Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

TKB90 Menguat Tipis, Mesin Fintech Lending Kian Cerdas

Prisma Ardianto, Minggu, 12 April 2020 | 18:22 WIB

JAKARTA, investor.id - Industri fintech p2p lending mencatatkan penguatan tingkat keberhasilan pengembalian 90 hari (TKB90) sebesar 6 basis point (bps) menjadi 96,08% pada Februari 2020. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai bahwa mesin para penyelenggara kian cerdas untuk melakukan mitigasi risiko.

Kepala Kepala Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede menyatakan, industri fintech p2p lending memang terbilang baru menginjak usia sekitar tiga tahun. Tapi banyak dari para penyelenggara telah memiliki mesin mitigasi risiko yang sudah terbilang cerdas.

Dia menuturkan, TKB90 bisa mencerminkan kinerja dari mesin tersebut. "Kalau bicara TKB90 turun, itu tanda mereka sedang ekspansi. Kalau TKB90 naik itu tanda suatu paltform sudah mulai cerdas mesinnya," kata Tumbur saat dihubungi Investor Daily, Jumat (10/4).

Meski mengalami penguatan, kata Tumbur, pihaknya tidak bisa mengklaim lebih baik dari industri jasa keuangan lainnya. Bahkan sampai saat ini, pihaknya belum bisa menentukan level ideal dari TKB90 layaknya non performing loan (NPL) perbankan sebesar 5%.

"Biapun nanti tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) meledak lebih dari 7% bukan berarti itu buruk. Karena kita sampai saat ini belum mendapatkan posisi yang ideal dan pasti belum bisa stabil," ungkap dia.

Tumbur menjelaskan, ketidakstabilan TKB90 menjadi hal wajar bagi industri fintech p2p lending saat ini. Karena mesin dari para penyelenggara mesti terus belajar memitigasi risiko. Biasanya, jika jumlah pembiayaan tersalurkan suatu penyelenggara kesuatu dearah sudah cukup banyak, maka mesin pun menjadi lebih cerdas untuk memitigasi risiko. Hal tersebut yang kemudian membuat mesin makin selektif dan mendorong level TKB90 menguat.

Di sisi lain, sambung dia, para penyelenggara juga berupaya melakukan ekpansi bisnis guna merambah daerah-daerah baru. Pada saat itu, bisa jadi TKB90 akan terlihat menurun. Karena mesin mesti kembali belajar untuk mengenali perilaku calon penerima pinjaman (borrower).

"Kalau misalnya suatu platform mencoba ekspansi di daerah yang baru, maka mesinnya akan mulai berlajar lagi sehingga TKB90-nya akan terlihat menurun. Makanya nanti itu akan terlihat turun naik, dan itu wajar," terang Tumbur.

Meski tipis, menurut Tumbur, penguatan TKB90 pada bulan Februari 2020 sangat mengesankan. Karena beberapa waktu belakangan banyak dari para penyelenggara sedang agresif melakukan ekspansi bisnis ke daerah-daerah. Secara teori, hal tersebut berpotensi menggerus TKB90 industri tapi pada realisasinya tidak demikian.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Per Februari 2020, TKB90 industri fintech p2p lending berapa pada posisi sebesar 96,08%, meningkat 6 bps dibandingkan Januari 2020 sebesar 96,02%. Sementara itu, akumulasi pembiayaan hingga Februari 2020 masih tumbuh 17,05% secara year to date (ytd).

Akumulasi penyaluran pembiayaan untuk wilayah Pulau Jawa mencapai Rp 81,63 triliun, atau naik 16,91% (ytd). Sementara itu, akumulasi penyaluran pembiayaan di luar Pulau Jawa mencapai Rp 13,76 triliun atau meningkat 17,88% (ytd).

Sebelumnya, Presiden Direktur UangTeman Aidil Zulkifli menyampaikan, TKB90 perseroan masih terjaga stabil pada posisi 95,17%. Perseroan memperkirakan posisi tersebut tidak akan menurun dalam beberapa waktu kedepan terkait penyebaran virus corona (Covid-19). Karena sejak pandemi itu mulai mencuat, perseroan sudah membuat kebijakan lebih selektif menyalurkan pembiayaan.

"Ke depannya, analiasa saya kualitas kredit kita semoga saja itu akan stabil karena kita sudah mengimplementasi risk control yang cukup ketat. Jadi tidak ada penurunan baik dari TKB atau jumlah lender," jelas Aidil.

Di samping itu, Co-Founder & CEO Modalku Reynold Wijaya mengaku, pihaknya juga telah menerapkan langkah-langkah untuk memantau dan mengelola risiko pada portofolio dalam beberapa waktu ke depan untuk mnegantisipasi dampak penyebaran Covid-19. Salah satunya, perseroan akan melakukan proses seleksi yang lebih komprehensif terhadap calon borrower maupun UMKM yang sudah menjadi borrower di Modalku.

"Beberapa industri seperti food & beveragetravel, perdagangan lintas negara, dan industri jasa yang bergantung pada tenaga kerja dari negara- negara yang terkena dampak di Asia Tenggara akan mendapat perhatian lebih dari Modalku ketika melakukan penilaian pengajuan pinjaman," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN