Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dari kiri ke kanan: Jonson Halomoan Marpaung (Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech, OJK), Muhammad Farid Andika (CEO Restock.ID), Victoria Tahir (Wakil Kepala Eksekutif Pendanaan Produktif AFPI).

Dari kiri ke kanan: Jonson Halomoan Marpaung (Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech, OJK), Muhammad Farid Andika (CEO Restock.ID), Victoria Tahir (Wakil Kepala Eksekutif Pendanaan Produktif AFPI).

PACU INDUSTRI KREATIF,

Restock.ID Gelar Event Reconect di Bandung

Gora Kunjana, Kamis, 10 Oktober 2019 | 22:13 WIB

BANDUNG, investor.id - Di era digital ini, terdapat cukup banyak UMKM yang bergerak di industri e-commerce dengan potensi yang baik untuk mengembangkan produk dan industri dalam negeri. Namun kenyataannya banyak para pelaku UMKM kerap kesulitan dalam mendapatkan akses pendanaan melalui bank, karena belum atau tidak memiliki asset tetap (fixed asset) yang menjadi salah satu syarat utama dalam melakukan pinjaman. Sehingga, tidak sedikit UMKM yang pertumbuhan usahanya tersendat atau bahkan sampai harus gulung tikar karena keterbatasan dana.

Berangkat dari fenomena tersebut, PT Cerita Teknologi Indonesia, perusahaan yang menyediakan platform peer to peer (P2P) lending di Indonesia bernama Restock.ID yang telah mendapatkan registrasi dari OJK di bulan Agustus 2019, mulai melakukan sosialisasi kepada UMKM di industri kreatif dengan mengadakan sebuah gelaran atau event bertajuk “Reconnect”.

Muhammad Farid Andika, CEO Restock.ID, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/10/2019) mengatakan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah untuk menyampaikan beragam potensi dan solusi yang dapat mendukung pertumbuhan UMKM di era digital.

“Kami ingin mengumpulkan berbagai UMKM industri kreatif di Bandung dan Jawa Barat untuk menyampaikan berbagai macam potensi dan solusi yang dapat mendukung pertumbuhan usaha mereka di era digital ini. Selain itu juga akan dilakukan sosialisasi terkait Restock.ID sebagai platform P2P lending yang dapat menjadi solusi dan alternatif pendanaan bagi industri kreatif, serta dampaknya terhadap perekonomian untuk mencapai inklusi keuangan nasional,” jelasnya.

Talkshow pada acara Reconnect Bandung yang diadakan oleh Restock.ID, platform penyedia layanan P2P lending terdaftar di OJK yang pertama dan satu-satunya menawarkan alternatif pembiayaan berbasis inventori bagi UMKM.
Talkshow pada acara Reconnect Bandung yang diadakan oleh Restock.ID, platform penyedia layanan P2P lending terdaftar di OJK yang pertama dan satu-satunya menawarkan alternatif pembiayaan berbasis inventori bagi UMKM.

Farid menambahkan bahwa melalui acara sosialisasi ini, Restock.ID berharap dapat membantu para pengusaha di industri kreatif Bandung dengan memberikan informasi dan pengalaman mengembangkan usaha dari para ahli di bidang masing-masing. Di Reconnect ini juga akan dihadirkan para ahli dan praktisi pelaku usaha dari industri kreatif yang sudah cukup sukses di bidangnya masing-masing.

“Dengan adanya event Reconnect ini, saya berharap dapat membantu para pengusaha industri kreatif di Bandung. Kami menghadirkan para ahli dan praktisi pelaku usaha industri kreatif untuk membagikan informasi dan pengalaman dalam mengembangkan usaha mereka, sharing best practices. Event Reconnect ini juga kami rancang sebagai wadah, dimana para pelaku industri kreatif dapat berkumpul dan melakukan networking dengan para pengusaha yang berkaitan di wilayah Bandung dan sekitarnya,” tambahnya.

Pada kesempatan ini, Restock mengundang representatif dari Otoritas Jasa Keuangan Johnson Halomoan Marpaung dari Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan OJK dan representatif AFPI Victoria Tahir, Wakil Kepala Eksekutif Pendanaan Produktif untuk menyampaikan harapan dan ekspektasi terhadap para praktisi atau perusahaan P2P Lending yang berupaya secara bersamaan untuk mendukung upaya pemerintahan dalam mencapai inklusi keuangan nasional melalui perkembangan kegiatan usaha di ranah Institusi Keuangan Non-Bank (IKNB).

Representatif dari Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan OJK Johnson Halomoan Marpaung mengatakan bahwa OJK sebagai regulator akan membantu untuk melakukan pengawasan terhadap bagaimana jalan dan fungsi peer to peer lending. Lalu penjelasan terkait perbedaan peer to peer lending company dengan perbankan adalah tidak mengolah resiko, dikarenakan lender yang akan menanggung risiko tersebut jika terjadi gagal bayar. Oleh karena itu peer to peer lending berhak untuk memberikan informasi yang transparan agar pihak borrower maupun lender dapat mengerti apa yang mereka berikan baik itu memberikan pendanaan atau meminjam dana.

“Terkait issue mengenai maraknya pinjaman peer to peer lending yang dimana terjadi pinjaman online yang kita memang harus memperhatikan, mulai dari segi peer to peer lending itu terdaftar di OJK atau tidak dan diawasi OJK apa tidak, dikarenakan jika tidak terdaftar dan diawasi OJK maka risiko yang timbul akan semakin tinggi dan tidak dapat di minimalisir dalam pengawasan OJK,” tambah Johnson Halomoan.

Selanjutnya, Wakil Ketua Eksekutif Fintech Pendanaan Produktif AFPI Victoria Tahir mengatakan AFPI adalah asosiasi khusus untuk para peer to peer lending, dimana OJK sebagai regulator membantu untuk mengawasi jalan dan fungsi peer to peer lending.

Dari kiri ke kanan: Jonson Halomoan Marpaung (Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech, OJK), Muhammad Farid Andika (CEO Restock.ID), Victoria Tahir (Wakil Kepala Eksekutif Pendanaan Produktif AFPI).
Dari kiri ke kanan: Jonson Halomoan Marpaung (Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech, OJK), Muhammad Farid Andika (CEO Restock.ID), Victoria Tahir (Wakil Kepala Eksekutif Pendanaan Produktif AFPI).

Dia menilai bahwa aturan yang dibuat oleh OJK saat ini cukup mendukung industri dan tidak menghambat industri fintech Peer to Peer (P2P) Lending, dimana AFPI dibentuk untuk mengorganisasi dan AFPI memiliki model pengaturan sendiri untuk mengatur anggotanya. AFPI sendiri sebagai wadah membantu untuk mediasi sesama fintech peer to peer lending untuk informasi dan isu apa saja yang memang dapat membantu dalam perkembangan fintech di Indonesia.

“Perbedaan mengenai pendanaan yang produktif dan pendanaan yang multiguna, pendanaan multiguna adalah pendanaan yang risiko dari pihak peminjam, karena kan memang pendanaan dapat di berikan kepada pihak siapapun, sedangkan untuk pinjaman yang produktif lebih fokus kepada pinjaman yang risiko dari pihak pemberi pinjaman dan peminjam dimana pendanaan ini dapat dijadikan sebagai modal untuk bisnis yang akan dilakukan dari pihak peminjam,” lanjut Victoria Tahir.

Terakhir, Farid menjelaskan bahwa Restock.ID berharap dapat membantu UMKM yang bergerak di industri ritel dan e-commerce dengan hadir sebagai perusahaan penyedia platform peer to peer (P2P) lending pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan stok barang jualan atau inventori sebagai jaminan untuk pembiayaan tambahan yang dapat digunakan untuk memudahkan cashflow memajukan usaha mereka. Restock.ID menggunakan data perputaran persediaan, nilai persediaan, dan tingkat stok minimum sebagai dasar untuk proses penilaian kredit, memberikan jaminan yang lebih likuid dibandingkan dengan model pembiayaan tradisional.

“Restock.ID hadir sebagai yang pertama dan satu-satunya peer to peer (P2P) lending company di Indonesia dan terdaftar secara resmi di OJK yang menyediakan pembiayaan aset dan inventory financing. Kami juga menggunakan metode credit scoring yang lebih likuid dibanding financing model tradisional. Karena penggunaan teknologi dan online platform, proses pendanaan cukup cepat, hanya membutuhkan waktu 5-10 hari. Dalam aspek keamanan investasi, Restock.ID memiliki keamanan yang lebih tinggi melalui kemitraan terencana dengan payment gateways (untuk mengamankan repayment) dan warehouse & fulfillment platform (untuk mengamankan data persediaan dan pengiriman) berdasarkan perjanjian fidusia mengenai anggunan,” tutupnya

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA