Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
KPR BTN. Foto ilustrasi: suarapembaruan

KPR BTN. Foto ilustrasi: suarapembaruan

PACU KPR NONSUBSIDI BTN

Relaksasi LTV Baru Berdampak Tahun Depan

Aris Cahyadi/Nida Sahara, Senin, 23 September 2019 | 08:26 WIB

JAKARTA, investor.id – Pelonggaran rasio loan to value (LTV) untuk rumah kedua oleh Bank Indonesia (BI) dinilai baru berdampak pada pertumbuhan kredit properti di kuartal pertama tahun depan. Hal tersebut karena relaksasi tersebut baru efektif pada 2 Desember 2019.

"Mudah-mudahan dalam satu kuartal juga akan terdorong, setelah implementasi. Ini kan efektifnya tanggal 2 Desember, memang sudah di akhir tahun. Mudah-mudahan bank bisa dorong jelang akhir tahun dan tahun depan mulai terasa pertumbuhannya lebih meningkat," kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung di Jakarta, akhir pekan lalu.

Di segmen KPR yang merupakan penggerak harga adalah investor, bukan dari end user. Pasalnya pelonggaran tersebut untuk rumah kedua di mana untuk investasi, dengan pelonggaran tersebut diharapkan makin mendorong pertumbuhan kredit properti.

Menurut dia, bank sentral tidak memaksakan perbankan untuk memberikan uang muka (down payment/DP) ringan kepada debitur KPR rumah kedua, karena tergantung dari manajemen risiko masing-masing bank. "Tidak apa-apa, itu manajemen risiko bank sendiri. Dia juga lihat debiturnya mungkin juga tidak pukul rata, itu bagian dari risk management bank, jadi tidak masalah," papar dia.

Dia menyebut, perbankan akan lebih selektif dan berhati-hati dalam memberikan DP ringan kepada calon debiturnya. Hal tersebut untuk menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tetap rendah. "Ini harus banknya yang sangat hati-hati, maksudnya kami longgarkan tapi tetap harus memperhatikan keadaan," ujar Juda.

Juda menambahkan, segmen properti yang dinilai masih potensial ke depan yakni tipe 20-70. Tipe properti tersebut disebut cocok dengan segmen nasabah kelas menengah. Lebih lanjut, Juda mengimbau supaya industri perbankan bisa lebih cepat menurunkan suku bunga kredit, khususnya kredit properti dan kendaraan setelah adanya pelonggaran LTV dan financing to value (FTV) tersebut.

"Yang jelas dengan suku bunga yang rendah diharapkan demand-nya naik, kalau demand naik tentu saja harga properti jadi faktor supply dan demand. Kami lihat demand ini terdorong jika harga tidak terlalu meningkat, karena stoknya masih cukup besar," terang Juda.

Sementara itu, Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Budi Satria mengatakan, relaksasi ini akan membuat uang muka yang dibayar debitur kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) atau properti lainnya berkurang. Semakin longgar atau besar rasio LTV, maka makin kecil uang muka atau DP yang disediakan konsumen sehingga diharapkan dapat memacu penyaluran KPR.

"BI mempermudah masyarakat untuk mengakses pembiayaan perumahan dengan memperbesar LTV untuk pembelian rumah kedua dan seterusnya dan membebaskan LTV untuk rumah pertama, kebijakan BI patut diapresiasi karena saat ini pembelian properti agak melandai dan berdampak pada penyaluran KPR khususnya KPR nonsubsidi," kata Budi.

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA