotensi terkoreksi sampai negatif. Dengan demikian, salah satu upaya yang mesti dilakukan ialah menekan biaya-biaya agar profit tidak tergerus semakin dalam ketika perolehan premi sedang tersendat.

Secara umum, kata dia, RBC perusahaan asuransi jiwa sempat terpukul sejak awal pandemi Covid-19. Upaya pemulihan perlu dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan dalam beberapa tahun kedepan. Pertama, dengan mengembangkan alternatif kanal distribusi yang mengarah ke teknologi digital. Kedua, mengembangkan produk yang berorientasi pada nasabah dengan value proposition yang unik. Ketiga, alokasi biaya perusahaan yang efisien dan tepat guna.

"Perusahaan asuransi melakukan banyak upaya dalam rangka tetap mempertahankan penerimaan premi agar tetap sustainable. Langkah-langkahnya seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yang mana semua akan berbasis technology driven," ucap dia.

Sementara itu, data OJK juga mencatat, asuransi umum dan reasuransi mencatatkan tambahan premi mencapai Rp 7,93 triliun per Juni 2020. Pada saat yang sama, premi turun 2,3% (yoy). Sedangkan kondisi RBC asuransi umum pun sama halnya seperti asuransi jiwa.

RBC per Desember 2019 tercatat sebesar 345%, anjlok per Maret 2020 menjadi sebesar 297,3%. Posisi itu berbalik membaik menjadi 313 per Mei 2020, dan berlanjut menguat tipis di level 319% di Juni 2020. Pada saat yang sama, masih terdapat perusahaan asuransi umum yang mencatatkan RBC di bawah ketentuan sebesar 120%.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo mengatakan, penurunan produksi premi per Juni 2020 menyebabkan cadangan premi yang dibentuk lebih kecil dari cadangan premi yang dicairkan, sehingga menurunkan besaran liabilitas perusahaan.

Sedangkan aset yang diperkenankan cenderung tetap atau hanya sedikit menurun, didorong kebijakan OJK pada POJK 14/2020. Dengan demikian, selama pandemi RBC asuransi pun bisa dikendalikan.

Namun demikian, sambung dia, perusahaan asuransi umum perlu menjaga likuiditas dan solvency. Karena selama cadangan yang dilakukan benar, hidup perusahaan asuransi adalah dari pencairan cadangan yang merupakan pendapatan.

"Pemburukan aset investasi dan risiko yang terkait dengannya bisa menurunkan besaran AYD, sehingga menurunkan besaran RBC," imbuh Widodo.

Dia menuturkan, perusahaan asuransi dalam menghadapi krisis atas pandemi Covid-19 mesti memanfaatkan POJK 14/2020 tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19 Bagi Sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Akibat Covid-19. Karena Widodo menilai, sebesar 30% instrumen investasi asuransi umum dalam bentuk surat berharga negara (SBN) yang memiliki karakteristik mark to market. Dengan relaksasi dari OJK, investasi tersebut diperkenankan untuk dicatat dengan harga perolehan dan tidak terpengaruh harga pasar.

Selain itu, dia menegaskan, bisnis asuransi berbasis kehati-hatian dengan mengacu pada tingkat RBC di atas 120%. Hal tersebut menjadi keharusan dan komitmen perusahaan asuransi, jika dilanggar maka perusahaan yang bersangkutan bisa mendapat konsekuensi berupa pembekuan usaha.

"Kalau (premi terkoreksi) berkelanjutan, neraca cadangan premi turun terus. Kalau terlalu lama nanti besaran cadangan premi yang cair tidak bisa menutup klaim dan biaya, maka operasional akan negatif margin. Dan mulai menggunakan aset untuk menutup biaya, kalau begini (perusahaan asuransi) sudah pasti akan segera selesai," pungkas Widodo.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN