Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iklan untuk aset kripto Bitcoin di sebuah jalan di Hong Kong pada 17 Februari 2022. (FOTO: AP/Kin Cheung, File)

Iklan untuk aset kripto Bitcoin di sebuah jalan di Hong Kong pada 17 Februari 2022. (FOTO: AP/Kin Cheung, File)

Indonesia Butuh Regulasi Customer Onboarding di Perdagangan Kripto

Jumat, 22 Juli 2022 | 12:43 WIB
Zsazya Senorita (redaksi@investor.id)
JAKARTA, Investor.id  – Indonesia dinilai perlu memiliki regulasi yang mengatur customer onboarding untuk aplikasi perdagangan kripto. Sebab, ketepatan pencatatan data atau identitas pengguna aplikasi dipercaya dapat meningkatkan keamanan transaksi kripto.
 
Hal ini diungkapkan Indonesia Country Manager ADVANCE.AI Ronald Molenaar, perusahaan artificial intelligence (AI). Perusahaan ini menyediakan teknologi untuk verifikasi identitas digital, penilaian kredit alternatif, pencegahan penipuan, dan solusi manajemen risiko.
 
“Khusus kripto, kami lihat untuk customer onboarding harus ada regulasi, seperti apa tahap-tahapnya. Kemudian monitoring transaksi tidak ada sama sekali. Kami ingin ada regulasi untuk memonitor setiap transaksi kripto agar bisa diaudit,” jelas Ronald kepada Berita Satu Media Holdings, Kamis (21/7/2022).
 
Bila regulasi tersebut ada, ia percaya ekosistem perdagangan kripto di Indonesia akan terhindar dari praktik pencucian uang. Pasalnya, Ronald menilai, industri ini cukup banyak diminati masyarakat dengan jumlah investor yang mencapai 16 juta orang,  lebih banyak dibanding investor saham. Sehingga keberadaan standar pencatatan data pelanggan dinilai harus diatur pemerintah, guna memberi keamanan bagi investor maupun perusahaan perdagangan kripto.
 
"Bedanya, digital bank dan multifinance, onboarding customer ada regulasi OJK, kalau kripto di bawah Bappebti Kementerian Perdagangan, regulasi untuk onboarding customer belum ada. Tapi perusahaan perdagangan kripto merasa kalau ada ini, mereka harus investasi untuk teknologi,” sambung dia.
 
ADVANCE.AI memulai bisnisnya di Indonesia pada 2016 yang berfokus pada industri perbankan, layanan keuangan, teknologi finansial (tekfin), kripto, pembayaran, dan e-commerce. Memiliki 700 lebih klien di seluruh dunia, solusi teknologi perusahaan ini telah digunakan oleh Bank Jago, Bank BTPN, Tokopedia, MNC Bank, Bank Mega, Gojek, Standard Chartered, hingga Shopee di Indonesia.
 
Ronald mengatakan, Indonesia adalah pasar terbesar ADVANCE.AI karena memiliki potensi dari 279 juta penduduk di dalamnya. Solusi teknologi yang disediakan ADVANCE.AI dipercaya bisa membantu transaksi online bagi 100 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening bank.
 
Sebab, ADVANCE.AI memiliki tingkat akurasi Optical Character Recognition (OCR) hingga 99% dengan akurasi data lain di kisaran 97%. Ronald mengatakan, ini lebih tinggi dibanding penyedia teknologi serupa yang akurasinya di kisaran 80-85%. Manajemen ADVANCE.AI juga mengaku, pihaknya telah terkoneksi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk biometrik wajah.
 
“Kami bangga dengan tingkat akurasi kami yang tinggi. Pernah kami mencoba dengan KTP yang sudah pudar atau hampir rusak, tetap terbaca data di kartunya,” ungkap dia.
 
Dalam customer onboarding teknologi yang disediakan ADVANCE.AI bisa memeriksa kepegawaian seseorang, verifikasi alamat dan pendapatan, hingga blacklist check hasil kerja sama dengan Visa dan Mastercard.
 
“Dari data email juga bisa tahu orang tersebut aktif di sosial media mana saja. Nomor telepon bisa dicek aktif atau tidak. Bisa juga melalui Toko Score yang menunjukkan kredit skoring. Jadi kami penyedia end to end di customer onboarding journey bisa selesai dengan solusi dari kami,” jelas Ronald.
 
Perusahaan yang mengaku sebagai leading sector AI bagi perusahaan-perusahaan swasta ini, bisa mengetahui alamat seseorang yang berbeda dengan KTP. Pelacakan dilakukan dari alamat tujuan pengantaran barang yang dibeli dari e-commerce.
 
Selain dari e-commerce, Ronald mengaku bahwa ADVANCE.AI juga mendapat sejumlah data perusahaan pembayaran, asosiasi fintech, dan bank. Ia memastikan bahwa semua data tersebut didapat secara legal karena diaudit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
 
Dari sisi infrastruktur, perusahaan juga menjamin keamanan data karena semuanya disimpan dalam data center di Indonesia. Bisnis ini pun diyakini akan terus bertumbuh, terlihat dari pencapaian ADVANCE.AI yang berkembang 2-3 kali lipat pada masa pandemi. Ronald mengaku, kontribusi terbesar pendapatan berasal dari perusahaan pinjaman online.
 
“Jadi saya lihat peran pentingnya big data AI untuk memastikan bahwa keseluruhan pengalaman pelanggan menggunakan aplikasi berjalan lancar dan risiko yang minimal bagi perusahaan keuangan maupun pelanggan,” pungkasnya

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN