Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi reksa dana. Foto: Pixabay

Ilustrasi investasi reksa dana. Foto: Pixabay

Investasi Optimal lewat Reksa Dana Pasar Uang

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:12 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Meski kerap dianggap sebagai instrumen dengan tingkat risiko rendah, investasi reksa dana pasar uang tetap harus dilakukan dengan perhitungan dan pengambilan keputusan yang tepat. Jika sampai salah langkah dalam berinvestasi, bukan tidak mungkin Anda selaku investor akan mengalami kerugian.

Dewasa ini. reksa dana telah dianggap oleh banyak investor sebagai salah satu instrumen investasi andalan. Hal ini dikarenakan cara kerja dari produk tersebut cenderung simpel dan bisa dimulai dengan modal kecil sehingga mampu dijangkau oleh hampir semua kalangan.

Hanya saja, saat berinvestasi reksa dana, ada beragam risiko yang perlu Anda perhatikan agar aktivitas tersebut tak berakhir merugikan. Tak terkecuali pada reksa dana jenis pasar uang yang dikenal memiliki tingkat risiko paling rendah sekalipun. 

Berbagai Risiko pada Reksadana Pasar Uang

Agar mampu lebih optimal berinvestasi reksa dana pasar uang, simak apa saja risiko dan tips mengoptimalkan keuntungannya berikut ini: 

1. Nilai Bunga Mempengaruhi Peluang Return

Risiko pertama pada reksa dana pasar uang adalah nilai bunga akan mempengaruhi nilai keuntungan investasi. Fluktuasi suku bunga menyebabkan naik turunnya peluang return yang mungkin didapatkan oleh investor. 

Perubahan tersebut pun bisa terjadi kapanpun dan sulit diprediksi sehingga pihak investor perlu selalu mengecek kondisi ekonomi guna memastikannya. 

2. Risiko Terjadinya Wanprestasi

Risiko yang kedua adalah wanprestasi atau kegagalan pembayaran dana oleh pihak pengelola, dalam hal ini manajer investasi. Saat terjadi wanprestasi, pihak investor tidak akan bisa mencairkan dana investasinya karena manajer investasi juga mendapatkan instruksi penarikan dana besar-besaran dari investor lainnya. 

Walaupun mungkin sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi, tapi Anda tetap harus mewaspadai akan risiko terjadinya masalah ini.  

3. Risiko Dana Tidak Bisa Dicairkan 

Dalam kondisi yang stabil, reksa dana pasar uang pada dasarnya memiliki tingkat likuiditas yang tinggi dan bisa dicairkan menjadi dana tunai dengan mudah. Meski begitu, terdapat kondisi di mana likuiditas produk investasi tersebut menjadi rendah akibat beberapa faktor. 

Contohnya adalah wanprestasi atau pihak manajer investasi kesulitan dalam mempersiapkan dana yang harus dicairkan kepada para investor sekaligus. 

4. Risiko Politik dan Ekonomi

Meski cenderung memiliki tingkat risiko yang rendah, investor reksa dana pasar uang tetap harus mengetahui perkembangan dari kondisi politik dan ekonomi. Tujuannya untuk lebih mudah membuat prediksi terkait perkembangan asetnya.

5. Risiko dari Faktor Luar

Risiko ini berasal dari adanya kemungkinan perubahan aturan mengenai investasi reksa dana ini. Perubahan aturan atau ketentuan tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu dan mungkin sulit untuk bisa diprediksi. 

Tips Investasi Reksa Dana Pasar Uang

Risiko pada setiap jenis investasi apapun itu pasti ada namun besar atau tidaknya risiko tersebut tergantung dari bagaimana cara Anda menetapkan dan menjalankan strategi investasi. 

Berikut beberapa tips berinvestasi yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir tingkat risiko investasi pada reksa dana pasar uang:

1. Perpanjang Durasi Investasi

Selayaknya produk investasi lainnya, Anda bisa mengoptimalkan keuntungan investasi reksa dana pasar uang dengan memperpanjang durasi investasinya. Dengan jangka waktu yang lebih panjang, imbal hasil investasi mampu berlipat ganda. 

2. Terapkan Metode Dollar Cost Averaging

Tips lainnya saat investasi reksa dana pasar uang adalah menerapkan strategi atau metode dollar cost averaging. Strategi ini mampu membantu investor agar melakukan investasi dengan konsisten dan rutin. 

Dengan strategi ini pula Anda diharapkan dapat membeli reksa dana tanpa memperhatikan NAB atau nilai aktiva bersihnya sehingga tetap akan membelinya ketika pasar uang tengah naik atau menurun.

Penerapan strategi ini juga bisa membantu Anda untuk terhindar dari risiko kerugian saat membeli aset. Risiko pembelian reksa dana ketika harga tinggi akan ditekan ketika Anda membelinya kembali saat harganya sedang murah. Dalam kata lain, jika dihitung keseluruhan, nilai rata-rata dana yang dikeluarkan untuk membeli jenis aset ini akan lebih kecil. 

3. Manfaatkan Segala Kelebihan yang DItawarkan Platform Investasi

Jika Anda berinvestasi menggunakan platform atau aplikasi berbasis digital, jangan ragu untuk memanfaatkan segala fitur dan kelebihan yang disediakan. 

Sebagai contoh, jika ada penawaran promo, Anda dapat menggunakannya ketika membeli reksa dana secara online agar biayanya menjadi jauh lebih terjangkau. Hal ini secara tidak langsung bisa dianggap sebagai imbal hasil yang bisa Anda dapatkan saat berinvestasi.

4. Lakukan Diversifikasi

Tips yang terakhir, pastikan untuk melakukan diversifikasi ketika berinvestasi di instrumen apa pun, tak terkecuali reksa dana pasar uang. Mengapa diversifikasi penting untuk dilakukan? Alasannya agar investor mampu meminimalkan risiko kerugian dan kehilangan seluruh nilai portofolionya saat berinvestasi.

Diversifikasi bisa dilakukan dengan membagi modal investasi ke beberapa produk sekaligus. Misalnya, letakkan sebagian dana investasi di reksa dana pasar uang, sebagian lagi di reksa dana saham ataupun campuran dengan menyesuaikan profil risiko. 

Selain itu, jangan pula untuk mudah terpengaruh tren investasi di masyarakat yang tak sesuai dengan strategi atau profil risiko. Pasalnya, saat ternyata keputusan tersebut tidak tepat, Anda sendirilah yang harus menanggung kerugiannya. 

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN