Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan beraktivitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/DAVID

Karyawan beraktivitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Fintech Lending Bisa Bantu Percepat Penyerapan Anggaran PEN

Kamis, 3 September 2020 | 22:04 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Industri fintech p2p lending dinilai bisa membantu pemerintah untuk mempercepat penyerapan anggaran dari program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Program yang telah dirancang baik dan strategis itu masih perlu dikembangkan penyerapannya, melalui kemampuan fintech p2p lending menambah segmen UMKM.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB Otoritas Jasa Keuangan Riswinandi mengatakan OJK, mendorong industri fintech p2p lending terus memperluas keberadaannya dalam memajukan industri jasa keuangan. Hal itu termasuk meningkatkan perannya dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

"Fintech lending dan inovasi digital dapat menjadi salah satu cara untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi dan mendorong inklusi keuangan agar berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional," tutur Riswinandi  pada seminar nasional yang disiarkan secara virtual, Kamis (3/9).

Riswinandi menambahkan, kebutuhan program pemerintah semakin tinggi dalam membantu sektor UMKM dan sektor informal yang membutuhkan sistem berbasis teknologi. Terutama dalam membuka akses pembiayaan dan penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat miskin dan kurang mampu.

"Keberadaan fintech lending menjadi jawaban untuk kebutuhan solusi keuangan berbasis digital. Dibutuhkan manajemen platform yang handal dan kredibel, teknologi dan risk management yang kuat, transparansi operasional dan akuntabilitas dari seluruh 157 fintech yang terdaftar dan berizin di OJK, agar layak untuk menjadi kolaborator mempercepat penjalaran stimulus PEN," tandas Riswinandi.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, pihaknya akan terus mendukung langkah kebijakan ekonomi pemerintah di tengah pandemi melalui pelaksanaan program-program yang dapat menyelamatkan dan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, program PEN sudah sangat baik dan strategis, namun harus dikembangkan cara untuk merealisasikan penyerapan anggarannya.

"Proses penyerapan anggaran perlu dipercepat dan menyeluruh agar kontraksi ekonomi yang terjadi tidak semakin dalam dan tidak costly. Fintech lending merupakan terobosan yang menggunakan analisa digital, dapat menjadi pintu bagi UMKM mengakses permodalan," kata Rosan

Menurut catatan Kadin Indonesia, hingga pertengahan Agustus realisasi anggaran program PEN baru mencapai Rp 174,79 trilliun, atau 25,1% dari keseluruhan pagu anggaran yang sebesar Rp 695,2 triliun. Hanya program perlindungan sosial yang realisasinya hingga 19 Agustus 2020 telah mencapai Rp 93,18 triliun. Angka tersebut setara dengan 49,7% dari pagu yang sebesar Rp 203,91 triliun. Penyerapan di 5 sektor lainnya masih rendah, bahkan, di sektor pembiayaan korporasi progres penyerapan anggaran untuk pembiayaan korporasi masih 0%.

Dia menilai, seiring berjalannya waktu peran fintech p2p lending semakin besar. Meski cakupannya masih banyak di pulau Jawa, potensi industri tersebut untuk tersebut terus berkembang terbuka luas di masa mendatang. Apalagi pendekatan teknologi informasi memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.

"Adanya Covid-19 ini kan lebih cepat lagi untuk fintech lending mengakselerasi ekosistemnya, dan membuat banyak dari UMKM yang tadinya tidak banyak ikut (underserved) lalu ikut terlibat untuk mengembangkan bisnisnya," kata Rosan.

Sedangkan Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengatakan, salah satu tantangan terbesar mempercepat penyaluran anggaran PEN adalah memastikan bisa tepat sasaran, tepat waktu dan secara efektif dapat membantu UMKM yang terdampak. Dengan begitu, pelaku usaha tetap bertahan dan tumbuh kembali sejalan dengan berkurangnya dampak pandemi Covid-19.

"Para anggota AFPI yang merupakan penyelenggara fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK dapat berperan untuk akselerasi percepatan penyaluran program PEN. Hal ini karena fintech lending merupakan lembaga keuangan non-bank yang menawarkan solusi keuangan digital yang menjadi bagian dari ekosistem digital dengan menyasar masyarakat yang belum terlayani (underserved) dan UMKM yang belum tersentuh bantuan (underpenetrated) permodalan sektor perbankan. Melalui kolaborasi dengan digital ekosistem,  penyelenggara dapat memotret profil risiko UMKM tersebut lebih komprehensif," kata Adrian.

Dia menuturkan, percepatan diperlukan lantaran dampak pandemi Covid-19 menyebabkan kontraksi perekonomian nasional sebesar minus 5,32% pada kuartal II 2020. Di samping itu, masih adanya finance gap di Indonesia yang menurut data World Bank sekitar Rp 1.000 triliun per tahun.

Kemudian, sektor UMKM merupakan salah satu yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Padahal UMKM adalah penyangga utama perekonomian Indonesia yakni berkontribusi 57% terhadap Gross Domestik Bruto (GDP) dan menyerap 97% tenaga kerja di Tanah Air.

“Dari 157 anggota AFPI, akumulasi penyaluran pinjaman secara nasional mencapai Rp113,46 triliun atau naik 153% pada Juni 2020 secara tahunan. Dari angka ini, mayoritas tersalurkan ke sektor produktif yakni kepada pelaku UMKM, serta kepada masyarakat underserved dan underbanked,” jelas Adrian.

Dia memaparkan, penyaluran pendanaan para pelaku fintech lending Indonesia didominasi sektor produktif 68%, konsumtif 58%, dan syariah 7%. Penyaluran pembiayaan fintech lending dilakukan melalui platform digital dengan proses yang lebih sederhana dan cepat sehingga lebih mudah menjangkau masyarakat serta lebih fleksibel ketika terjadi pandemi yang mengurangi kontak fisik.

Pada kesempatan sama, Dewan Penasihat AFPI yang juga mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, perilaku masyarakat yang berubah dan mengarah ke digital, merupakan kesempatan bagi industri fintech lending untuk turut memberikan stimulus bagi UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Hal ini didukung adanya keunggulan komparatif yang dimiliki industri berbasis teknologi tersebut.

“Dengan memanfaatkan keunggulan teknologinya, industri fintech lending dapat mendorong inklusi keuangan sekaligus turut mendukung stimulus ekonomi melalui program PEN. Dengan demikian fintech lending turut menjadi daya ungkit untuk memulihkan ekonomi di saat krisis akibat pandemi Covid-19,” kata Chatib.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN