Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Sektor Infrastruktur Jadi Motor Pertumbuhan Kredit 2020

Nida Sahara, Minggu, 13 Oktober 2019 | 00:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Kalangan bankir menilai bahwa kredit sektor infrastruktur bakal menjadi andalan pada tahun depan, seiring masih masifnya pembangunan infrastruktur yang terus didorong pemerintah. Bank-bank bahkan menyebut kredit infrastruktur bakal menjadi motor pertumbuhan kredit pada 2020.

Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hari Purnomo mengatakan, meskipun BRI merupakan bank fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perseroan juga turut berkontribusi pada pembangunan melalui penyaluran kredit ke proyek infrastruktur.

“Kami komit pada kredit infrastruktur, karena infrastruktur merupakan pendorong sarana pendukung kemudahan akses bagi para pelaku UMKM. Dengan demikian, kemudahan akses inilah yang akan mempercepat proses tumbuhnya para pelaku UMKM,” kata Hari ketika dihubungi Investor Daily, Jumat (11/10).

Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hari Purnomo.
Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hari Purnomo.

Menurut Hari, tahun depan proyek infrastruktur masih memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan kredit perbankan, tak terkecuali bagi BRI.

Hal tersebut karena pemerintah masih gencar membangun infrastruktur, terlebih akan ada ibu kota baru di Kalimantan. Sementara itu, terkait dengan analisis Moody’s yang mengkhawatirkan tentang kemampuan debitur seperti BUMN karya dalam membayar utang dalam pembangunan infrastruktur, Hari menyebut, pihaknya tetap memberikan kredit secara berhati-hati.

“Tentu saja peluang itu masih ada tahun depan untuk kredit infrastruktur. Kami tetap hati-hati dan prudential banking tetap kami pegang,” tambah Hari

Rohan Hafas. Foto: IST
Rohan Hafas. Foto: IST

Secara terpisah, Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rohan Hafas mengungkapkan, kredit infrastruktur memang masih menjadi sektor yang potensial bagi pertumbuhan kredit perseroan. “Korporasi masih bagus dari infrastruktur, manufaktur juga, tahun depan juga sektor itu masih cukup bagus. Tapi memang perlu berhati-hati memilih debitur,” kata Rohan.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menjelaskan, apabila debitur mulai mengalami keterlambatan membayar, perseroan mulai lebih selektif dan berhati-hati. “Pasti dong, kalau mereka mulai lambat bayar berarti sudah mulai diragukan kemampuan cash flow-nya jadi kita akan lebih hati-hati,” kata dia.

Jahja Setiaatmadja. Foto: IST
Jahja Setiaatmadja. Foto: IST

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Subur Tan menambahkan, infrastruktur memiliki sejumlah sektor penunjang yang dapat menjadi potensi bagi perbankan untuk digarap. Dia menyebutkan, perbankan harus bisa memanfaatkan momentum pembangunan infrastruktur yang massif tersebut untuk menyalurkan kredit.

“Ke depan, pemerintah itu masih terus mendorong infrastruktur, jadi bisnis yang terkait dengan infrastruktur saya rasa masih bisa tumbuh. Perbankan harus bisa memanfaatkan momentum itu,” ungkap Subur.

Dia juga menilai, properti merupakan salah satu segmen penunjang infrastruktur. Selain itu, sektor perdagangan masih akan mendukung pertumbuhan kredit perbankan tahun depan. “Sektor perdagangan juga masih tetap berjalan, apapun kan orang masih butuh makan. Jadi halhal yang berkaitan kebutuhan sehari hari masih bisa tumbuh terbatas juga,” tambah Subur.

Secara terpisah, Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta juga mengatakan hal serupa, terlebih BNI merupakan bank BUMN yang memiliki peran khusus untuk menyalurkan kredit infrastruktur kepada perusahaan pelat merah lainnya.

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta. Foto: bni.co.id
Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta. Foto: bni.co.id

Menurut dia, pembangunan infrastruktur merupakan proyek jangka panjang. Oleh sebab itu, sektor tersebut tidak bisa dihindari, karena permintaan terus meningkat dan juga berkontribusi pada pertumbuhan kredit BNI.

“Kredit kami masih di-support dari sektor infrastruktur dan manufaktur. Kita utamakan tambahan kredit dari yang sudah kita komitmenkan atau sudah sesuai drawdown-nya,” imbuh

Herry. Sampai dengan kuartal III, pihaknya membukukan pertumbuhan kredit masih sesuai dengan target 12- 13% secara tahunan (year on year/yoy).

Kinerja Kredit

Kredit Bank Umum dan Kredit Konstruksi
Kredit Bank Umum dan Kredit Konstruksi

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dalam Analisis Uang Beredar periode Agustus 2019 mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 5.489,6 triliun atau tumbuh 8,6% (yoy), tumbuh melambat dari bulan Juli yang meningkat 9,7% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan kredit tersebut terjadi baik pada golongan debitur korporasi maupun perseorangan. Kredit korporasi tumbuh 9,4% (yoy) per Agustus, melambat dari Juli 11,4% (yoy).

Sementara kredit perseorangan tumbuh 8,8% (yoy) per Agustus, lebih rendah dari 9,2% (yoy) per Juli. Data BI juga mencatat perlambatan juga terjadi pada seluruh jenis penggunaannya, yaitu modal kerja, investasi, dan konsumsi.

Kredit modal kerja tumbuh melambat dari 9,0% (yoy) menjadi 7,5% (yoy), terutama pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), serta sektor industri pengolahan.

Kredit investasi tumbuh melambat dari 13,8% (yoy) per Juli menjadi 12,7% (yoy) terutama berasal dari PHR serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

Sementara itu, kredit konsumsi pada Agustus juga melambat, dari 7,3% (yoy) menjadi 7,0% (yoy). Perlambatan terjadi karena kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), serta kredit multiguna.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan menjelaskan, rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau LDR industry perbankan tahun 2020 mencapai 100,6% dan akhir 2019 sebesar 96,8%. Tahun depan akan kembali ketat karena pertumbuhan kredit yang mulai ekspansif dari perbankan. Tingkat LDR yang diproyeksikan LPS tersebut di atas ketentuan batas atas rasio intermediasi makroprudensial (RIM) Bank Indonesia sebesar 94%. Adapun batas bawah RIM ditetapkan BI sebesar 84%.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan memberikan special remarks saat acara Investor Awards Best Bank 2018 di Jakarta, Jumat (29/6). Foto: UTHAN A.RACHIM
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan memberikan special remarks saat acara Investor Awards Best Bank 2018 di Jakarta, Jumat (29/6). Foto: UTHAN A.RACHIM

“Itu karena pertumbuhan kreditnya naik secara ekspansif, sementara pertumbuhan DPK normal. Penyebab pertumbuhan kredit akibat meningkatnya permintaan untuk pembiayaan infrastruktur,” ujar Fauzi.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan pada 25 September lalu, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga di tengah masih tingginya ketidakpastian perekonomian global. Sektor jasa keuangan domestik masih mencatatkan perkembangan yang positif dengan pertumbuhan intermediasi yang stabil dan profil risiko lembaga jasa keuangan yang terjaga Rasio non performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil di level 2,8%, NPF net 0,55%, Agustus 2019. Likuiditas dan permodalan perbankan juga berada pada level yang memadai. Liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 198,84% dan 92,90%, jauh di atas threshold. Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. Capital adequacy ratio (CAR) perbankan sebesar 23,93%.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Boedi Armanto sebelumnya mengatakan, kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV masih menjadi penggerak pertumbuhan kredit industry perbankan.

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Diperkirakan, sampai dengan akhir tahun ini pertumbuhan kredit kelompok BUKU IV masih bisa meningkat dua digit, hal tersebut didukung oleh pembangunan infrastruktur yang juga masih berlangsung, di mana mayoritas yang main adalah bank besar. “Masih infrastruktur (sektor yang mendorong tahun ini), pembangunan infrastruktur masih melaju,” ucap Boedi.

Adapun data OJK mencatat sampai dengan Juli 2019 pertumbuhan kredit sektor konstruksi sebesar 25,4% (yoy), untuk sektor kelistrikan tumbuh 20,9% (yoy), pertambangan 17,6% (yoy). Sementara itu, kredit real estate tercatat tumbuh 12,0% (yoy) per Juli, dan sektor transportasi 10,5% (yoy), sedangkan kredit perdagangan meningkat 7,2% (yoy) per Juli 2019. Kredit sektor transportasi masih kecil porsinya jika dibandingkan dengan total kredit, namun masih punya potensi cukup bagus ke depan. (th)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA