Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekjen Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Dickie Widjaja dalam diskusi bertajuk

Sekjen Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Dickie Widjaja dalam diskusi bertajuk "Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol", Sabtu, 16 Oktober 2021.

Aftech: Pinjol Ilegal Bukan Fintech, Tapi Rentenir Online

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 13:01 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id – Di tengah tekanan ekonomi sebagai dampak pandmei Covid-19, keberadaan pinjaman online (pinjol) ilegal kian marak.  Keberadaan pinjol ilegal terbukti merugikan masyarakat karena menerapkan bunga pinjaman yang besar, hingga sistem penagihan utang yang meresahkan.

Sekjen Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Dickie Widjaja menambahkan, praktik pinjol ilegal lebih tepat disebut rentenir online karena menjalankan bisnis yang tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  

“Kalau ada perusahaan yang mengklaim mereka bergerak di satu industri tetapi ilegal, biasanya tidak akan dipanggil perusahaan tersebut. Kami pun tidak pernah memanggil mereka pinjol ilegal, tetapi rentenir online,” kata Dickie dalam diskusi bertajuk “Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol”, Sabtu (16/10/2021).

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing juga mengatakan praktik pinjol ilegal bukanlah bisnis financial technology atau fintech, melainkan tindak kriminal. Karenanya, pemberantasan pinjol ilegal perlu melibatkan seluruh stakeholder karena sangat meresahkan. Sebaliknya, keberadaan fintech yang legal atau sudah terdaftar dan berizin di OJK  justru sangat membantu masyarakat yang selama ini tidak bisa mengakses layanan perbankan.

Dari 106 fintech peer-to-peer lending yang terdaftar dan berizin di OJK, hingga saat ini sudah menyalurkan pinjaman kepada 68,4 juta orang dengan total pinjaman hampir mencapai Rp 250 triliun. “Keberaan fintech legal ini sangat membantu masyarakat, sehingga harus kita bangun. Sementara pinjol ilegal adalah kejahatan yang bukan merupakan fintech, sehingga harus kita berantas,” kata Tongam.

Tongam menambahkan, selain menerapkan bunga tinggi yang tidak sesuai dengan perjanjian awal, pinjol ilegal kerap meminta akses ke semua data dan nomor kontak di telepon yang kemudian dijadikan “senjata” untuk melakukan teror bila si peminjam tidak bisa melunasi pinjaman. Karenanya, Tongam mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengakses pinjol ilegal. Bila memang membutuhkan pinjaman, lakukan pinjaman di fintech peer to peer lending yang terdaftar di OJK.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN