Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Royke Tumilaar,  Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Royke Tumilaar, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk dalam Economy Outlook 2022 yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Senin (22/11/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Tekan Biaya Dana, BNI Berharap Kebijakan GWM dan RIM Diperpanjang

Senin, 22 November 2021 | 16:42 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyampaikan dukungannya atas penurunan bunga kredit. Karena itu, BNI berharap, kebijakan yang diberikan oleh Bank Indonesia (BI) terkait GWM dan RIM bisa diperpanjang. Tujuannya agar perbankan juga bisa menekan biaya dana (cost of fund) kepada masyarakat.  

Sebab, BNI melihat terdapat sejumlah hal yang perlu diwaspadai ke depannya, seperti potensi kenaikan suku bunga The Fed pada pertengahan 2022 yang memungkinkan BI turut menaikkan suku bunga acuan. Hal tersebut pun akan bisa berdampak pada kenaikan cost of fund perbankan.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih terus berupaya untuk menurunkan suku bunga kredit. Namun, dengan adanya tantangan suku bunga global, perseroan mengharapkan kebijakan dari regulator pun bisa diperpanjang.

Ada pun, BI sebelumnya telah melonggarkan giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50 bps berlaku sampai 31 Juni 2021. Untuk rasio intermediasi makroprudensial (RIM) berada pada kisaran 84-94% dilonggarkan menjadi 80-84% hingga 31 Desember 2021.

"Untuk mendukung penurunan bunga kredit, kebijakan yang diberikan BI terkait GWM dan RIM diharapkan bisa diperpanjang, agar menekan biaya dana, atau cost of fund perbankan," harap Royke, dalam Economic Outlook 2022 bertajuk Arah Pergerakan Suku Bunga 2022 yang diselenggarakan Berita Satu Media Holdings, Senin (22/11).

Menurut dia, dengan biaya dana yang bisa ditekan, perbankan pun bisa lebih mudah untuk menurunkan suku bunga kredit. Untuk itu, masih diperlukan perpanjangan berbagai stimulus.

"Upaya yang dilakukan pemerintah, BI, dan OJK, saat ini terbukti efektif dapat memacu pertumbuhan kredit dengan suku bunga relatif rendah. Terlihat secara nasional, kredit tumbuh positif dan bunga kredit terus menurun," papar dia.
Ada pun, suku bunga kredit modal kerja dan kredit investasi sudah di bawah dua digit, tepatnya mendekati 8%.

Rencana Bank Digital

Di sisi lain, BNI juga memiliki strategi efisiensi dengan digitalisasi, terutama tengah berproses untuk mengakuisisi bank yang nantinya ditransformasikan menjadi full bank digital.

Royke menegaskan bahwa bank digital akan menyasar segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini belum terlayani oleh lembaga keuangan formal.

Selain itu, pihaknya menjelaskan, dengan adanya bank digital, BNI mengharapkan bisa lebih efisien, sehingga suku bunga kredit bisa diturunkan. Nasabah pun bisa mendapatkan kredit dengan murah.

BNI juga meminta kebijakan dari regulator agar bank-bank digital tidak menawarkan suku bunga simpanan yang tinggi. Pasalnya, bank digital seharusnya lebih efisien, bukannya membayar bunga lebih mahal. Aturan pun diperlukan untuk membangun kompetisi yang sehat.

"Selain itu, perlu adanya regulasi untuk menjaga level kompetisi yang sehat, di mana mulai marak bank menawarkan produk tabungan dengan tingkat bunga relatif tinggi sekarang ini," tutup Royke.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN