Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lana Soelistianingsih. Foto: IST

Lana Soelistianingsih. Foto: IST

Skenario Terberat, LPS Sebut 8 Bank Potensi Gagal

Nida Sahara, Kamis, 9 April 2020 | 17:10 WIB

JAKARTA,investor.id -- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) membuat simulai stress test untuk skenario terberat terjadi pada saat ini, akan terdapat setidaknya sekitar delapan bank yang memiliki potensi masuk dalam kriteria menjadi bank gagal.

"Kalau skenario berat sebagaimana yang ditetapkan pemerintah terjadi, kita pernah hitung ada sekitar 8 bank yang dalam potensi dengan kriteria yang ada. Tapi tergantung kapan bank itu diserahkan ke LPS, misal ada 1 dari 8 bank kondisinya dalam pengawasan tapi waktu diserahkan ke LPS bisa jadi makin buruk, jadi butuh dana lebih besar dari sebelumnya," terang Kepala Eksekutif LPS Lana Soelistianingsih dalam video conference, Kamis (9/4).

Lana mengungkapkan, rencana dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memaksa menggabungkan (merger) bank yang masuk dalam pengawasan intensif dalam kondisi saat ini menjadi bentuk pencegahan adanya bank gagal yang diserahkan kepada LPS.

"Itu sebabnya rencana dari OJK untuk merger paksa bank di awal itu akan meringankan LPS. Kami masih harus hitung berapa dana yang dibutuhkan ketika kapan bank diserahkan ke LPS," tambah Lana.

Untuk saat ini, lanjut Lana, LPS memiliki aset senilai Rp 120 triliun, di mana 50% atau sekitar Rp 60 triliun akan direpokan kepada Bank Indonesia (BI) untuk memproses bank gagal, sedangkan sisanya Rp 60 triliun untuk membayar repo ke BI dalam 3 bulan.

Di sisi lain, dalam Perppu 1/2020 diberikan kewenangan untuk melakukan keterlibatan di awal untuk mengetahui bank yang dalam pengawasan intensif OJK. Dengan demikian, dapat membantu kondisi keuangan LPS sebelum melakukan resolusi bank karena akan lebih dahulu mengetahui berapa jumlah bank yang akan diresolusi LPS.

"Ini sangat membantu keuangan LPS, termasuk kita bisa pilih resolusi paling murah. Ketika jadi bank gagal kita pilih yang paling tepat, bahkan " ucap Lana.


 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN