Menu
Sign in
@ Contact
Search
Executive Networking Session. Dari kiri ke kanan, VP Enterprise Growth & Business Development Flip for Business Henri Halim, Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Fitria Irmi Triswati, Direktur Eksekutif Intellectual Business Community Bayu Prawira Hie dan CEO Flip Rafi Putra Arriyan berfoto usai Executive Networking Session dengan tema

Executive Networking Session. Dari kiri ke kanan, VP Enterprise Growth & Business Development Flip for Business Henri Halim, Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Fitria Irmi Triswati, Direktur Eksekutif Intellectual Business Community Bayu Prawira Hie dan CEO Flip Rafi Putra Arriyan berfoto usai Executive Networking Session dengan tema "Innovation for the Integration of the Digital Economy and Finance" di Jakarta, Rabu, 18 Januari 2023.

Otomasi Sistem Pembayaran Perluas Inklusi Keuangan

Jumat, 20 Jan 2023 | 15:09 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Sistem pembayaran digital di Indonesia dimasa pandemi Covid-19 hingga sekarang bertumbuh sangat pesat. Ketika pemerintah membatasi mobilisasi warga, justru teknologi hadir menjadi sarana masyarakat untuk beraktivitas, termasuk di dalamnya transaksi perdagangan. Hal ini ditambah dengan literasi dan inklusi keuangan yang terus ditingkatkan dengan mempercepat akseptasi digitalisasi. Upaya tersebut saat ini terus digalakkan oleh regulator dan industri sistem pembayaran.

Dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen dan inklusi keuangan sebesar 85,10 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan SNLIK 2019, di mana indeks literasi keuangan 38,03 persen dan inklusi keuangan 76,19 persen.

Namun demikian, angka tersebut masih jauh dari target yang dicanangkan pemerintah, yaitu inklusi keuangan sebesar 90 persen di akhir tahun 2024. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya kolaboratif antara regulator, industri, dan asosiasi untuk mencapai target tersebut.

BI mencatat pertumbuhan transaksi Quick Response Indonesian Standard (QRIS) hingga November 2022 sebesar 187 persen secara tahunan (year on year) dengan nilai Rp 9,67 triliun, di mana jumlah merchant posisi November 2022 sebanyak 22,7 juta merchant.

Advertisement

“Sekarang jumlah merchant bertambah lebih banyak lagi, ini meningkatkan pertumbuhan pesat, jadi kami lihat pertumbuhan sistem pembayaran yang "cemumuah" (cepat, mudah, murah, aman, dan handal) adalah keniscayaan, dan itu adalah salah satu tugas BI,” demikian disampaikan Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Fitria Irmi Triswati dalam Executive Networking Session bertema "Innovation for the Integration of the Digital Economy and Finance" yang diselenggarakan Flip for Business dan B-Universe di Jakarta, Rabu (18/1/2023).

Masih menurut Fitria, standarisasi QRIS, pelaku UMKM hingga pedagang di pasar pun dapat menggunakannya, sehingga akseptasi digital semakin luas lagi. Dukungan BI terhadap UMKM terlihat dari biaya Merchant Discount Rate (MDR) yang masih 0 persen hingga Desember 2022. Kemudian, kenaikan limit QRIS dari Rp 5 juta per transaksi menjadi Rp 10 juta per transaksi.

“Ini juga untuk mendukung UMKM dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya

Saat ini BI telah meluncurkan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. Setelah tiga tahun peluncuran BSPI, berbagai milestone penting telah diraih yaitu regulatory reform, infrastruktur sistem pembayaran ritel, dan standardisasi sistem pembayaran.

Hasil yang diharapkan dari BSPI 2025 adalah ekonomi keuangan digital semakin meluas, terwujudnya restrukturisasi industri sistem pembayaran, serta menguatnya interlink bank dan fintech. Selain itu, inklusi ekonomi dan keuangan tumbuh, serta inovasi terus berkembang.

Hal lain ditegaskan VP Enterprise Growth & Business Development Flip for Business Henri Halim, bahwa setelah adanya pandemi covid-19, banyak UMKM yang terdampak pandemi dan tutup. Oleh karena itu, pelaku bisnis atau perusahaan dituntut adaptif atau bergerak cepat mengikuti perubahan yang terjadi di industri.

“Tujuan utama Flip adalah mendorong inklusi ekonomi digital Indonesia. Hadirnya Flip for Business membantu pelaku usaha dan perusahaan untuk tetap agile dalam bisnisnya, terutama dalam melakukan transaksi keuangan," ujar Henri.

Henry menegaskan bahwa bukan hanya pelaku usaha di satu tempat, tapi Flip for Business juga bisa mendukung bisnis yang memiliki jangkauan lebih luas di daerah-daerah.

“Flip for Business dapat diakses oleh pelaku usaha atau perusahaan yang berlegalitas di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, akan memberikan inklusi keuangan lebih jauh lagi, itu adalah tujuan kami,” sambungnya.

Flip for Business dan Flip secara umum mencatat memiliki lebih dari 10 juta pengguna dengan jumlah transaksi miliaran rupiah setiap harinya. Diharapkan hal ini akan terus berkembang guna mendukung ekonomi keuangan digital Indonesia.

Masih menurut Henri, untuk ke depan yang paling disukai oleh pemilik bisnis saat ini adalah otomasi secara penuh seperti cloud sebagai pusat data, RPA, data science, blockchain, serta artificial intelligence (AI) dan machine learning.

“Dengan solusi Flip, dapat dilihat dampak yang signifikan dalam hal pengelolaan yang dahulunya manual menjadi otomatis sehingga adanya efisiensi dan penghematan yang signifikan. Sebuah bisnis bermulai selalu dari kecil, akan tetapi dengan tujuan perkembangan bisnis yang semakin besar, maka jumlah resources yang dibutuhkan juga akan bertambah. Dengan adanya teknologi otomatis ini, maka penyesuaian resources ini bisa jauh lebih efektif dan efisien.” jelas Henri.

Sementara itu Direktur Eksekutif Intellectual Business Community Bayu Prawira Hie mengungkapkan meskipun sistem pembayaran digital saat ini semakin marak, tapi tujuannya sama yaitu untuk menjalankan transaksi dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Selain itu juga meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

“Banyak yang sudah terintegrasi, arahnya open banking. Ini akan mendukung digital payment untuk UMKM, fintech, yang sebelumnya dipegang bank. Dengan adanya open banking ini semua bisa menggunakan transaksi dari platform tersebut dan sekarang satu pintu untuk semua transaksi,” ucap Bayu.

Editor : Yurike Metriani (yurikemetriani@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com