Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sumit Dutta, Presiden Direktur PT bank HSBC Indonesia. Foto: Investor Daily/EMRAL

Sumit Dutta, Presiden Direktur PT bank HSBC Indonesia. Foto: Investor Daily/EMRAL

Tahun Depan, 81% Perusahaan di Asia Tenggara Proyeksikan Pertumbuhan Bisnis Lebih Tinggi

Happy Amanda Amalia, Jumat, 13 Desember 2019 | 13:30 WIB

JAKARTA, investor.id – HSBC menyampaikan, bahwa perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara menempati peringkat teratas secara global dalam hal prospek pertumbuhan dan tanggung jawab keberkelanjutan yang dicanangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Namun, komitmen tersebut perlu direalisasikan secara praktis.

Survei HSBC bertajuk Navigator: Now, next and how, mengungkapkan, 81% perusahaan di Asia Tenggara memproyeksikan pertumbuhan bisnis pada tahun depan lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 79%. Selain itu, 76% perusahaan Asia Tenggara yang disurvei percaya bahwa mereka memiliki peran dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) PBB, dibandingkan rata-rata global 63%.

Temuan yang didapat dari survei Navigator  Navigator: Now, next and how, ini melibatkan lebih dari 9.100 perusahaan di 35 negara dan wilayah, termasuk pandangan para pembuat keputusan kunci di 2.299 perusahaan di Asia Tenggara. Sebanyak 3.252 perusahaan di 12 negara di Asia juga berpartisipasi dalam survei.

Ada pun, penelitian itu dilakukan oleh Kantar untuk HSBC selama periode Agustus hingga September 2019 di mana Navigator membantu perusahaan-perusahaan memanfaatkan peluang baru dan membuat keputusan dengan memahami prospek perdagangan internasional. Optimisme dari perusahaan-perusahaan Asia Tenggara mencerminkan pertumbuhan dan demografi yang menguntungkan di wilayah tersebut. Secara kolektif, produk domestik bruto (PDB) 10 negara Asean mencapai hampir US$3 triliun pada 2018 atau lebih tinggi dari Inggris, Perancis atau India. Bahkan kawasan ini telah mengalami tingkat pertumbuhan hingga 5% selama beberapa tahun.

Namun, kasus untuk pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara tidak dapat disangkal mengingat wilayah ini semakin nyata terkena dampak perubahan iklim secara tidak proporsional. Sebagai contoh, Lloyd memperkirakan risiko kehilangan US$ 22,5 miliar dari PDB hanya karena dampak bencana banjir di kota-kota Asia Tenggara saja. Jika dibiarkan tidak terselesaikan, Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi, perubahan iklim dapat mengurangi PDB Asia Tenggara sebesar 11% pada akhir abad ini.

Head of International and Head of Strategy & Planning HSBC Asia-Pacific Matthew Lobner menyampaikan bahwa Asean adalah ‘rumah’ bagi beberapa bisnis yang paling optimis di dunia.

“Perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan tinggi ini sangat menyadari bahwa tujuan keberlanjutan dan komersial berjalan seiring. Melihat perusahaan-perusahaan Asia Tenggara mempunyai minat terhadap SDGs PBB memang menyenangkan, namun harus menjadi tindakan yang nyata. Manakala investor dan pemerintah meningkatkan fokus mereka pada keberlanjutan, perusahaan pun sekarang harus memberikan fokus pada hal ini,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, Jakarta, Jumat (13/12).

Sedangkan Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta mengatakan, keberlanjutan akan mendorong nilai dan membantu mengamankan kelangsungan bisnis jangka panjang, dan kegagalan untuk melakukan sebuah tindakan sekarang dapat sangat menghambat peluang pertumbuhan Indonesia. Sementara itu, kemajuan pesat sudah dibuat. Lima tahun kedepan merupakan waktu yang penting bagi bisnis untuk memastikan bahwa keberlanjutan tertanam di seluruh lini bisnis dan juga mata rantai mereka.

Oleh karena itu, HSBC telah menyusun saran-saran bagi perusahaan untuk dapat secara progresif menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi dan operasinya:

1. Berpikir jangka panjang dan pendek: Keputusan yang dibuat sekarang akan berpengaruh di masa datang. Dampak perubahan iklim bersifat sistemik, menyeluruh, dan tetap.

2. Berpikir secara menyeluruh: Mempertimbangkan segala sesuatunya dimulai dari penggunaan energi listrik, portofolio aset, asal usul sumber daya, pengemasan dan pengiriman produk, sampai kepada kesiapan operasional. Maksudnya adalah melibatkan seluruh lapisan organisasi dan memasukkan pertimbangan-pertimbangan terkait lingkungan dan hal-hal sosial ke dalam bisnis dan keputusan investasi.

3. Berpikir global: Mencairnya gletser dan naiknya permukaan air laut tidak hanya berakibat buruk untuk penghuni kawasan Greenland atau Tuvalu. Hal-hal ini berdampak luas, terutama pada masa sekarang ini dimana seluruh dunia terhubung.

4. Mengikuti perkembangan: Perubahan teknologi dan inovasi hijau bisa menjadi alternatif untuk menekan karbon di sekitar anda. Sejalan dengan peraturan lingkungan, opsi pembiayaan berkelanjutan dan perkembangan ekspektasi investor dan pelanggan. Anda mungkin menemukan bahwa aksi ramah iklim akan mengangkat - bukan menyeret - keuntungan dan reputasi Anda.

5. Bertindak sekarang dan memberi contoh: Strategi bisnis dan produk tidak dapat digeser dalam semalam - tindakan awal adalah kuncinya.

Sumber : PR

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA