Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bambang Brodjonegoro.

Bambang Brodjonegoro.

Big Data Bisa Pangkas Tingkat Bunga Pembiayaan Fintech

Jumat, 13 November 2020 | 07:03 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kehadiran big data dinilai bisa memangkas tingkat bunga pembiayaan yang disalurkan oleh financial technology (fintech). Lebih jauh lagi, big data memungkinkan bagi fintech bisa menemukan kebutuhan dari calon peminjam.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menyampaikan, salah satu proses bisnis fintech adalah menggunakan rekam jejak digital (digital footprint) untuk melakukan verifikasi dan memanfaatkan data pihak ketiga guna menekan biaya operasional. Oleh karena itu, big data menjadi fitur yang mesti dioptimalkan para penyelenggara fintech.

"Jadi kita harapkan sebenarnya fintech itu kalau dia bisa menakar risiko dengan baik, tingkat bunganya bisa turun. Nah kuncinya adalah digital footprint tadi, dan digital footprint itu bisa muncul karena big data," kata dia pada salah satu panel diskusi di acara virtual Indonesia Fintech Summit & Pekan Fintech Nasional 2020, Kamis (12/11).

Menurut Bambang, sudah seharusnya solusi dan inovasi yang dilakukan fintech adalah dengan mengoptimalkan big data. Sehingga proses verifikasi tidak hanya melihat data formal, tapi masuk lebih jauh dalam konteks know your customer (KYC), data-data transaksi, untuk juga bisa melihat kebutuhan dari customers.

Solusi kedua, kata dia, perlunya dibuat platform spesifik untuk sektor atau bidang tertentu. Misalnya ada program startup inovasi Indonesia yang diperuntukan bagi nelayan. Salah satu fiturnya membuat nelayan itu bisa menjual ikannya langsung ke pembeli atau pasar.

Bambang menjelaskan, nelayan yang menjadi pengguna dari platform tersebut, juga mendapatkan informasi mengenai cuaca, kondisi perairan, atau informasi mengenai pakan.

"Saya melihat kombinasi antara teknologi industri dan teknologi digital itu akan sangat baik. Dikaitkan dengan fintech beserta big data, nelayan itu akan terlihat aktivitasnya untuk dapat diberikan pembiayaan. Jadi nelayan pun tidak perlu khawatir ketika berhubungan dengan fintech," terang dia.

Menristek menuturkan, kombinasi dari transformasi digital dan pandemi yang sedang dialami akan menghasilkan less contact economy. Jadi ekonomi tetap produktif tapi dengan kontak antara manusia yang akan berkurang. Pola ini akan berlanjut pasca pandemi karena orang mulai terbiasa. Hal itu sebenarnya telah tercermin dari fakta bahwa orang Indonesia mulai familiar dan adaptif terkait mobile banking, online banking, maupun dengan e-commerce.

"Ini adalah kesempatan yang luar biasa bagi UMKM yang sudah terkepose digital untuk kemudian melahirkan startup di masa depan yang lebih kuat. UMKM itu jangan dilihat terpisahkan dengan startup, UMKM itu harusnya menjadi lahirnya startup kedepan," tandas Bambang.

Dibutuhkan UMKM

Menteri Koperasi dan Usaha, Kecil, dan Menengah (UKM) Teten Masduki
Menteri Koperasi dan Usaha, Kecil, dan Menengah (UKM) Teten Masduki


Pada kesempatan sama, Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menyatakan, fintech sangat dibutuhkan bagi pelaku UMKM. Dia mengharapkan fintech bisa terus mendukung akses pembiayaan dari pemerintah untuk UMKM.

Menurut dia, fintech dibutuhkan untuk membantu perkembangan baru di bidang startup teknologi. Selain itu, fintech juga berperan mengoptimalkan efektivitas dan efisiensi operasional usaha seperti pencatatan transaksi, mengatur persediaan barang, serta memudahkan UMKM unbankable, dalam mengakses pembiayaan modal kerja.

"Kami harapkan fintech dapat bekerjasama dengan kelompok masyarakat agar bisa membantu pembiayaan. Saat ini usaha mikro separuhnya bankable dan dampaknya bisnis fintech akan berkembang pesat," kata Teten.

Dia pun menjelaskan, peningkatan jumlah penyelenggara ataupun jumlah pembiayaan dalam fintech menunjukkan peningkatan literasi keuangan masyarakat, khususnya UMKM dalam mengakses pembiayaan serta transaksi keuangan. "Fintech sangat dibutuhkan UMKM. Tingkat literasi keuangan digital Indonesia baru mencapai 35,5 %,” imbuh dia.

Dia juga mengakui, baru sekitar 16% UMKM terhubung dengan platform digital atau mencakup 10,2 juta UMKM dari total 54 UMKM di Indonesia. Namun demikian, masalah utama yang dihadapi adalah terkait laporan keuangan UMKM.  Oleh karena itu, percepatan digitalisasi bagi UMKM sangatlah diperlukan.

"Itu akan memudahkan bagi pemberi dana untuk menyalurkan pembiayaan. Di regulasi kita saat ini, diperkenankan untuk mengakses alternatif selain perbankan. Jadi bisa melalui fintech equity crowdfunding atau modal ventura," ungkap dia.

Selain akses pembiayaan, Teten menambahkan, UMKM ini juga perlu literasi keuangan. Perlu ada pendampingan untuk merencanakan usaha, membuat pembukuan yang baik, memakai modal kerja seoptimal mungkin.

"Jadi ini yang barangkali teman-teman fintech bisa bekerja sama dengan kelompok-kelompok di masyarakat untuk bisa menyalurkan pembiayaannya," pungkas Teten.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN