Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kredivo. Salah satu fintech lending

Kredivo. Salah satu fintech lending

2021, AFPI Proyeksi Pembiayaan Fintech Lending Rp 89 Triliun

Kamis, 8 Oktober 2020 | 06:51 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksi fintech peer to peer (P2P) lending akan menyalurkan pembiayaan mencapai Rp 89 triliun pada 2021.

Kebiasaan masyarakat akan penggunaan digital dan perbaikan ekonomi tahun depan menjadi faktor fintech lending bisa bertumbuh.

Berdasarkan Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diolah AFPI, penyaluran pembiayaan fintech lending mampu tumbuh setiap tahun. Pada 2018, pembiayaan naik 567% secara tahunan (year on year/ yoy) menjadi Rp 20 triliun.

Pada 2019, pembiayaan kembali naik 205% (yoy) menjadi sebesar Rp 58 triliun.

Ketua Harian AFPI Kuseryansyah menyampaikan, pihaknya optimistis pada tahun ini fintech lending masih mampu menyalurkan pembiayaan sekitar Rp 60 triliun atau atau naik 2-5% (yoy). Nilai tersebut sempat dikoreksi dari proyeksi pertumbuhan sebelumnya sebesar Rp 86 triliun, lantaran dampak pandemi Covid-19.

Padahal jika situasi normal, pertumbuhan lebih pesat akan dicatatkan pada 2021 sebesar Rp 115 triliun.

“Kami optimistis pada tahun depan bisa mendapatkan angka Rp 89 triliun itu atau tumbuh sebesar 48% dari proyeksi tahun ini,” kata Kuseryansyah pada acara webinar bertema Peran Literasi Keuangan Digital Bantu Pemulihan Ekonomi Nasional kolaborasi AFPI dengan Kredivo, Rabu (7/10).

Namun demikian, pria yang kerap disapa Kus itu menyatakan, proyeksi pertumbuhan tersebut perlu menimbang sejumlah faktor pendukung. Di antaranya adalah program pemulihan ekonomi nasional (PEN) bisa cepat direalisasikan.

Selain itu, pemerintah bisa segera menyediakan vaksin Covid-19 bagi masyarakat di akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Selain itu, sambung dia, pemantik lain adalah perilaku masyarakat yang kini secara masih mengadopsi layanan digital, termasuk layanan fintech lending.

Dari faktorfaktor tersebut diharapkan permintaan pembiayaan pada fintech lending dapat meningkat tajam tahun depan.

Kus menuturkan, potensi untuk fintech lending bertumbuh perlu diiringi para penyelenggara mengakselerasi dan menangkap peluang pasar.

Hal itu telah dibuktikan sejumlah penyelenggara yang masih mampu mencatatkan kinerja positif di tengah pandemic Covid-19.

“Beberapa platform fintech lending didapati memang tumbuh, bahkan ada yang sampai 200%. Karena masuk di sektor yang pada masa pandemi ini seperti kesehatan, ekosistem digital, logistik untuk kebutuhan bahan dasar, dan makanan dalam kemasan,” ucap dia.

Menurut dia, selain cepat dalam menyalurkan pembiayaan, fintech lending perlu cepat beradaptasi akan kebutuhan di pasar. Salah satunya memastikan profil kebutuhan masyarakat dapat terus dipantau.

Oleh karena itu, para penyelenggara turut diharapkan terus meningkatkan pembelajaran mesin (artificial intelligence/ AI) untuk menyambut pada saatnya pasar kembali bergairah.

“Saya yakin Indonesia akan menjadi pasar digital yang pertumbuhannya luar biasa. Kedepan juga diharapkan pemerintah tak luput memberi perhatian terhadap investasi infrastruktur telekomunikasi. Sehingga fasilitas dan layanan digital bisa juga banyak dirasakan di luar Jawa,” ujar Kus.

Sementara itu, General Manajer Kredivo Indonesia Lily Suriani menyampaikan, pihaknya pun tetap optimistis pada strategi yang kini dijalankan. Apalagi menjelang akhir tahun perseroan meyakini bisa meningkatkan cakupan pasar melebihi capaian per bulan sebesar 20-30%. Hal itu didukung berbagai penyelenggaraan acara akhir tahun di platform e-commerce.

“Jadi harapan kami sangat besar pada Desember tahun ini akan baik. Kami targetkan pada kuartal IV-2020 bisa naik 50% dari kuartal III-2020. Diharapkan juga setiap event yang dilakukan e-commerce bisa semakin meningkat dan sesuai dengan kenaikan yang kami lihat tahun 2019,” terang dia.

Lily menambahkan, di masa mendatang pihaknya juga siap untuk menjajakan pembiayaan produktif sebagai bagian dari penetrasi pasar dan pemenuhan arahan OJK.

Di samping itu, antisipasi risiko pembiayaan juga terus ditingkatkan dengan aktif mengedukasi para penerima pinjaman.

Penetrasi Luar Jawa

Pada kesempatan iru, Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech OJK Munawar Kasan mengatakan, fintech lending memiliki banyak peran dalam pemulihan ekonomi nasional.

Dukungan terhadap bisnis UMKM dan restrukturisasi yang telah dijalankan sejumlah penyelenggara misalnya. Tapi, peran itu bisa lebih besar jika jangkauan penyelenggara lebih luas.

“Saat ini baru 15% transaksi fintech lending itu di luar Jawa, masih relatif kecil. Fokus OJK ada dua, meningkatkan kualitas dan produktivitas industri. Kami menekankan kontribusi sektor pembiayaan produktif, karena saat ini sektor pembiayaan produktif masih kecil. Kemudian kontribusi di luar Jawa masih relatif rendah, diharapkan ada pemerataan oleh para penyelenggara ini,” ucap Munawar.

Dia menuturkan, salah satu dukungan OJK adalah membuat aturan bahwa setiap penyelenggara sejak terdaftar wajib melakukan edukasi sebanyak 12 kali di di berbagai daerah di luar Jawa.

Selain karena volume transaksi yang masih kecil, tingkat inklusi dan literasi fintech lending di luar Jawa juga relatif rendah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN