Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing. Foto: hukumonline.com

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing. Foto: hukumonline.com

Satgas Waspada Investasi Hentikan Tiktok Cash dan Snack Video

Senin, 1 Maret 2021 | 21:08 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Satgas Waspada Investasi (SWI) menghentikan kegiatan aplikasi Tik Tok Cash dan Snack Video. Selain itu, SWI juga menghentikan kegiatan usaha 26 entitas ilegal lainnya.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menyampaikan, pihaknya yang beranggotakan 13 kementerian dan lembaga (K/L) bertugas mencegah kerugian masyarakat. Belakangan, SWI kembali menemukan aplikasi Tiktok Cash yang menawarkan pemberian uang kepada penggunanya hanya dengan memperbanyak penonton dari video di sebuah platform, yang berpotensi merugikan pemakainya.

Dia juga mengatakan, dalam rapat Jumat (26/2/2021), SWI meminta aplikasi Snack Video untuk menghentikan kegiatannya. Sebab, entitas tersebut tidak terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Kementerian Komunikasi dan Informatika dan tidak memiliki badan hukum dan izin di Indonesia.

“Kami sudah bahas dengan pengurus Snack Video dan terdapat kesepakatan untuk menghentikan kegiatannya sampai izin diperoleh. Kami juga telah meminta Kementerian Kominfo untuk menghentikan aplikasi TikTok Cash  yang berpotensi merugikan masyarakat,” kata Tongam dalam siaran pers, Senin (1/3).

Satgas dalam patroli sibernya menemukan 26 entitas kegiatan usaha ilegal selain Tiktok Cash dan Snack Video. Sebanyak 28 entitas tersebut diduga tidak memiliki izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

Sejumlah entitas ilegal itu di antaranya melakukan 14 kegiatan money game dan 6 crypto aset, forex dan robot forex tanpa izin. Kemudian, ada 3 penjualan langsung/direct selling tanpa izin, 1 equity crowdfunding tanpa izin, 1 penyelenggara konten video tanpa izin, 1 sistem pembayaran tanpa izin, dan 2 kegiatan lainnya.

Tongam mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai penawaran-penawaran dari berbagai pihak yang seakan-akan memberikan keuntungan mudah tetapi berpotensi merugikan penggunanya.

Namun demikian, terdapat entitas yang telah mendapatkan izin usaha yaitu PT Brilian Nusantara Mandiri (Bliuntung) karena telah memperoleh izin untuk melakukan kegiatan penjualan produk dengan sistem multi level marketing.

 

Fintech Lending Ilegal

Sementara itu, sepanjang Februari 2021, SWI menemukan 51 kegiatan fintech peer to peer (p2p) lending ilegal. Entitas itu dinilai berpotensi meresahkan masyarakat karena sering melakukan ancaman serta intimidasi jika menunggak pinjaman. Dengan demikian, sejak tahun 2018 sampai dengan Februari 2021, SWI setidaknya sudah menutup sebanyak 3.107 fintech lending ilegal.

“Satgas Waspada Investasi terus berupaya memberantas kegiatan fintech p2p lending ilegal ini antara lain dengan cara mengajukan blokir website dan aplikasi secara rutin kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta menyampaikan laporan informasi kepada Bareskrim Polri untuk proses penegakan hukum,” ujar Tongam.
 

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN