Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan menghitung uang di Bank Mandiri Cabang Bursa Efek Indonesia.  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan menghitung uang di Bank Mandiri Cabang Bursa Efek Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran 14.659-14.850

Selasa, 4 Agustus 2020 | 09:50 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -  Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi (4/8/2020) bergerak menguat 65 poin atau 0,44% menjadi Rp14.565 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.630 per dolar AS.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean pada perbincangannya dengan BeritasatuTV dalam acara IDX OpeningBell, Selasa pagi (4/8/2020) mengatakan, rupiah akan mengalami tekanan hingga satu-dua minggu  ke depan.

“Rupiah di bulan Agustus itu secara historis punya kecenderungan untuk melemah. Saya perkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 14.650-14.850,” katanya.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean. Sumber: BSTV
Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean. Sumber: BSTV

Menurut Adrian, rupiah terhadap dolar masih akan ada di range 93,95. “Jadi dolar itu cenderung masih ada di teritori lemah, sementara kalau kita di Chinese yuan ada di level sedikit menguat karena sudah menembus level 7 di sekitar 6,98, 6,99. Kalau dilihat dari konstelasi global major currencies, sedikit banyak tidak ada perubahan. Jadi murni di masalah domestik,” jelasnya.

Mengenai deflasi Juli yang dirilis BPS kemarin, menurut dia, sekadar membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memang melemah.

“Kalau saya lihat dari data-data nontradisional memang tidak banyak perubahan dalam aktivitas ekonomi baik di perkantoran, di dalam sektor transportasi, jadi masih di sekitar level yang sama dengan akhir Juni. Artinya pergerkan ekonomi belum tampak di bulan Juli. Dan kalau ini berlanjut terus hingga akhir September dimana pemerintah memperkirakan sebagai puncak Covid, saya kira memang ada celah pertumbuhan ekonomi di kuartal III pun masih akan lemah,” paparnya.

Lebih jauh Adrian mengatakan bahwa sejumlah Negara resesi akan mempengaruhi kondisi Indonesia. Dia memperkirakan Indonesia pun akan resesi.

“Kalau kita menghitung resesi dengan metode standar yaitu angka negatif kuartal ke kuartal dua kali berturut-turut  maka sebetulnya di kuartal I bisa diperdebatkan apakah sudah masuk resesi atau belum.Tapi di kuartal II kita pasti akan negatif kuartal ke kuartal. Misalnya penyerapan anggaran masih lemah di kuartal III karena misalnya sampai saat ini private placement BI terhadap obligasi oleh Kementerian Ekonomi untuk mendukung pemulihan ekonomi belum terjadi, saya kira di kuartal III akan lemah sehingga kuartal III itu kita pasti akan mengalami negatif kuartal ke kuartal yang artinya di tahun 2020 confirmn kita akan resesi,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN