Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Allianz

Gedung Allianz

Sadar Pentingnya Asuransi Saat Pandemi

Rabu, 30 September 2020 | 23:17 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id — Ronal (36) masih berfokus memulihkan kesehatannya pasca sembuh dari paparan virus corona (Covid-19). Badannya yang terlihat segar bugar karena hobinya berolahraga ternyata tak mampu menghalangi Covid-19 untuk bersarang di tubuhnya.

Petaka itu datang tatkala Ronal mendapati istrinya, Hana (32) mendadak demam sepulang kerja pada pertengahan Agustus 2020 lalu.Ronal yang bekerja di salah satu perusahaan penyiaran di Palmerah, Jakarta Barat itu awalnya menganggap istrinya hanya demam biasa. Sehari berselang, demam Hana tak kunjung reda. Ronal pun berinisiatif untuk membawa istrinya berobat ke Puskesmas di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Hasil rapid test menunjukkan non reaktif Covid-19, Ronal pun merasa lega. Berbekal obat penurun demam, keduanya pun pulang ke rumah.

Hari kedua, demam Hana bertambah parah, mulai diliputi rasa was-was, Ronal pun membawa istrinya untuk melakukan rapid test kedua di sebuah laboratorium medis. Hasilnya, kembali non reaktif Covid-19. Sayangnya, hingga hari keempat demam yang mulai diikuti dengan gejala lainnya semakin menjadi-jadi. “Saya putuskan membawa istri ke rumah sakit swasta,”ujarnya Kamis (30/9/2020).

Hasil pemeriksaan di rumah sakit, istri Ronal diduga terserang typhus. Batin Ronal pun kembali lega. Namun itu tak berlangsung lama, keesokan harinya sakit yang diderita istrinya bertambah parah. Meski plafon biaya berobat yang dijamin asuransi telah habis, dia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit yang sama. “Hasil foto thorax menunjukkan ada bercak di paru-paru sehingga diduga Covid-19. Dokter pun merujuk untuk dilakukan tes swab,”ungkapnya.

Sadar plafon asuransi kesehatan keluarganya sudah habis, berbekal surat rujukan dari dokter, Ronal pun memilih untuk melakukan tes swab di Puskesmas. “Dan hasilnya positif Covid-19 dan langsung di rujuk ke RSUD Tarakan. Dirawat selama dua pekan,”ungkapnya.

Petugas kesehatan kemudian melakukan penelusuran. Hasilnya, 20 orang keluarga istrinya positif terpapar Covid-19 termasuk Ronal dan dua buah hatinya. Sebagian besar tanpa gejala atau bergejala ringan. Hanya ayah mertuanya yang harus mendapat perawatan di RSUD Pasar Minggu. “Selebihnya melakukan isolasi mandiri di rumah,”ungkapnya.

Ronal mengisahkan, biaya yang dikeluarkan untuk beragam proses yang dilalui cukup besar. “Seandainya saya punya asuransi dengan plafon yang cukup tentu tak akan menguras dana di tabungan,”keluhnya. Meskipun sudah terlindungi dengan asuransi dari tenpatnya bekerja, namun Ronal mengaku belum cukup mengcover biaya kesehatan dirinya dan keluarganya.

“Punya asuransi sangat penting, ibaratanya sedia payung sebelum hujan,”paparnya. Ronal pun mengaku sedang memikirkan untuk menambah perlindungan kesehatan bagi dirinya dan keluarganya dengan tambahan perlindungan dari asuransi.

Data yang dipublikasikan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebutkan, pada periode Maret 2020 sampai dengan periode Juni 2020, industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim sebesar Rp 216 miliar. Komitmen industri asuransi jiwa tetap dilaksanakan meskipun Pemerintah telah menyatakan bahwa Covid-19 merupakan pandemi dan sehingga biaya pengobatan akibat Covid-19 ditanggung oleh Pemerintah.

“Pembayaran klaim kepada nasabah terkait Covid-19 merupakan bukti komitmen industri asuransi yang berkelanjutan untuk senantiasa memberikan perlindungan terhadap nasabah dalam upaya turut serta menunjang kesejahteraan masyarakat secara nasional,”ujar Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon.

Pembayaran klaim terkait Covid-19 kepada nasabah sebesar kisaran Rp 216 milyar adalah untuk 1.642 polis yang dipergunakan untuk melakukan pengobatan di rumah sakit rujukan nasional maupun rumah sakit di luar negeri serta untuk risiko meninggal dunia yang disebabkan oleh Covid-19.

Data AAJI menunjukkan bahwa dari 1.642 klaim dibayarkan kepada nasabah terkait wabah Covid-19, sebesar 1.578 diantaranya merupakan klaim produk asuransi kesehatan dengan nilai Rp200 miliar lebih atau 92,9% dari total klaim. Sementara itu, 64 dari total 1.642 klaim adalah klaim produk asuransi jiwa kredit atas risiko meninggal dunia dengan nilai sebesar Rp15,38 miliar atau 7,1% dari total klaim terkait Covid-19.

“Di masa sulit dimana semua sektor bisnis terkena dampak Covid-19, industri asuransi jiwa merasa bersyukur dapat turut membantu meringankan beban masyarakat melalui pembayaran klaim kepada nasabah yang tersebar di wilayah Indonesia dan bahkan di Singapura dan Amerika Serikat,”paparnya.

Bahkan, AAJI mengapresiasi perusahaan-perusahaan asuransi jiwa yang di masa pandemi tetap memberikan perlindungan kepada masyarakat, dengan tidak mengecualikan Covid-19 ke dalam proteksi yang diberikan walaupun sudah dikategorikan sebagai penyakit pandemi.

AAJI dan seluruh angota AAJI, kata Budi,  secara konsisten melaksanakan program literasi dan edukasi keuangan untuk mendorong tingkat inklusi keuangan dan memperluas akses produk asuransi kepada masyarakat, agar masyarakat semakin memahami pentingnya mengelola keuangan termasuk untuk memahami produk proteksi.

Meningkatkan Literasi Asuransi dengan Inovasi

Tak seperti jasa keuangan lainnya, literasi masyarakat terhadap asuransi di Tanah Air masih rendah. Hal inilah yang menyebabkan  industri asuransi terkendala dalam melakukan penetrasu dan menjangkau masyarakat luas.

Literasi sektor asuransi yang rendah ini yang kemudian juga membuat masyarakat susah memahami produk asuransi dan menilaih hanya membuang uang.

Survei Nasional Literasi Keuangan yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 menunjukkan, indeks literasi asuransi hanya 19,4% lebih rendah dari indeks perbankan yang mencapai 36,12%.

Deputi Komisioner Pengawasan IKNB II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M Ihsanudin pun mengakui inklusi dan  literasi di sektor asuransi , sangat memprihatinkan. “Pertumbuhannya sangat lambat, bahkan dari sisi densitas dan penetrasi soal asuransi juga sangat rendah," ungkap Ihsan.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi pun meminta industri asuransi untuk berperan lebih aktif lagi dalam menggenjot literasi masyarakat terhadap asuransi.

Rendahnya literasi asuransi tak hanya ada pada segmen generasi baby boomers maupun milenial saja, tetapi juga pada generasi terkini atau yang dikenal dengan sebutan Generasi Z (Gen Z). Generasi ini populasinya mencapai  sekitar 27% dari total penduduk Indonesia pada 2019. Sayangnya, Gen Z memiliki kebiasaan untun menghabiskan pendapatan mereka untuk hal-hal yang bersifat konsumtif dan kurang peduli terhadap pentingnya perlindungan  kesehatan.

Salah satu perusahaan asuransi yang berkomitmen untuk meningkatkan inklusi dan literasi asuransi masyarkat yakni Allianz Life Indonesia. Bahkan, perusahaan asuransi ini melakukan inovasi dengan memperkuat layanan digital untuk membantu masyarakat tetap mendapatkan proteksi dan layanan asuransi yang dibutuhkan.

Menurut Joos Louwerier, Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Allianz semakin berkomitmen untuk memberikan proteksi asuransi melalui proses yang mudah dan terpercaya dengan meluncurkan sebuah inovasi baru bernama, Allianz eAZy Cover. 

Allianz eAZy Cover memungkinkan Nasabah membeli perlindungan asuransi dengan tatap muka digital. Melalui Allianz eAZy Cover, Allianz dapat memberikan penawaran dan menjual produk secara digital kepada calon nasabah dengan mudah dan aman.

“Komitmen Allianz adalah memberikan perlindungan asuransi kepada lebih banyak lagi masyarakat Indonesia. Untuk itu, kami terus melakukan inovasi untuk produk dan layanan. Allianz eAZy Cover adalah wujud komitmen tersebut,”tegasnya.

Allianz eAZy Cover melengkapi beragam inovasi digital yang telah dikembangkan Allianz selama beberapa tahun ini. Mulai dari pembelian polis hingga pengajuan klaim, seluruh proses di Allianz telah berbasis digital dan dirancang untuk memberikan pengalaman yang cepat, mudah dan nyaman bagi Nasabah.

“Allianz akan terus berinvestasi dalam hal teknologi, karena kami fokus membangun customer experience yang unik dan mudah,” kata Joos. Pengajuan asuransi jiwa secara online mencapai 92%, sementara penerbitan polis elektronik mencapai 45% dari keseluruhan polis baru. Sementara 83% pembayaran klaim asuransi kesehatan secara online berhasil diproses dalam waktu 48 jam.

“Peningkatan ini menunjukkan bahwa layanan digital Allianz sangat sesuai dengan kebutuhan nasabah dan Mitra Bisnis, terutama saat harus melakukan physical distancing seperti sekarang ini,”paparnya. Allianz melihat, di masa pandemi ini, tingkat awareness masyarakat terhadap pentingnya perlindungan asuransi untuk diri sendiri dan keluarga dari berbagai risiko memang cenderung meningkat.

Sebagai contoh, terdapat kenaikan tren untuk konsultasi kesehatan dan pembelian produk secara online, termasuk untuk produk asuransi.

“Allianz Indonesia akan terus berinvestasi pada infrastruktur digital supaya dapat memberikan pengalaman terbaik bagi para Nasabah dan Mitra Bisnis. Kami akan selalu memberikan solusi yang inovatif dan pengalaman yang mengesankan,” kata Joos.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN