Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Riset UI: Fintech Lending Berperan Besar Dukung Inklusi Keuangan

Kamis, 2 Juli 2020 | 21:42 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) memaparkan hasil riset terbarunya mengenai industri fintech p2p lending di Indonesia. Hasilnya, industri itu memiliki peran besar untuk mendukung inklusi keuangan di Indonesia.

Riset itu bertajuk, 'Dampak Sosial dan Ekonomi Fintech Lending di Indonesia (Studi Kasus Investree 2017-2019)'. Untuk pertama kalinya di Indonesia, hasil studi kasus yang mengukur dampak sosial dan ekonomi fintech lending diumumkan.

Hasil Riset LD FEB UI ini menemukan bahwa kehadiran fintech lending telah berkontribusi pada peningkatan inklusi keuangan milenial terutama kelompok usia 35 tahun yang merupakan cakupan populasi terbesar di Indonesia saat ini. Pinjaman dari fintech lending menjangkau berbagai sektor produktif dalam perekonomian mulai dari pertanian, manufaktur, dan jasa.

Wakil Kepala LD FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan, temuan itu menyiratkan peran dari fintech lending dalam mendukung sektor keuangan yang inklusif secara digital. Adapun riset yang dilakukan pada Desember 2019 menggunakan jenis studi kasus pertama yang mengukur dampak sosial dan ekonomi fintech lending di Indonesia.

“Kontribusi yang semakin besar dari fintech lending menunjukkan bahwa teknologi mampu mempercepat inklusi keuangan. Terbukti, sektor yang memiliki akses terbatas ke kredit, misalnya jenis bisnis yang layanan dan pertanian kini dapat berpartisipasi dalam pinjaman digital peer to peer," papar dia melalui keterangan tertulis, Kamis (2/7).

Dewa Wisana menyampaikan, riset itu mengambil sampel dari borrower dalam ekosistem Investree, sebuah perusahaan pionir fintech lending. Sebab, Investree merupakan pionir dari perusahaan fintech lending di Indonesia dan telah mendapatkan izin dari OJK. Selain itu, Investree juga fokus pada pembiayaan untuk UKM yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.

Dalam riset tersebut, LD FEB UI menggunakan metode  wawancara tatap muka dengan 261 borrower yang dipilih secara acak dengan cakupan wilayah  Jabodetabek (77%), Jawa Barat (15%), dan Jawa Tengah dan Jawa Timur (8%). Apabila melihat tipe pinjaman, borrower dengan tipe online seller financing adalah yang paling banyak menjadi responden dalam riset ini yakni sebanyak 62%, dilanjutkan dengan tipe invoice financing (32%), dan working capital term loan (6%).  

Dewa Wisana memaparkan, temuan menarik dalam riset itu adalah banyak peminjam yang bergerak di bidang industri kreatif. Terdapat 24% dari borrower Investree adalah para pelaku industri kreatif dan 15% diantaranya mengalami peningkatan pendapatan antara 30-50% setelah memperoleh pinjaman dari fintech lending Investree.

Kemudian, sebesar 52% dari industri kreatif yang meminjam di Investree menggunakan layanan invoice financing. Dilanjutkan dengan tipe online seller financing (33%), dan working capital term loan (15%).

Dewa Wisana mengatakan, bahwa industri kreatif memang sedang menjadi primadona apalagi di kalangan generasi milenial. Tercatat terdapat 16 subsektor industri kreatif seperti konsultan atau periklanan, desain komunikasi visual, dan arsitektur yang sedang berkembang saat ini, sehingga pinjaman dari sektor tersebut cukup banyak.

Tak hanya industri kreatif yang mengalami peningkatan pendapatan setelah mendapat pinjaman dari fintech lending. Apabila melihat data yang didapat dari Investree, sebanyak 58% borrower Investree yang bergerak di sektor industri manufaktur mengalami peningkatan pendapatan sebesar 20-50%, sebesar 52% borrower Investree dari sektor jasa serta 51% borrower Investree dari sektor konstruksi juga mengalami peningkatan pendapatan serupa. Secara keseluruhan, 56% dari borrower Investree menyatakan bahwa mereka mengalami peningkatan pendapatan setelah mendapatkan pinjaman dari Investree.

Dia mengemukakan, selain mendukung UKM Indonesia dari sisi permodalan, Investree juga mendukung perkembangan ekonomi syariah di Indonesia melalui produk pembiayaan dengan skema syariah. Menurut  data Investree, borrower yang memanfaatkan skema syariah mencapai 21,6% dari jumlah seluruh Borrower.

Riset itu pun menemukan bahwa terdapat 54% borrower Investree Syariah telah mengalami pertumbuhan usaha yang diukur dari kenaikan pendapatan setelah mengajukan pembiayaan melalui Investree. Di antara para borrower Investree Syariah tersebut, 20% diantaranya mengalami pertumbuhan bisnis sebesar 30% dan 34% lainnya mengalami pertumbuhan sebesar 20%.

Selain itu, ditemukan bahwa fintech lending dapat mendorong perluasan kesempatan kerja dalam bentuk peningkatan tenaga kerja yang dipekerjakan dalam bisnis mereka. Temuan LD FEB UI mencatat kenaikan jumlah pekerja atau penyerapan tenaga kerja baru yang dipekerjakan oleh borrower Investree mencapai 44%.

“Riset ini menemukan bahwa fintech lending mampu mendukung inklusi keuangan melalui platform digitalnya, termasuk produk-produk inovatif, baik secara horizontal melalui sektor-sektor yang dibiayai, dan secara vertikal melalui skala bisnis keuangan. Kehadiran fintech lending seperti Investree dan bergabungnya pengusaha skala kecil dan menengah memberikan dampak positif pada dunia bisnis, seperti meningkatnya pendapatan dan menambah lapangan kerja,” tutup Dewa Wisana.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN