Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Semester I, Laba Perbankan Rp 78,51 Triliun

Nida Sahara, Senin, 26 Agustus 2019 | 08:11 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba bersih industri perbankan pada semester pertama tahun ini mencapai Rp 78,51 triliun, meningkat 10,70% dibandingkan dengan laba bersih paruh pertama tahun 2018 yang sebesar Rp 70,92 triliun.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Juni 2019 yang dirilis OJK akhir pekan lalu, laba bersih tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang senilai Rp 190,52 triliun, tumbuh 3,92% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 183,33 triliun. Sementara itu, pendapatan selain bunga sebesar Rp 186,13 triliun, melonjak 36,43% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 136,43 triliun.

Di sisi lain, OJK juga mencatat beban selain bunga perbankan pada paruh pertama 2019 meningkat 18,51% menjadi sebesar Rp 277,63 triliun, dari tahun sebelumnya yang senilai Rp 234,27 triliun.

Menanggapi hal itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menjelaskan, kenaikan laba dipengaruhi oleh masih tingginya pertumbuhan kredit modal kerja dan kredit investasi di beberapa sektor seperti pengadaan listrik, air dan gas, jasa kesehatan, dan pendidikan. Beberapa bank juga sudah merekstrukturisasi kredit bermasalah pada awal tahun dan write off.

"Dengan demikian, pada semester I laba bisa dijaga tetap tinggi. Untuk semester II bisa lebih tinggi, yang penting fokus pada sektor domestik yang tidak mengandalkan ekspor shingga exposure risiko global bisa dimitigasi, jadi lebih inward looking," papar Bhima ketika dihubungi Investor Daily, Minggu (25/8).

Berdasarkan kelompok bank, OJK mencatat laba bersih kelompok bank asing meningkat signifikan 93,04% dari Rp 3,45 triliun menjadi Rp 6,66 triliun.

Bhima menjelaskan, untuk bank asing mengalami pertumbuhan laba signifikan karena pengendalian risiko, di samping naiknya pendapatan bunga bersih. Turunnya beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) kredit bank asing berhasil memulihkan kinerja bank.

"Tahun 2016 sudah ada gejala sektor komoditas perkebunan dan pertambangan lesu, di situ CKPN-nya konsisten meningkat. Baru menjelang tahun 2018 ketika banyak debitur korporasi mengalami financial distress atau tekanan keuangan, lalu bank asing mulai melakukan bersih-bersih kredit bermasalah. Hasilnya terlihat pada tahun ini CKPN berhasil turun, otomatis ini mengontribusi perolehan laba," terang Bhima.

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA