Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller bank menghitung uang rupiah di Bank Mandiri. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Teller bank menghitung uang rupiah di Bank Mandiri. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Rupiah Diperkirakan akan Bergerak di Kisaran 14.850-15.050

Selasa, 29 September 2020 | 09:53 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean memperkirakan nilai tukar (kurs) rupiah hari ini (29/9/2020) akan bergerak di kisaran 14.850 hingga 15.050.

“Tetapi Bank Indonesia akan berusaha agar rupiah tidak menembus angka 15.000. jadi saya kira rentangnya di 14.850 sampai 15.050 dengan tendensi sekitar 14.900-15.000,”  katanya dalam perbimcangannya dengan BeritaSatu TV, di Program IDXOpening Bell, Selasa (29/9/2020).

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean. Sumber: BSTV
Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean. Sumber: BSTV

Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak menguat 25 poin atau 0,17% menjadi Rp14.875 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.900 per dolar AS.

Adrian mengatakan, rupiah terhadap regional masih cenderung melemah, juga terhadap mata uang global melemah.

“Fakta bahwa rupiah terus tertekan ke arah 15.000. Kemudian terjadi tekanan jual di pasar obligasi maupun di pasar saham mengindikasikan bahwa market memang sudah mengantisipasi bahwa ekonomi akan tetap melemah sampai dengan kuartal keempat. Saya sendiri memperhitungkan kita sebenarnya sudah resesi sejak kuartal pertama 2020. Kuartal kedua 2020 itu kita sudah negatif yang ketiga, jadi kalau kuartal ketiga 2020 ini negatif kita sudah kuartal keempat negatif,” paparnya.

Adrian menilai hingga 2021 market akan tetap fluktuasi terutama karena supply risk di bond market akan naik.

Menurut dia, virus corona bukan satu-satunya faktor pelemahan pasar. “Sebab dinamika ekonomi saling berkait erat, dan akitan eratnya itu  dihubungkan oleh psikologi pelaku ekonomi yang terus khawatir tentang masalah kesehatan,”katanya.

Adrian melanjutkan, ada satu riset yang menunjukkan bahwa penanggulangan corona dan dinamika ekonomi itu korelasinya sangat baik.

“Negara yang kelihatan berhasil menanggulangi corona, konsisten, sistematis dalam menangani corona otomatis memiliki probability besar untuk rebound lebih cepat tahun 2021,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN