Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Co-Founder & COO Xendit Tessa Wijaya pada diskusi virtual bertema Momentum Ekspansi Ekonomi Digital di acara Economic Outlook 2022 yang ditayangkan Beritasatu TV, Kamis (25/11). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Co-Founder & COO Xendit Tessa Wijaya pada diskusi virtual bertema Momentum Ekspansi Ekonomi Digital di acara Economic Outlook 2022 yang ditayangkan Beritasatu TV, Kamis (25/11). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Xendit Proses Rp 142 Triliun Volume Transaksi Per Tahun

Kamis, 25 November 2021 | 20:04 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Fintech payment gateway, Xendit, mencatat volume transaksi mencapai Rp 142 triliun per tahun. Perusahaan juga mencatat sebanyak 8 ribu UMKM mendaftarkan diri untuk bisa menerima pembayaran secara online dan berkomitmen terus mendukung UMKM go digital.

Co-Founder & COO Xendit Tessa Wijaya menyampaikan, Xendit adalah perusahaan penyedia infrastruktur pembayaran digital bersifat business to business (B2B) yang membantu para pelaku usaha go digital untuk menerima pembayaran dan melakukan pembayaran. Sampai saat ini, perusahaan pun sudah mampu memproses lebih dari 110 juta transaksi per tahun.

"Sekarang ini Xendit sudah memproses kira-kira sebanyak Rp 142 triliun volume transaksi per tahun. Tidak hanya di Indonesia, sekarang ini sudah Xendit sudah berkembang ke Filipina. Kami memiliki tim lebih dari 700 orang, sudah berkembang dengan pesat. Kami sudah membantu sejumlah startup dan perusahaan besar. Kami juga bangga dapat mendukung UMKM di Indonesia untuk bertransaksi secara online," kata Tessa pada diskusi virtual bertema Momentum Ekspansi Ekonomi Digital serangkaian acara Economic Outlook 2022 hari ke-4 yang ditayangkan BeritasatuTV, Kamis (25/11).

Dia memaparkan, Indonesia punya potensi yang sangat besar untuk menjadi pemimpin pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara. Saat ini Indonesia sudah mempunyai nilai pembayaran online yang terbesar di Asia Tenggara dan diprediksi tumbuh dua kali lipat dalam empat tahun ke depan.

Hal itu tercermin dari kontribusi ekonomi digital terhadap PDB yang relatif kecil yakni 4%. Akan tetapi rasio itu dipercaya melaju kencang menjadi 20% dalam waktu 10 tahun mendatang. "Jadi memang perkembangan ekonomi digital amat krusial di Indonesia," imbuh Tessa.

Menurut dia, Indonesia diuntungkan karena lebih siap go digital dibandingkan negara lainnya. Masyarakat kini sudah terbiasa dengan berbagai transaksi secara digital melalui ponsel dan penetrasi internet yang akseleratif. Namun potensi ekonomi digital itu harus dioptimalkan melalui dukungan dan peran serta dari berbagai pihak, termasuk berbagai infrastruktur pendukung.

"Tapi jangan dilupakan bahwa ekosistem infrastruktur digital sangatlah penting, misalnya soal keamanan data dan berbagai infrastruktur lainnya. Jadi ada banyak fintech, perusahaan tradisional seperti bank, dan bahkan regulator. Peran semua pihak sangat penting agar ekonomi digital berkembang pesat," kata Tessa.

Dia menilai, semua pihak dalam ekosistem digital harus menjaga momentum tersebut. Sempat melambat di awal pandemi, kini jumlah transaksi dan volume transaksi digital terus melesat. Salah satu faktornya adalah perpindahan tren pembayaran digital yang tidak hanya dilakukan perusahaan besar, tapi juga diikuti oleh para UMKM.

"Sampai Agustus 2021, ada 8 ribu UMKM mendaftarkan diri di platform Xendit untuk dapat menerima pembayaran secara online. Ini mengindikasikan bahwa mereka ingin membuka toko online dan berdagang secara online," beber Tessa.

Di sisi lain, Tessa mengungkapkan, dunia digital, fintech, dan startup bukan tanpa tantangan. Secara makro, Indonesia ini menjadi negara unik, ada lebih dari 17 ribu pulau dan menjadi tantangan tersendiri bagi para pebisnis. Apalagi akses internet relatif belum merata. Sebesar 51% dari populasi belum punya akses ke layanan keuangan dan masih menggunakan uang tunai.

Di fintech pun ada beberapa tantangan. Masih banyak metode pembayaran yang bisa dipakai oleh masyarakat seperti virtual account, e-wallet, dan transaksi melalui 140 bank, membuat orang bisa bingung memilih layanan transaksi yang aman. Berikutnya, alur pembayaran belum terstandarisasi.

Kemudian know your customers (KYC) kerap belum direalisasikan utuh sehingga terkadang menjadi tantangan. Xendit yang ingin membantu berbagai segmen UMKM misalnya, masih menemui kendala karena menemukan banyak orang yang memiliki identitas serupa.

"Sederet tantangan itu memang sebenarnya tidak terlalu sulit dan sudah mulai dibenahi pemerintah. Selain itu, para startup pun bisa ikut berinovasi dalam bidang tersebut," kata Tessa.

Lebih lanjut, Xendit berkomitmen akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Hal itu dilakukan melalui pengembangan inovasi dari berbagai aspek KYC dan keamanan sebagai dukungan pada produk pembayaran.

"Dari segi pembayaran dan metode pembayaran misalnya fraud rate, di Xendit tentu berupaya menekan hal itu agar setiap pembayaran dipastikan dilakukan oleh orang yang seharusnya. Kami mempunyai fraud engine sendiri dan menganggap serius hal ini supaya para pengguna merasa aman," ucap dia.

Ke depan, Xendit juga berwacana untuk menjadi mobile first, sehingga berbagai produk bisa lebih mudah digunakan UMKM secara online. Lalu sebagai dukungan kepada UMKM, Xendit memperluas layanan dengan menyediakan produk pinjaman seperti modal kerja dan modal usaha. Produk pinjaman dengan tingkat bunga yang kompetitif diharapkan ikut mendorong UMKM berkembang lebih pesat lagi.

"Intinya impian Xendit bukan hanya menjadi pembangun jalan tol (keuangan digital) saja, tapi harapannya membangun semua infrastruktur digital di Indonesia. Impiannya mendukung perekonomian digital Indonesia berkembang lebih lanjut lagi," tandas Tessa. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN