Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Regional Head Backbase untuk Asean dan India, Riddhi Dutta. ( Foto: Istimewa )

Regional Head Backbase untuk Asean dan India, Riddhi Dutta. ( Foto: Istimewa )

63% Nasabah Diprediksi Gunakan Layanan Bank Digital dari Neobank dan Bank Baru pada 2025

Happy Amanda Amalia, Jumat, 15 Mei 2020 | 07:11 WIB

JAKARTA, investor.id – Laporan Fintech and Digital Banking 2025 yang dirilis oleh Backbase dan IDC menyebutkan bahwa lebih dari tiga dari lima (63%) nasabah diprediksi mengadopsi perbankan digital di Asia Pasifik (APAC), dan bersedia beralih ke neobank dan bank pemain baru dalam lima tahun ke depan.

Laporan yang dirilis pada 11 Mei juga memaparkan bahwa kawasan tersebut akan menyaksikan lahirnya 100 lembaga keuangan baru pada 2025, didukung dengan liberalisasi beberapa pasar dan penerbitan lisensi perbankan baru.

Sementara itu, per tahun 2023, sekitar 40% nasabah bank di Indonesia akan menikmati layanan pendaftaran akun bank secara langsung, verifikasi nasaban secara digital, atau pendaftaran via layanan pihak-ketiga. Laporan ini juga menyorot bahwa bank-bank Tier 1 dan Tier 2 di Indonesia akan beroperasi setidaknya dalam lima ekosistem gaya hidup pada 2025.

Namun, pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menimbulkan pertanyakan soal kesiapan industri terhadap perbankan digital, karena sebanak 70% pelanggan perbankan APAC terus memandang proses perbankan sebagai hal yang membosankan.

Alhasil dari fokus ekstrem bank petahana pada sistem terdahulu dan mengabaikan integrasi digital-first maka hanya 30% basis pelanggan perbankan di Asia Pasifik yang aktif di saluran perbankan digital.

Saat ini, bank-bank petahana di seluruh kawasan Asia Pasifik dihadapkan dengan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan perbankan digital karena kebutuhan pelanggan yang semakin intensif akan ketersediaan, akses, dan kontrol interaksi saluran digital.

Kurangnya Kecepatan Beradaptasi untuk Menjadi Digital-First

Laporan dari Backbase dan IDC juga menyebutkan, bank-bank petahana belum dapat mengambil keuntungan dari mitra ekosistem yang potensial, karena mereka masih memegang pandangan tradisional tentang rantai nilai.

Sebagai informasi, 80% dari 250 bank teratas di Asia Pasifik masih memilih untuk memiliki seluruh rantai nilai perbankan, dengan bisnis pihak ketiga yang berkontribusi hanya 2%. Sementara itu, usia rata-rata sistem perbankan inti warisan di 100 bank teratas di Asia Pasifik tetap 17,5 tahun, jauh di belakang ekonomi digital yang berkembang pesat saat ini.

Di sisi lain, lebih dari 35 bank neobank atau pemain digital baru di seluruh APAC dibangun di atas praktik terbaik yang lincah dan inovatif – jauh di depan para petahana dalam hal fleksibilitas, kemampuan layanan mandiri, kebutuhan pelanggan, dan personalisasi. Nyatanya, dengan kehadiran pemain baru dan gangguan digital lebih lanjut di industri, 38% dari pendapatan bank tradisional berisiko pada 2025.

Di Indonesia, konsumen yang sangat terhubung dengan internet mengharapkan kepuasan instan, seperti layanan perbankan berdasarkan permintaan. Untuk mengimbangi cepatnya permintaan ini, bank-bank harus memprioritaskan sumber dayanya untuk fokus pada pelanggan, dan platform digital dalam menyederhanakan proses perbankan daring. Oleh karena itu, kesetiaan nasabah yang kuat diperlukan dan dapat diraih lebih cepat melalui kolaborasi fintech atau pihak ketiga untuk memproses layanan dengan lebih cepat dan memberikan pengalaman nasabah yang superior.

Regional Head Backbase untuk Asean dan India, Riddhi Dutta mengatakan, nasabah Indonesia akan memiliki beberapa rekening perbankan, baik tradisional maupun digital.

“Kesetiaan nasabah ini dapat diperoleh dengan menciptakan persepsi bahwa "bank saya mengerti saya", yang mana jelas bahwa perbankan akan mulai mengintegrasikan dengan ekosistem gaya hidup untuk mencapai output demikian,” ujarnya dalam keterangan pers.

Investasi Strategis dan Prioritas Pertumbuhan 2025

Ketika industri perbankan melewati periode pengejaran yang dipercepat untuk menjadi digital-pertama, laporan tersebut menemukan bahwa bank-bank Asia Pasifik harus melepaskan potensi personalisasi pada skala dan lebih berorientasi pada pelanggan dan berorientasi platform.

Fokus utama adalah digitalisasi dan implementasi kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI). Pada 2025, 44% dari 250 bank teratas di seluruh Asia Pasifik akan menyelesaikan transformasi connected core mereka - bekerja pada modernisasi berbasis platform dan komponen, dan pemberdayaan API. 48% bank di Asia Pasifik juga diharapkan untuk memanfaatkan teknologi AI atau Machine Learning (ML) untuk keputusan berbasis data.

Di Indonesia, bank-bank diprediksi meningkatkan penggunaan Big Data, juga AI dan ML sebanyak tiga kali lipat demi meningkatkan pengalaman konsumen. Diprediksi juga bahwa 25% pertumbuhan investasi akan berupa kemampuan real-time seperti pemasaran, pengendalian kecurangan dalam akuntansi, dan pembayaran.

Digitalisasi memberikan banyak manfaat bagi sistem core banking. Misalnya, dalam perbankan ritel dan konsumen, pengiriman produk, layanan, dan informasi secara instan pasti untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat.

Selanjutnya, proses otomatis dan biaya operasi yang lebih rendah dapat memungkinkan bank untuk melayani klien perusahaan mereka dengan lebih baik. Terakhir, AI dan ML juga membawa ketepatan terhadap keputusan manajemen kekayaan, meningkatkan produktivitas.

Menurut Wakil Presiden Associate IDC Financial Insights Asia Pacific, Michael Araneta, menjadi digital pertama menuntut integrasi teknologi digital dengan transformasi komprehensif proses bisnis, strategi keterlibatan, saluran, dan model bisnis perbankan. Dengan wawasan dari laporan tersebut, bank dan bank-bank baru dapat diposisikan dengan baik untuk masa depan.


 

Sumber : PR

BAGIKAN