Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, saat perayaan HUT Pasar Modal Indonesia Ke-43 di Jakarta, Senin (10/8).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, saat perayaan HUT Pasar Modal Indonesia Ke-43 di Jakarta, Senin (10/8).

Sampai Juli, Outstanding Penjaminan Pembiayaan Syariah Capai Rp 32,12 Triliun

Jumat, 18 September 2020 | 04:28 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Outstanding penjaminan syariah sampai Juli 2020 mencapai Rp 32,12 triliun. Dengan terus berupaya menciptakan ekosistem syariah yang lengkap, porsi penjaminan syariah pun diharapkan ikut meningkat.

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah yang juga Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memaparkan, hingga saat ini terdapat dua perusahaan penjaminan syariah dan satu unit usaha syariah (UUS) dari perusahaan penjaminan dengan skala nasional. Selain itu, ada empat UUS perusahaan penjaminan dalam skala provinsi.

Berdasarkan data OJK, nilai penjaminan syariah dapat dirinci menjadi outstanding baki debet pembiayaan produktif yang dijamin per Juli 2020 sebesar Rp 14,34 triliun. Sementara baki debet outstanding bukan pembiayaan produktif yang dijamin sebesar Rp 17,78 triliun, naik dibandingkan akhir 2019 sebesar Rp 15,80 triliun.

Jika ditinjau dari aset perusahaan penjaminan syariah per Juli 2020, telah mencapai Rp 25,9 triliun. Nilai itu naik 16,59% secara year to date (ytd) atau 36,82% secara year on year (yoy). Wimboh menyatakan, perusahaan penjaminan syariah memang menunjukkan peningkatan aset yang cukup baik, tapi porsi aset masih relatif kecil dibanding kontribusi di industri jasa keuangan.

"Meski begitu ini kenaikan yang luar biasa, ini adalah bentuk upaya kita terus menerus tentang penjaminan syariah bisa lebih besar lagi. Ekosistem syariah juga sangat penting, ini bagaimana kita bisa mendorong industri halal mempercepat bangkitnya demand jasa keuangan syariah," ucap Wimboh pada suatu seminar daring, Kamis (17/9).

Dia meyakini, ke depan ekonomi syariah di Indonesia akan tumbuh secara signifikan. Oleh karena itu, perlu bagi perusahaan jasa keuangan termasuk perusahaan penjaminan syariah untuk terus menambah modalnya. Permodalan penting untuk menunjang perusahaan lebih ekspansif seiring persaingan antar perusahaan penjaminan yang ditengarai juga akan semakin ketat.

Namun demikian, sambung Wimboh, saat ini kapasitas industri jasa keuangan syariah tidak memiliki masalah berarti. Mulai dari produk, sumber daya manusia, dan infrastruktur teknologi telah tersedia. Kendala untuk perusahaan jasa keuangan syariah terletak pada sisi permintaan (demand) yang masih kecil. Hal itu juga terefleksi dari capaian Indonesia sebagai peringkat pertama dalam pasar keuangan syariah global pada tahun 2019, berdasarkan Global Islamic Finance Report. Dalam hal ini Indonesia mendapatkan skor 81,93 pada Islamic Country Finance Indeks di 2019.

Dia merinci, terdapat 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, serta 162 BPR syariah. Pasar modal pun memiliki jumlah perusahaan syariah yang cukup banyak, tapi volume aset yang dicatatkan relatif kecil. Hal serupa dialami industri keuangan non bank (IKNB) syariah.

Sedangkan jika dilihat dari aspek pangsa pasar (market share), kontribusi jasa keuangan syariah hanya 9,64% dari total industri keuangan nasional per Juli 2020.

Adapun kontribusi perbankan syariah sebesar 6,18% atau berhasil melewati 5% trap. Sementara market share pasar modal syariah telah mencapai 17,72%. Dan diikuti market share IKNB sebesar 4,4%.

"Ini adalah salah satu yang bisa dilihat bahwa kontribusi syariah itu masih rendah, termasuk demand-nya rendah. Dari sisi supply sebetulnya lembaga-lembaga sudah siap, bahkan terlalu banyak dibandingkan demand-nya. Selama ini kita bolak balik lembaganya, SDM, produknya, Tapi ekosistemnya tidak. Nah sekarang ini perlu dibangun ekosistemnya untuk emmbangun ekonomi syariah. Ini penjaminan tidak bisa tumbuh besar kalau pembiayaannya tidak ada, ekonominya syariahnya mesti benderang lebih dulu," ucap Wimboh.

Oleh karena itu, sambung dia, guna meningkatkan aspek permintaan perlu bagi jasa keuangan syariah merambah daerah-daerah pelosok sekaligus melakukan pendampingan. OJK sendiri telah memulai melalui lembaga keuangan mikro lewat pendekatan digitalisasi. Hal itu akan diikuti koperasi dan BPR syariah. Dengan begitu, masyarakat di wilayah terpencil sekalipun bisa ikut inklusif menggunakan produk jasa keuangan syariah.

"Kita punya masjid, pesantren, lembaga amil zakat, pun pasar modal syariah, sehingga jasa keuangan syariah yang posisinya di tengah itu tidak optimal kalau yang mengelilingi sektor keuangan tidak diberdayakan dengan baik. Sebagai ketua masyarakat ekonomi syariah saya punya tanggung jawab moral untuk membangun optimalisasi keuangan syariah," ujar dia.

Wimboh juga mengatakan, potensi untuk penjaminan syariah untuk tumbuh memang mengacu pada perkembangan ekonomi syariah. Tapi potensi Indonesia sangat besar dengan mayoritas warganya merupakan umat muslim. Jadi, industri makanan halal, pakaian muslim, termasuk pariwisata halal, termasuk hotel, dan sebagainya mesti ikut diberdayakan lebih lanjut.

Sementara itu, Partner PWC Indonesia Jusuf Wibisana mengatakan, peran penjaminan syariah saat masa krisis sangatlah dibutuhkan. Salah satunya, penjaminan syariah turut mendorong pembiayaan kepada industri tetap disalurkan. Kemudian, dengan penjaminan eksposur industri perbankan terhadap kerugian pembiayaan dimitigasi, atau bahkan dihilangkan bila industri penjaminan cukup kuat dan kredibel.

"Industri penjaminan yang kuat dan kredibel bisa dilihat dari permodalannya yang tercukupi untuk memberikan jaminan dan ekspansi. Aturan OJK, perusahaan penjaminan bisa menjamin pembiayaan 40 kali dari ekuitasnya dia. Jamkrindo Syariah misalnya, dari perolehan laba sampai pertengahan tahun bisa baik. Ketika banyak klaim masuk bertubi-tubi, perseroan masih bisa menyisihkan laba. Ini data unaudited, ini bertanda industri penjaminan syariah itu cukup menjanjikan jika dikelola dengan baik," kata dia.

Selain itu, ungkap dia, perusahaan penjaminan syariah perlu memahami pricing yang tepat untuk produk penjaminan sehingga terhindar dari onerous contracts. Karena karakter penjaminan adalah menjanjikan ganti rugi atas kontrak pembiayaan, maka mesti hati-hati melakukan perhitungan dengan berorientasi pada potensi klaim di masa mendatang. Saat ini masih marak ditemui pricing yang rendah untuk memenangkan persaingan di industri penjaminan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN