Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wapres Maruf Amin. Sumber: BSTV

Wapres Maruf Amin. Sumber: BSTV

Wapres: Bank Syariah Hasil Merger Dapat Bantu Pulihkan Ekonomi

Kamis, 6 Agustus 2020 | 17:03 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengaku optimistis Indonesia akan menjadi pusat keuangan syariah dunia, apalagi jika anak usaha bank-bank pelat merah digabungkan (merger) akan membantu pemulihan ekonomi nasional..

Saat ini ekonomi syariah di Indonesia telah berkembang pesat baik dari segi aturan dan kelembagaan.

Untuk memaksimalkan potensi ekonomi syariah, pemerintah akan fokus pada empat hal yakni memperkuat industri keuangan syariah, industri halal, pendanaan sosial, dan usaha berbasis syariah. Fokus utama yang diprioritaskan adalah penguatan kelembagaan dan keuangan syariah.

Dalam memperkuat kelembagaan dan industri keuangan syariah, merger bank syariah menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh. Menurut Ma’ruf, Indonesia saat ini masih belum memiliki bank syariah yang besar untuk jadi pusat keuangan syariah dunia.

Menurut dia, merger bank syariah sudah menjadi gagasan karena Indonesia belum punya bank syariah yang masuk 20 besar dunia. Selain itu juga sebaiknya tidak terlalu banyak bank yang potensinya kecil-kecil.

"Oleh karena itu, bank syariah hasil merger bisa berperan untuk kepentingan dalam negeri dan luar negeri. Bank syariah yang besar bisa lebih melayani proyek-proyek besar atau kegiatan ekonomi yang lebih besar supaya lebih cepat dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional," terang Ma’ruf dalam webinar Optimalisasi Kontribusi Ekonomi dan Perbankan Syariah di Era New Normal, Kamis (6/8).

Pihaknya menyebut, dalam perundang-undangan ekonomi syariah sudah melahirkan Undang-Undang perbankan syariah, surat berharga syariah negara, sukuk, asuransi, dan pasar modal. Sedangkan dari kelembagaan, telah lahir berbagai perbankan syariah, koperasi syariah, asuransi hingga reksa dana syariah.

"Kita ingin menjadi pusat keuangan syariah dunia, sekarang yg paling tinggi sukuknya di dunia itu Indonesia, sudah melewati Uni Emirat Arab dan Malaysia. Dari segi kelembagaan bisa dilihat kita sudah berkembang pesat jadi ekonomi syariah sudah menjadi sistem nasional dan berkembang," kata Ma'ruf.

Wapres menambahkan, Indonesia juga harus mengembangkan industri halal dengan memberikan kesempatan kepada produk halal baik barang dan jasa seperti wisata halal. Kemudian pengembangan ekonomi syariah juga harus didukung dari dunia pendidikan seperti pesantren, sekolah tinggi ekonomi islam, dan program studi ekonomi syariah.

"Kita juga fokus mengembangkan industri halal, selama ini kita baru pada sertifikasi halalnya. Untuk sertifikasi halal, Indonesia menjadi rujukan dunia global, karena standar halal kita dipakai lebih dari 50 lembaga sertifikasi halal dunia. Namun, untuk produk halal kita masih tertinggal jauh sekali," sambung Ma’ruf.

Selain itu, dana sosial juga cenderung masih kecil, seperti zakat dan wakaf. Jika dana sosial tersebut dimaksimalkan, tentunya dapat membantu perkembangan ekonomi nasional.

Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir kembali mengajukan wacana merger bank syariah milik bank-bank BUMN demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Anak usaha syariah Himbara tersebut disebut rampung dilebur pada Februari tahun depan.

Adapun bank-bank syariah yang rencananya akan di-merger adalah PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah), dan PT Bank BNI Syariah. Bank Syariah Mandiri memiliki fokus di segmen kredit korporasi, sedangkan Bank BRI Syariah memiliki fokus pada penyaluran pembiayaan di segmen UMKM.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN