Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Fintech Lending Cicil Salurkan Pembiayaan Rp 171 Miliar

Jumat, 11 September 2020 | 20:02 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Penyelenggara fintech p2p lending PT Cicil Solusi Mitra Teknologi (Cicil) telah menyalurkan akumulasi pembiayaan selama 4 tahun berdiri mencapai Rp 171 triliun. Pembiayaan secara khusus disalurkan bagi sektor pendidikan dengan segmen utamanya adalah mahasiswa.

Berdasarkan statistik di laman Cicil.co.id, akumulasi pembiayaan itu meningkat 101,17% tahun berjalan (year to date/ytd) dari pencapaian akhir tahun lalu sebesar Rp 85 miliar. Sedangkan total outstanding pembiayaan sebesar Rp 21 miliar, dengan tingkat keberhasilan 90 hari (TKB 90) sebesar 97,46%.

CEO & Co Founder Cicil Edward Widjonarko menyampaikan, pihaknya hanya menggandeng pemberi pinjaman (lender) institusi jasa keuangan lain untuk membiayai para penerima pinjaman (borrower). Adapun sampai saat ini, sudah tersalurkan sebanyak 67.054 pinjaman.

"Lender kita adalah institution lender seperti multifinance dan asset management. Jadi kita bekerjasama dengan industri jasa keuangan lain. Karena pendekatan kita ini adalah alternative lending, jadi kalau nanti sudah solid mungkin kita bisa buka lender bagi alumni-alumni suatu universitas," kata dia pada seminar daring, Jumat (11/9).

Dia mengatakan, fokus utama Cicil adalah melayani sektor pendidikan dengan segmen utamanya para mahasiswa. Perseroan telah menjamah borrower mahasiswa dari 257 kampus di seluruh Indonesia, sekitar 70% portofolio pembiayaan disalurkan di luar Jawa.

"Karena kita awal ekspansif di luar Jawa. Pertama kali kita itu masuk ke Bali, lalu ke Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Strateginya kita masuk ke komunitas, yang aktivitasnya tinggi. Misalnya di Yogyakarta dan Medan itu kan aktivitas mahasiswanya tinggi, maka kita akan bangun komunitas disitu berikut dengan ambassador Cicil," ucap Edward.

Dia mengemukakan, kedepan pihaknya akan melakukan ekspansi lebih pada sejumlah wilayah, khususnya beberapa daerah di Kalimantan. Meskipun akan menemui tantangan untuk menjaring borrower dengan tatap muka langsung, pendekatan lewat ambassador Cicil yang kini terdapat 2.291 orang akan dilakukan secara daring lewat berbagai webinar literasi keuangan.

Edward memaparkan, akumulasi pembiayaan Cicil disokong dari produk pembiayaan uang kuliah. Tetapi frekuensi paling besar dicatatkan dari pembiayaan kebutuhan barang mahasiswa. Menurut dia, hal itu dipengaruhi permintaan biaya kuliah yang terjadi secara musiman atau banyak pada awal semester, tapi pembelian barang kebutuhan hampir merata sepanjang tahun. Sedangkan ketika pandemi Covid-19, penyaluran pembiayaan juga banyak terjadi pada produk pembiayaan pulsa dan data internet para mahasiswa.

Di sisi lain, dia menerangkan, pandemi tidak begitu mengganggu operasional perusahaan, tapi gangguan lebih pada aktivitas ambasador. Pandemi juga memberi banyak dampak bagi para borrower untuk melunasi tagihannya. Dalam hal ini, perseroan berupaya melakukan inovasi dengan menggandeng beberapa mitra bisnis.

"Yang terakhir mahasiswa itu memiliki kendala untuk membayar cicil tepat waktu. Kita menggandeng partner untuk membantu mahasiswa bisa mencari tambahan pendapatan, seperti menawarkan suatu pekerjaan," ujar Edward.

Sementara itu, kata dia, fintech p2p lending Cicil memiliki tiga parameter yang digunakan saat menjalankan proses credit scoring kepada calon borrower mahasiswa. Pertama, yakni memastikan identitas dengan melakukan cek pada data Dukcapil serta data Menristekdikti.

Kedua, sambung Edward, melakukan analisa dengan mitra provider. Perseroan melihat pola ketepatan waktu transaksi pembelian pulsa untuk mengukur kemampuan perekonomiannya. Ketiga, melihat riwayat aktivitas dari akses lokasi yang telah diberikan calon borrower. Dari data-data tersebutlah kemudian dalam satu atau dua hari perseroan akan memberikan persetujuan atau penolakan kepada calon borrower.

"Tapi tidak berhenti disitu juga, ambassador kita akan bertemu dengan borrower-nya untuk memastikan orangnya benar atau tidak. Ambassador itu juga melakukan literasi keuangan dulu. Karena bisnis ini mengusung kepercayaan dari para lender, para borrower mahasiswa ini mesti mengerti betul kewajiban dan haknya," papar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN