Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Soal Fraud Perbankan, Pengamat: Dana Masyarakat Dipastikan Tetap Aman

Aris Cahyadi, Selasa, 29 Oktober 2019 | 21:03 WIB

JAKARTA, investor.id – Masyarakat dinilai tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan dananya di bank yang sedang terdampak kondisi fraud, atau tindakan curang yang dilakukan oleh sindikat yang menggunakan orang dalam. Pasalnya, selama investasinya jelas, dengan status bank yang juga clear, dana masyarakat yang disimpan akan aman karena dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Pengamat perbankan Refrizal yang juga pernah menjadi anggota Komisi XI DPR RI mengatakan, selain dijamin LPS, kasus fraud perbankan atau investasi bodong itu hanya masalah kasuistik, bukan terkait sistem perbankan secara umum. "Secara umum perbankan kita sudah baik dan aman," kata Refrizal baru-baru ini.

Menurut dia, pengawasan terhadap bank di Indonesia, jauh lebih ketat dan dapat dengan mudah mendeteksi ketika terjadi transaksi yang mencurigakan. Hal ini dipengaruhi keberadaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang selalu dapat notifikasi bila ada transaksi yang tidak wajar.

Meski beberapa kali ada masalah dalam perbankan, Refrizal menyatakan tak seharusnya masyarakat menjadi khawatir dan takut untuk tetep menabung atau berinvestasi. "Sekali lagi, selama instansinya jelas, banknya jelas, masyarakat tidak perlu khawatir, karena kita punya LPS dan menjadi tugas utamanya bank dalam menjamin rasa aman nasabah," tegas dia.

Sementara itu, mengenai jaminan tentang dana simpanan dan investasi, Neneng Setyowati satu nasabah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengatakan masih percaya, merasa aman dan nyaman dengan sistem perbankan tersebut.

Menurut dia, dana dan investasi yang ditaruh di bank, lebih aman dan menguntungkan. "Menurut saya, selama kita mengikuti prosedur, uang yang kita simpan di BNI pasti aman. Karena dijamin oleh LPS. Beda kalau nanti uangnya tidak disimpan di bank," kata dia.

Yang pasti menurut dia, nasabah harus paham bahwa uangnya tersebut disimpan di bank dengan melihat bukti setor. "Bukti setor ini lah yang nanti bisa kita pakai, untuk meminta jaminan, kalau-kalau sesuatu terjadi dengan dana kita di bank itu," ujar dia.

Sesuai dengan Undang-Undang No.24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tanggal 22 September 2004, disebutkan LPS memiliki dua fungsi yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau penanganan bank yang tidak berhasil disehatkan atau bank gagal.

Sebelumnya, Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan menegaskan, dan nasabah yang ditempatkan di BNI tetap aman. Karena itu, nasabah dan masyarakat tidak perlu khawatir untuk tetap bertransaksi di BNI.

Putrama menuturkan, peristiwa yang terjadi di Ambon merupakan perbuatan oknum dalam sebuah sindikat yang tidak dapat mempengaruhi kondisi BNI secara umum. Nasabah dan masyarakat umum diimbau untuk tidak perlu khawatir dan tetap bertransaksi serta menyimpan dana di BNI.

Menurut Putrama, yang akrab disapa Iwan, terdapat beberapa faktor yang menjadi sebab nasabah tidak perlu khawatir soal keamanan dana di BNI. Pertama, layanan perbankan di BNI tetap berjalan normal, termasuk di seluruh outlet yang berada di bawah koordinasi Kantor Cabang Utama Ambon.

Kedua, kepercayaan sebagian besar nasabah tetap terjaga, dibuktikan dengan jumlah transaksi masuk (menabung) lebih besar dibandingkan jumlah transaksi keluar. Ketiga, BNI tetap berkomitmen menjaga ketersediaan uang tunai yang dapat digunakan masyarakat melalui berbagai channel, termasuk mesin ATM selama 24 jam sehari 7 hari seminggu.

"Pelanggaran yang terjadi di Ambon adalah kasus yang memiliki dampak minimal terhadap operasional dan ketersediaan dana di BNI. Kasus ini sudah dalam proses penyelidikan pihak Kepolisian, sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pengungkapannya," ujar Putrama.

Hasil investigasi mengidentifikasi kondisi yang tidak wajar, yaitu terdapat dugaan adanya sindikat yang menawarkan investasi yang tidak wajar. Para anggota sindikat mengumpulkan dana dari para investor dengan dijanjikan imbal hasil yang cukup besar untuk berbisnis. Para penerima aliran dana disinyalir adalah para pemilik modal yang seolah-olah menerima pengembalian dana dan imbal hasil dari oknum tersebut.

Padahal dana yang digunakan berasal dari hasil penggelapan dana bank. Nilai dana yang digelapkan FY berdasarkan hasil pemeriksaan internal mencapai sekitar Rp 58,95 miliar. Atas temuan ini, BNI mengambil tindakan segera dengan melaporkan kejadian ini kepada pihak Polda Maluku untuk mengungkap dan menuntaskan kasusnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA