Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

INSURANCE DAY KE-15

Saving Plan Bagus untuk Penuhi Kebutuhan Pasar

Senin, 19 Oktober 2020 | 09:39 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -  Perihal banyaknya masyarakat yang kecewa terhadap beragam kasus gagal bayar polis dan manfaat polis di sejumlah perusahaan asuransi, seperti Jiwasraya, Bumiputera, Wanaartha Life, dan Kresna Life yang diduga terkait GCG produk saving plan,

Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI, Fauzi Arfan mengemukakan, produk asuransi tradisional endowment, khususnya saving plan sebenarnya bagus untuk memenuhi kebutuhan pasar. Produk tersebut tidak memiliki masalah. “Tata kelola perusahaan asuransi pemasar yang membuat saving plan menjadi bermasalah,” ujar dia.

Produk saving plan, menurut Fauzi Arfan, memiliki ciri tingkat bunga investasi sepenuhnya digaransikan oleh perusahan asuransi pemasar. Hasil survei AAJI pada akhir 2018 menemukan 17 perusahaan asuransi pemasar produk saving plan dari total 55 perusahaan asuransi.

Dari survei tersebut, kata dia, ditemui banyak kendala bagi perusahaan asuransi dalam memasarkan produk saving plan. Kendala utamanya adalah ketidaksesuaian antara aset dan liabilitas, mengingat belum semua aset perusahaan dan nasabah telah dipisah secara utuh.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Kesimpulan dari survey itu menyatakan, perusahaan asuransi yang menjual saving plan akan menemui kendala jika mereka tidak memiliki manajemen risiko yang kuat.

“Jadi, isunya bukanlah produk, karena analoginya produk endowment atau saving plan merupakan produk generic dari asuransi. Seperti produk asuransi beasiswa, itu masuk kategori endowment, sebab perusahaan asuransi memberikan garansi saat seseorang mencapai usia tertentu,” ucap Fauzi.

Dia mengungkapkan, produk saving plan serupa produk deposito yang dijajakan perbankan. Jika tingkat bunga yang disuguhkan tidak sesuai risiko bank maka bank pun akan menemui kendala. Hal serupa dapat terjadi pada penjualan produk saving plan oleh perusahaan asuransi.

Fauzi memaparkan, sampai akhir 2018 kontribusi produk saving plan terhadap penjualan seluruh produk asuransi hampir 20%.

Adapun distribusi produk mencapai 48% dan kanal bancassurance sebesar 32%. Kanal direct marketing berkontribusi 8%, sedangkan kanal telemarketing, employee benefit consultant, dan lainnya masing-masing berkontribusi 4%.

Fauzi Arfan menambahkan, sekitar 88,2% produk saving plan dikelola perusahaan asuransi yang juga sebagai pemasar, selebihnya dikelola manajer investasi.

Sebagian besar perusahaan punya SOP untuk mengelola dana investasi saving plang, sebagian lagi tidak memiliki SOP.

“Berdasarkan hasil survey kami, produk saving plan bukanlah produk bermasalah, bahkan bagus untuk pasar. Tetapi kalau produk itu ditawarkan dengan tingkat bunga tertentu di luar kapasitas perusahaan pemasar, disitulah permasalahannya. Menjual produk saving plan perlu mitigasi risiko dan analisis risiko yang benar-benar baik dari perusahaan, terutama tentang aset dan liabilitas,” tegas Fauzi.

Ketika menjual produk saving plan, menurut Fauzi, perusahaan asuransi perlu menimbang jenis aset untuk memenuhi kewajibannya. Ketika tidak ada aset yang dimiliki untuk menambal janji kepada nasabah, terjadilah masalah gagal bayar. Maka perlu permodalan yang cukup, setidaknya dengan memenuhi tingkat risk based capital (RBC). (az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN