Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi KoinWorks. ( Foto: Istimewa )

Ilustrasi KoinWorks. ( Foto: Istimewa )

Fintech Lending KoinP2P Bidik Akumulasi Pembiayaan Rp 3 Triliun

Kamis, 15 Oktober 2020 | 04:41 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Penyelenggara fintech p2p lending PT Lunaria Annua Teknologi (KoinP2P) menargetkan dapat menyalurkan akumulasi pembiayaan mencapai Rp 3 triliun di tahun ini. Proyeksi tersebut didukung permintaan pembiayaan yang masih tinggi, termasuk pemberi pinjaman (lender) yang tetap antusias menggelontorkan dananya.

CEO & Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono mengatakan, kinerja pembiayaan perseroan sebelum pandemi mencatatkan pertumbuhan 30-40%. Capaian tersebut harus terkoreksi pada periode Maret-Juni 2020, tercermin dari rata-rata penyaluran pembiayaan sebesar Rp 250 miliar per bulan. Alhasil, pembiayaan mesti ditutup tumbuh 15% secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang semester I-2020.

Benedicto Haryono, Koinworks. Foto: UTHAN A RACHIM
Benedicto Haryono, Koinworks. Foto: UTHAN A RACHIM

Dia mengungkapkan, penurunan kinerja itu disebabkan kebijakan perseroan untuk lebih hati-hati dan selektif memberi persetujuan. Kini tren pemulihan mulai dicatatkan perseroan dari rata-rata pembiayaan Rp 300 miliar per bulan.

Dengan sejumlah riset dan pendekatan yang dilakukan, bahkan permintaan pinjaman melalui Layanan KoinBisnis pun mampu melonjak 40,73% pada periode Juni-September 2020. Perseroan berkomitmen terus menyalurkan pembiayaan sampai akhir tahun ini.

"Akumulasi pembiayaan sampai akhir September mencapai Rp 2,5 triliun. Sedangkan sampai akhir tahun seharusnya sampai Rp 3 triliun. Target itu memang jauh lebih rendah dari proyeksi sebelum pandemi Covid-19," kata dia kepada Investor Daily, Rabu (14/10).

Berdasarkan data KoinP2P, akumulasi pembiayaan itu disalurkan kepada lebih dari 180 ribu penerima pinjaman (borrower). Dengan akumulasi pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) sebesar 1,4%. Serta tingkat keberhasilan pembiayaan 90 hari (TKB 90) sebesar 97%. Adapun pembiayaan di wilayah luar Jawa sebesar 20-30% dan porsi pembiayaan produktif mencapai 95%.

Data yang sama memaparkan, pertumbuhan permintaan pembiayaan selama masa pandemi Covid-19 disumbang dari sektor UKM Digital. Di antaranya sektor kesehatan yang meningkat sebesar 44%, pakaian dan F&B sebesar 41,78%, serta olahraga dan hobi sebesar 19,61%. Rata-rata pembiayaan yang diajukan oleh UKM Digital itu mencapai Rp 200-300 juta. Khusus segmen tersebut, peminjam yang terkena dampak langsung dari terjadinya pandemi Covid-19 tercatat kurang dari 10%.

"Yang sangat kita fokuskan saat pandemi adalah segmen penjual online, termasuk penjual makanan dan minuman online. Segmen penjual online pun perlu dilihat secara detail, contohnya pembiayaan kepada penjual online kosmetik yang untuk sementara ini dihentikan dulu. Kita terus melakukan riset untuk bisa melihat peluang dan potensi dari berbagai segmen untuk bisa diberikan pembiayaan," kata Benedicto.

Dia menuturkan, pihaknya perlu menutup sementara sejumlah produk pembiayaan lantaran kualitas dari para calon borrower cenderung menurun. Perseroan mesti menjaga kepercayaan para lender sekaligus kinerja TKB 90 dalam posisi baik.

"Jadi kita filter lebih awal dulu, sebab kita tau permintaan naik tapi kualitasnya menurun. Dari peningkatan permintaan itu yang bisa disetujui kira-kira kurang dari 10%," imbuh dia.

Selama pandemi masih berlangsung, pihaknya juga masih menutup diri untuk secara agresif menyasar wilayah luar Jawa. Kebijakan itu dijalankan lantaran sejumlah hal menjadi kendala. Ketidaktersediaan kantor cabang guna menunjang proses collection menjadi salah satu alasan.

Di samping itu, Benedicto menyampaikan, pandemi Covid-19 pun tidak menyusutkan niat para lender untuk berinvestasi di fintech p2p lending. Antusias para lender tersebut tercermin dari permintaan pembiayaan calon borrower yang disuguhkan KoinP2P bisa tuntas dalam waktu satu atau dua hari.

Dia menambahkan, apalagi saat ini sedang marak perbankan melakukan pembiayaan channeling lewat fintech p2p lending, utamanya dalam rangka penyaluran dana pada program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Dalam hal ini KoinP2P turut serta menjalin kemitraan dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Kemitraan itu, sambung dia, telah berjalan beberapa waktu namun masih mencatatkan nilai penyaluran yang relatif sedikit. Benedicto mengungkapkan, kendalanya adalah sejumlah persyaratan calon borrower dari Bank Mandiri yang sedikit sulit.

Oleh karena itu, pihaknya menantikan Bank Mandiri bisa merubah atau meringankan persyaratan dari borrower agar kedepan perseroan lebih agresif menyalurkan dana PEN.

Sedangkan menyinggung rencana pendanaan terbaru, Benedicto menerangkan, masih menunggu ekonomi secara umum lebih kondusif. Begitu juga fokus perseroan memperbaiki performa kinerja KoinP2P saat ini. Meski begitu, penjajakan investor baru tetap dilakukan, termasuk penjajakan mitra guna melengkapi layanan di platform KoinWorks. Karena menurut dia, investor baru biasanya memulai melalui tahap kemitraan, untuk kemudian menjadi bagian dari super apps financial itu.

Bisnis Agregator
Selain KoinP2P yang memberikan layanan p2p lending, KoinWorks juga telah mendapatkan izin sebagai penyelenggara inovasi keuangan digital klaster aggregator. Tujuan perluasan bisnis dari perseroan sendiri ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dari pengguna.

"Fundamentalnya itu ingin mengetahui kebutuhan para pengguna aplikasi kita. Kita juga tidak sepenuhnya sebagai aggregator, jadi kita tidak akan meluncurkan produk finansial sebanyak-banyaknya. Kita berupaya melihat kebutuhan dan memenuhinya dengan produk keuangan," ucap Benedicto.

Dia menjelaskan, jika ditemukan kebutuhan dari UKM, sebagai salah satu basis pengguna layanan KoinWorks, maka pihaknya pun mencari mitra untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Produk yang dipasarkan pun tetap berorientasi pada pengguna, sehingga perseroan tidak akan banyak menawarkan produk keuangan.

"Bisnis aggregator ini masih dalam tahap piloting, masih dilihat berbagai aspek seperti pengalaman pengguna menggunakan layanan itu. Sudah ditemukan kendala-kendalanya, dari situ kita menemukan solusi untuk bisa mengembangkan bisnis ini. Diharapkan dengan adanya layanan aggregator ini kebutuhan bisa lebih terpenuhi, pengguna juga bisa melakukan diversifikasi produk investasi, sekaligus memberi edukasi," tandas Benedicto.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN