Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperlihatkan uang dolar AS diantara uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, belum lama ini.   BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang dolar AS diantara uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, belum lama ini. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Rupiah akan Bergerak di rentang 14.550-14.700

Senin, 3 Agustus 2020 | 09:49 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi (3/8/2020), bergerak melemah 5 poin atau 0,03% menjadi Rp14.605 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.600 per dolar AS.

Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI, dalam perbincangannya dengan BeritasatuTV di IDXOpening Bell di Jakarta, Senin (3/8/2020) mengatakan rupiah yang pagi ini dibuka melemah bukan tidak mungkin menguat pada penutupan nanti.

“Jika konsumsi kita cenderung membaik  dan CPI naik ini kemungkinan besar akan berdampak positif dan bukan tidak mungkin rupiah akan berbalik menguat di akhir perdagangan sore nanti, jika rilis CPI-nya cukup bagus,” katanya. 

Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI. Sumber: BSTV
Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI. Sumber: BSTV

Terkait proyeksi sejumlah Negara yang akan dilanda resesi, Puguh mengatakan dampaknya secara langsung kepada rupiah belum ada.

“Yang ditakutkan pelaku pasar sebenarnya adalah lebih ke faktor psikologisnya, risk appetite mereka. Ada kekhawatiran bahwa kemungkinan terburuknya ekonomi dunia akan tumbuh seperti Amerika di 13%, dan ini yang membuat risk appetite cenderung menurun,” ujarnya,

Puguh memprediksikan akhir Juni lalu pertumbuhan Indonesia akan turun 2,7  sampai 3,2, namun ternyata inflasi Indonesia di Juni realisasinya justru sdh di bawah 2%. “Jadi kemungkinan besar GDP kita akan turun cukup dalam kemungkinan antara negatif 3,7 sampai 4,2%,” katanya.

Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI. Sumber: BSTV
Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI. Sumber: BSTV

Puguh memproyeksikan rupiah awal pekan ini akan bergerak sideways sambil menunggu rilis data tersebut. “Dengan consensus pertumbuhan global di 4,7, saya kira rupiah justru akan berbalik menguat. Karena sekitar 70% pasar sudah price in terhadap pertumbuhan GDP yang 4,7%,” jelasnya.

Mengenai PSBB longgar yang kembali ditunda, Puguh menilai kondisi ini juga cenderung menekan rupiah. Jika PSBB diperpanjang terus kemungkinan besar konsumsi masyarakat cenderung terhambat sedangkan porsi konsumsi terhadap GDP adalah terbesar.

Puguh memperkirakan rupiah terhadap dolar AS hari ini masih mungkin kembali di level 14/550. “Jadi rupiah rentangnya akan ada di 14.550 hingga 14.700 karena pergerakannya mungkin berbalik kalau rilis data CPI-nya cenderung bagus hari ini,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN