Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Profil dan perkembangn fintech lending

Profil dan perkembangn fintech lending

Desember, OJK Batalkan Lima Tanda Daftar Fintech Lending

Rabu, 30 Desember 2020 | 22:35 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, invesror.id -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali merilis nama-nama fintech p2p lending terdaftar dan berizin per 22 Desember 2020 menjadi 149 perusahaan. Adapun sepanjang Desember 2020, terdapat lima surat tanda bukti terdaftar yang dibatalkan.

Jika dirinci, per 7 Desember 2020 terdapat dua penyelenggara yang dibatalkan surat tanda bukti terdaftarnya, yakni PT Danakoo Mitra Artha dan PT Glotech Prima Vista. Ketika itu jumlah penyelenggara sebanyak 152 entitas.

Sepekan kemudian, tepatnya pada 15 Desember 2020 OJK mencatat terdapat satu entitas yakni PT Solusi Finansial Inklusif Indonesia yang dibatalkan surat tanda bukti terdaftarnya. Dengan begitu, jumlah penyelenggara kembali menyusut menjadi 151 entitas.

Sampai 22 Desember 2020, OJK kembali merilis bahwa jumlah penyelenggara fintech lending terdaftar dan berizin sebanyak 149 perusahaan. Terdapat dua penyelenggara yakni PT Seva Kreasi Digital dan PT Asia Ocean Fintek dibatalkan surat tanda bukti terdaftarnya.

Dari 149 penyelenggara tersebut, terdapat 36 penyelenggara yang mengantongi status berizin dan 113 penyelenggara lainnya berstatus terdaftar. Sebanyak 11 penyelenggara tercatat menjalankan bisnis syariah.

"OJK mengimbau masyarakat untuk menggunakan jasa penyelenggara fintech lending yang sudah terdaftar/berizin dari OJK. Hubungi Kontak OJK 157 melalui nomor telepon 157 atau layanan whatsapp 081157157157 untuk mengecek status izin penawaran produk jasa keuangan yang Anda terima," demikian tulis OJK, Rabu (30/12).

Sementara itu, jika ditinjau sepanjang tahun ini setidaknya terdapat 15 penyelenggara fintech lending yang tanda bukti terdaftar. Adapun jumlah penyelenggara fintech lending pernah mencapai 164 perusahaan pada akhir 2019.

Belum lama ini, Deputi Bidang Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech OJK Munawar Kasan menanggapi fenomena bergugurnya jumlah penyelenggara fintech lending tersebut. Dia memproyeksi jumlah fintech lending di masa mendatang masih mungkin kembali menyusut. Apalagi OJK tengah meramu aturan terbaru bagi industri tersebut.

"Tren ke depan ada pada penambahan modal, itu akan ada aturannya. Karena di fintech lending ini banyak yang modalnya kecil tidak bisa bertahan. Proses di 2019-2020 itu banyak terjadi penambahan modal, karena tidak bisa hanya bertahan di Rp 1 miliar," ungkap Munawar.

Rancangan POJK tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi pengganti POJK Nomor 77/2016 yang dirilis 13 Oktober 2020 lalu salah satunya memaparkan ketentuan penambahan modal. Pasal 4 menyebutkan bahwa penyelenggara fintech lending wajib memiliki modal disetor paling sedikit sebesar Rp 15 miliar pada saat perizinan. Modal disetor itu mengalami peningkatan dibandingkan ketentuan saat ini sebesar Rp 2,5 miliar.

Di sisi lain, Ketua Umum AFPI Adrian Guna mengatakan, pihaknya melihat ruang bahwa OJK mendorong terjadi konsolidasi atau merger antara fintech lending melalui ketentuan tersebut. Namun demikian, kendalanya adalah aturan itu juga mesti melihat skala perkembangan dari masing-masing penyelenggara fintech lending.

"Belum semua penyelenggara pada tahap pertumbuhan yang sama. Sehingga penambahan modal mungkin harus dilihat juga dari tahap perkembangan penyelenggara tersebut," terang dia.

Meski begitu, sambung Adrian, penambahan modal menjadi penting sebagai indikator pertumbuhan apalagi fintech lending yang juga sebagai lembaga jasa keuangan. Modal juga diharapkan bisa mendorong dan memperbaiki terkait aspek teknologi. Maka dibutuhkan komitmen dari para pemegang saham untuk meningkatkan permodalan.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN