Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gambaran riset Neurosensum yang menunjukkan animo masyarakat Indonesia  melakukan transaksi online menjelang Tahun Baru Imlek. ( Foto: Istimewa )

Gambaran riset Neurosensum yang menunjukkan animo masyarakat Indonesia melakukan transaksi online menjelang Tahun Baru Imlek. ( Foto: Istimewa )

Sambut Tahun Baru Imlek, 93% Orang Indonesia Manfaatkan Transaksi 'Online'

Kamis, 11 Februari 2021 | 12:44 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Menurut riset online berskala nasional yang diadakan oleh Neurosensum, animo masyarakat Indonesia untuk melakukan transaksi online menjelang Tahun Baru Imlek tercatat mengalami kenaikan sebesar 93% dibandingkan tahun lalu.

Di tengah pandemi Covid-19, ajang silaturahmi saling mengunjungi keluarga, sanak saudara, dan sahabat menjadi tradisi terbatas tahun ini, tetapi tradisi pemberian angpao (amplop merah) tetap menjadi salah satu keunikan perayaan yang dilestarikan.

Hal itu terlihat dari survei yang menunjukkan 38% responden mengatakan akan menggunakan uang tunai sebagai bentuk tanda pemberian angpao, lalu 50% menggunakan e-wallet sebagai sarana pemberian angpao. Ini membuktikan masyarakat yang merayakan Imlek sudah cukup fasih dalam mengerti fitur, dan kemudahan e-wallet dalam bertransaksi sehari-hari.

“Kami kagum akan kefasihan, pemahaman, serta adaptasi digital masyarakat Indonesia yang mantap. Pengadopsian gaya hidup mobile cashless, terutama e-wallet, seperti ShopeePay, semakin nyata dalam menggantikan peran utama uang tunai dalam kehidupan sehari-hari yang dinamis. Satu hal yang pasti, yaitu pentingnya edukasi berkesinambungan dan terpadu agar tercapainya financial literacy & inclusivity guna membuka cakrawala masyarakat akan ragam manfaat bernilai dari e-wallet dalam memudahkan kegiatan sehari-hari,” ujar Managing Director Neurosensum Indonesia Mahesh Agarwal dalam keterangan pers, Kamis (11/2).

Semenjak April 2020, akselerasi transaksi digital melonjak berkali lipat dikarenakan lockdown berskala nasional demi menekan angka penularan virus corona Covid-19. Mulai dari belanja secara online di platform e-commerce, jasa ojek online (ojol), hingga dompet digital, digunakan demi kemudahan kebutuhan sehari-hari.

Dari hasil riset Neurosensum terkait Hari Raya Imlek tahun ini, sekitar 61% responden mengatakan akan makan bersama keluarga mereka. Kemudian, 58% responden akan merayakan dengan cara mengunjungi sanak saudara. Lalu, 49% responden mengungkapkan bahwa perayaan akan diisi dengan mengunjungi tempat wisata bernuansa perayaan Imlek.

“Meskipun kurang dari 20% dari responden kami yang merayakan Tahun Baru Imlek, sekitar 93% dari total keseluruhan responden (baik yang merayakan maupun yang tidak merayakan Imlek) mengatakan bahwa mereka menanti-nantikan akan berbelanja di platform e-commerce favorit jika ada promosi khusus,”

Mengenai ukuran basket size, 32% merencanakan budget yang sama dengan tahun lalu, tapi 52% mencoba untuk menekan budget perayaan Imlek lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Oleh karena itu promo di e-commerce favorit tetap menjadi incaran pada bulan ini.

Ada pun kategori yang masih jadi incaran belanja Tahun Baru Imlek, antara lain baju dan produk fesyen (86%), produk kecantikan (80%), dan sepatu (70%). Bahkan masih ada beberapa pos pengeluaran yang besaran anggarannya sama dengan tahun lalu, seperti donasi, belanja keluarga, dan makan-makan bersama keluarga.

Neurosensum sendiri menyambut 2021 dengan mengadakan riset digital dengan topik berfokus pada penggunaan e-wallet terhadap 1.000 responden berusia produktif (19-45 tahun) secara serentak di 8 kota besar di Indonesia, yaitu meliputi kawasan Jabodetabek, kota besar di Pulau Jawa, serta kota besar lainnya di Indonesia. Sebanyak 50% responden telah berkeluarga, dan 50% sedang tidak dalam status berkeluarga. Mayoritas penghasilan para peserta tergolong dalam kategori ekonomi sosial berkelas low to middle.

Mahesh menjelaskan, sebagai perusahaan riset konsumen berbasis neuroscience dan A.I., analisa menyeluruh dan terpadu berskala nasional merupakan salah satu kunci pembelajaran yang berkesinambungan dan bernilai lebih.

“Hasil data riset tersebut bermanfaat untuk ditelaah dan dipelajari lebih lanjut demi menyempurnakan pengetahuan akan tren perilaku konsumen di dalam peta industri luas, terutama dalam masa-masa kompleks seperti sekarang ini,” tambah dia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN