Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Satgas Waspada Investasi Investasi Tongam L. Tobing  dalam diskusi bertajuk Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol, Sabtu, 16 Oktober 2021.

Ketua Satgas Waspada Investasi Investasi Tongam L. Tobing dalam diskusi bertajuk Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol, Sabtu, 16 Oktober 2021.

3.515 Pinjol Ilegal Sudah Diblokir, Kenali Ciri-Cirinya

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 16:54 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id – Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing menyampaikan, hingga saat ini Satgas Waspada Investasi telah menghentikan kegiatan 3.515 pinjaman online (pinjol) ilegal. Namun tiap kali diblokir, biasanya akan muncul yang baru dengan nama berbeda.

Karenanya, masyarakat diminta untuk lebih waspada dengan memperhatikan ciri-ciri pinjol ilegal. Pertama, perusahaan mereka tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini ada 106 fintech peer-to-peer lending yang sudah terdaftar dan mengantongi izin OJK yang daftarnya bisa dilihat di website resmi OJK.

“Ciri utama pinjol ilegal adalah tidak terdaftar di OJK. Jadi mereka memang tidak mendaftar karena sengaja ingin melakukan kejahatan,” kata Tongam dalam diskusi bertajuk “Jerat Pinjol Ilegal Bikin Benjol”, Sabtu (16/10/2021).

Ciri kedua, pinjol ilegal biasanya tidak diketahui pemilik dan juga alamat kantor operasionalnya. Satgas Waspada Investasi pernah mengambil sampel sebanyak 2.700-an pinjol ilegal dari total 3.515 pinjol ilegal yang kegiatannya dihentikan. Dari sampel tersebut, ada 22% servernya ada di Indonesia, kemudian 34% servernya di luar  negeri, dan sisanya atau 44% tidak diketahui karena menggunakan media sosial.

Ciri ketiga, lanjut Tongam, pinjol ilegal sangat mudah memberikan pinjaman, cukup dengan fotokopi KTP dan foto diri. Namun dalam praktiknya, pinjol ilegal kerap kali menipu para korban. Misalnya dengan menerapkan bunga tinggi yang tidak sesuai perjanjian awal, serta jangka waktu pembayaran yang juga lebih singkat dari perjanjian.

“Pinjol ilegal juga selalu meminta kita mengizinkan semua data dan kontak yang ada di handphone bisa diakses. Data inilah yang nantinya digunakan sebagai alat untuk menagih utang beserta bunganya yang besar dengan cara menghubungi orang-orang yang ada di daftar kontaknya,” kata Tongam.

Agar tidak menjadi korban pinjol ilegal, Tongam menghimbau masyarakat untuk lebih bijak saat meminjam. Lakukan pinjaman online hanya di fintech yang legal. “Kalau memang ingin meminjam, usahakan meminjam sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar, jangan untuk “gali lobang tutup lobang” atau meminjam untuk membayar utang sebelumnya karena ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Tongam juga berpesan agar pinjaman online tersebut digunakan untuk kepentingan produktif dan mendorong ekonomi keluarga. Kemudian karena pinjaman online ini merupakan perjanjian hubungan perdata, maka sebelum ada perjanjian tersebut, masyarakat harus memahami dulu manfaat, kewajiban dan juga risikonya.

 

 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN