Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para perempuan prasejahtera produktif nasabah BTPN Syariah di Banyuwangi

Para perempuan prasejahtera produktif nasabah BTPN Syariah di Banyuwangi

Spirit Sinergi Tiga Pilar yang Menjadi Roh BTPN Syariah

Hari Gunarto, Selasa, 10 Desember 2019 | 08:59 WIB

Farliana (33), ibu muda di Perumahan Graha Indah Klatak, Kabupaten Banyuwangi, pernah melewati periode kelam ketika sang suami yang sudah puluhan tahun menjadi pegawai honorer dan magang tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri. Teman-teman suami senasib seperjuangan di kantor dinas kabupaten ujung Jawa Timur itu semuanya sudah diangkat.

Hidup harus tetap berjalan, dapur mesti mengebul. Ibu dua putri itu berinisiatif merintis usaha jualan kerupuk, yang bahan mentahnya diambil dari sebuah pabrik. Lama-lama usahanya berkembang. Dia lalu berkenalan dengan sebuah kelompok ibu-ibu nasabah BTPN Syariah, pada 2017.

Dengan pinjaman awal Rp 5 juta, Farliana membeli peralatan untuk memproduksi krupuk mentah sendiri. Seiring meluasnya pelanggan, dia kemudian mendapat pinjaman hingga Rp 15 juta. Kini, usaha home industry krupuk Winza Jaya yang dia besarkan bersama suami sudah memiliki omzet rata-rata Rp 30 juta per bulan.

Farliana adalah satu potret dari 5,1 juta perempuan prasejahtera produktif nasabah BTPN Syariah, yang niatnya ingin menambah penghasilan keluarga. Karena disalurkan lewat kelompok, BTPN Syariah melibatkan 8.500 tenaga komunitas (community officer) yang umumnya lulusan SMA. Bank ini telah menjangkau 203 ribu kelompok yang tersebar di 2.600 kecamatan di 23 provinsi.

Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty bercerita, awalnya dia merasa prihatin mengapa tidak ada satu pun bank yang peduli terhadap kesejahteraan puluhan juta kaum prasejahtera di negeri ini. Sebab, bagi bank, kaum prasejahtera adalah kelompok yang unbankable lantaran tidak memiliki kolateral, tidak memiliki catatan atau laporan keuangan, dan pasti akan mahal biaya administrasinya bila dijadikan debitur.

“Lantas, apakah harus menunggu kelompok prasejahtera ini untuk berubah? Menunggu 100 tahun pun mereka tidak akan berubah. Bank lah yang harus berubah, mengubah mindset dan mengubah persyaratan,” tegasnya.

Tapi, untuk menaikkan kesejahteraan kelompok ini, butuh akses permodalan. Hanya bank lah yang dapat melakukan pembiayaan itu, karena mampu memobilisasi dana pihak ketiga secara tidak terbatas. Di situlah BTPN Syariah memposisikan diri dengan fokus menggarap serius ceruk pasar ini. “Jadi, ini merupakan peluang sekaligus panggilan,” tutur Ratih.

Dari studi bandingnya ke India, Bangladesh, Meksiko, dan Filipina, Ratih berkesimpulan bahwa gerakan yang terbukti sukses di kelompok sosial-ekonomi level bawah, datangnya dari kaum perempuan. Pola pikir perempuan selalu memikirkan keluarga. Mencari nafkah orientasinya juga murni demi menambah penghasilan keluarga.

Beranjak dari paradigma itulah, BTPN Syariah mengkhususkan diri pada pembiayaan nasabah perempuan prasejahtera produktif. Meski kadang sedikit ‘keluar’ dari pakem hukum besi bank yang rigid, BTPN Syariah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent) dan menomorsatukan kualitas pembiayaan. Itulah sebabnya, tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) bank ini hanya 1,3%.

Dalam pandangan Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah, perempuan memiliki karakter tangguh dan lebih bisa dipercaya. Namun dalam budaya patriarki, perempuan berada pada posisi subordinat. “Padahal, perempuan bukannya tidak berdaya, tapi justru memiliki potensi besar untuk menumbuhkan perekonomian nasional,” kata Piter.

Kaum perempuan terbukti menjadi motor usaha mikro. Piter menjelaskan, jumlah perusahaan mikro mencapai 62 juta unit atau 89,17% dari total perusahaan di Indonesia, dengan penyerapan tenaga kerja 107 juta orang. Karakter usaha mikro adalah no barriers to entry, sehingga patah tumbuh hilang berganti, atau istilah populernya ‘nggak ada matinya’. Memang, bagi bank risikonya tinggi karena tidak memiliki kolateral, juga biaya administrasinya tinggi sehingga umumnya masuk kategori unbankable.

Karena itulah, Piter menilai strategi yang dilakukan BTPN Syariah terhadap kelompok ini sangat tepat dan berhasil, yakni pendekatannya secara kelompok serta diberlakukan sistem tanggung renteng karena tiadanya kolateral. Artinya, jika ada salah satu nasabah yang cicilannya macet, semua anggota kelompok ikut menanggung.

Piter Abdullah menyebut bahwa program pemberdayaan perempuan prasejehtera produktif BTPN Syariah bertujuan untuk membangun empat karakter kunci, yakni berani berusaha, disiplin, kerja keras, dan silodaritas tinggi.

Tiga Pilar Kekuatan

BTPN Syariah memiliki tiga pilar kekuatan yang memiliki tujuan sama. Pertama, nasabah deposan kelompok masyarakat sejahtera yang sangat loyal. Mereka bertahan menyimpan deposito antara 5-10 tahun, tidak tertarik migrasi ke bank lain yang menawarkan iming-iming suku bunga lebih tinggi.

“Deposan loyal ini melihat BTPN Syariah memiliki darma baik, karena uangnya dipakai untuk membiayai perempuan prasejahtera. Mereka tidak usah menunggu pensiun untuk berbuat lebih baik, sehingga mimpinya terwujud lebih cepat. Satu deposan sejahtera mampu memberdayakan 250 perempuan prasejahtera. That is beautiful,” tutur Ratih.

Pilar kedua, nasabah debitur perempuan prasejahtera yang memiliki semangat tinggi untuk menambah penghasilan keluarga. Pilar ketiga adalah karyawan dan para community officer. Mereka yang tidak percaya diri karena tidak bisa kuliah telah mendapatkan banyak ilmu, dan kini menjadi lebih percaya diri dan mahir berkomunikasi.

Spirit yang menjiwai ketiga pilar kekuatan BTPN Syariah tersebut kemudian diartikulasikan ke dalam tema “Wujudkan Niat Baik Lebih Cepat”, tema yang bergema sepanjang ‘penjelajahan’ tim media massa menelusuri para nasabah perempuan inspiratif di Kabupaten Banyuwangi, ujung Jawa Timur. Intinya, bagaimana niat baik seluruh pemangku kepentingan bisa terwujud lebih cepat.

Selain memberdayakan perempuan prasejahtera inspiratif sebagai sebuah pilihan sekaligus panggilan, BTPN Syariah juga istiqomah atau konsisten pada visinya untuk mengubah hidup berjuta rakyat di Indonesia. Seperti kata Ratih, agar BTPN Syariah tidak sekadar menjadi bank yang berorientasi neraca laba-rugi. Toh perpaduan idealisme dan bisnis komersial ini mampu membuahkan hasil yang mencengangkan, laba bersih pada kuartal III-2019 melonjak 40% (year on year) ke posisi Rp 976 miliar.

Sukses BTPN Syariah mematahkan mitos unbankable dan stigma ketidakberdayaan perempuan sangat mungkin akan ditiru oleh bank lain. Itu bagus, artinya semakin banyak lembaga keuangan yang peduli terhadap kaum prasejahtera produktif, yang potensinya mencapai 45 juta orang. Dengan demikian, fenomena ini justru memicu kompetisi. Kita tahu, kompetisi akan melahirkan inovasi, yang berujung pada produk dan layanan yang lebih berkualitas.***

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN