Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan pada webinar berjudul Peran Fintech dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (17/2). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan pada webinar berjudul Peran Fintech dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (17/2). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Fintech Lending Restrukturisasi Pembiayaan Rp 681,17 Miliar

Rabu, 17 Februari 2021 | 20:14 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri fintech p2p lending berhasil memfasilitasi restrukturisasi pembiayaan hingga Rp 681,17 miliar hingga akhir 2020. Nilai itu mencakup 95,72% dari total nilai pembiayaan yang diajukan oleh para penerima pinjaman (borrower) dan telah setujui pemberi pinjaman (lender).

Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan menyampaikan, ada perbedaan mendasar restrukturisasi oleh perbankan atau multifinance dengan fintech lending. Dalam hal ini, perbankan atau multifinance bisa langsung melakukan penilaian atas portofolio yang membutuhkan restrukturisasi. Sedangkan fintech lending hanya berperan memfasilitasi pengajuan restrukturisasi dari borrower, untuk kemudian disetujui lender.

"Kami bersyukur ada sekitar 302 ribu lebih peminjam yang mengajukan restrukturisasi dengan nilai pinjaman sebesar Rp 711,65 miliar. Dan realisasinya itu sebesar 95,72%. Data itu yang kami peroleh dari AFPI atas survei terakhir untuk akhir Desember 2020," kata Munawar pada webinar berjudul Peran Fintech dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (17/2).

Dia mengungkapkan, pihaknya menyambut baik persentase persetujuan yang hampir menyentuh angka 96% itu. Sebba, hal tersebut tentu tidak terlepas dari kontribusi fintech lending yang berkenan untuk memfasilitasi permintaan borrower dan kerelaan lenders karena pengembalian dananya mesti lebih dulu melalui tahap restrukturisasi.

Selain memfasilitas restrukturisasi, Munawar menyatakan, industri fintech lending juga menjalankan perannya mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Fintech lending telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 262,16 miliar hingga akhir 2020 terkait program tersebut.

"Lalu terkait program PEN, jumlah sampai Desember 2020 sebesar Rp 262,16 miliar, ada 48.629 rekening pinjaman penyaluran PEN. Tentunya adalah fintech p2p lending resmi dibawah pengawasan OJK," ungkap Munawar.

Dia mengatakan, sejalan dengan target penerima dana PEN, fintech lending sendiri telah memiliki banyak data masyarakat ataupun usaha kecil yang memang terdampak pandemi Covid-19. Kemudian terlepas dari program PEN, sebenarnya segmen garapan fintech lending memang menjangkau masyarakat kecil yang belum terjamah bank (unbankable) atau belum terlayani jasa keuangan lainnya (underserved).

Di sisi lain, Munawar menuturkan, kinerja fintech lending juga dirasa cukup baik meskipun perekonomian Indonesia tercatat melambat 2,07% di akhir 2020. Pada saat yang sama, pembiayaan fintech lending turut tumbuh melambat 26,27% (yoy) menjadi Rp 74,41 triliun, padahal di tahun-tahun sebelumnya pembiayaan mampu tumbuh diatas dua kali lipat. "Dari sisi pertumbuhan memang menurun, tapi ini pertumbuhan yang cukup tinggi jika dibandingkan pertumbuhan-pertumbuhan industri atau pertumbuhan ekonomi," kata dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menerangkan, saat ini terdapat 148 penyelenggara fintech lending dan kurang dari 10 penyelenggara yang diperkenankan untuk menyalurkan pembiayaan dalam rangka mendukung program PEN. Dengan demikian masih terdapat ruang untuk fintech lending terlibat dan berkontribusi lebih besar.

"Kami yakin ini perlahan tapi pasti platform fintech lending akan turun bekerjasama dengan bank jangkar. Karena progres kerjasama fintech lending itu semakin gencar. Kekhawatiran orang tahun lalu bahwa fintech lending akan mendisrupsi bank, ini tidak akan terjadi karena pasarnya besar. Maka pendekatan yang dilakukan adalah kolaborasi," ujar dia.

Pada kesempatan berbeda, AFPI dalam rapat dengar pendapat dengan komisi XI DPR RI optimistis kinerja di tahun 2021 bisa berlari kencang. Sekretaris Jenderal Sunu Widyatmoko mengemukakan, gap kredit di Indonesia berdasarkan analisis World Bank adalah sekitar Rp 1.000 triliun, sedangkan fintech lending baru mampu menambal sekitar 7%. 

"Jadi potensi untuk fintech lending untuk tumbuh berkembang kedepannya masih cukup besar. Diharapkan di 2021 ini dengan tren yang ada, kita bisa salurkan lebih dari Rp 100 triliun," ungkap Sunu, Kamis (14/1).

Dia menerangkan, setidaknya ada sejumlah faktor yang membuat fintech lending cepat melakukan pemulihan kinerja. Diantaranya karena kebutuhan pinjaman atau kredit masih besar di masyarakat. Dalam hal ini, fintech lending punya keleluasaan lebih dibandingkan lembaga keuangan konvensional.

Selanjutnya, Sunu bilang, adalah faktor regulasi. POJK 77/2016 yang mengatur fintech lending masih memberi fleksibilitas guna melakukan inovasi. Semangat itu diharapkan masih dipertahankan OJK dalam menyusun aturan terbaru bagi fintech lending, sehingga pelayanan dan kontribusi positif bisa tetap ditorehkan terutama dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

Tantangan
Sementara itu, Munawar pun mengakui, pertumbuhan fintech lending di masa mendatang pasti lebih cepat dari tahun 2020. Namun demikian, fintech lending masih dihadapkan sejumlah tantangan yang mesti dijawab seiring dengan perkembangannya.

Tantangan yang dimaksud misalnya mengenai perluasan penyediaan akses pembiayaan ke luar Jawa. Lalu masih perlu memperbaiki kualitas pembiayaan (tingkat keberhasilan bayar 90 hari/TKB 90) yang pada akhir 2020 di level 95,22%. Meski diyakini perlahan membaik, mesin credit scoring para penyelenggara harus mampu membaca profil borrower lebih cerdas lagi.

Di samping itu, tantangan akibat pandemi Covid-19 juga masih membayangi meski perlahan terus membaik. Antisipasi atas kemungkinan risiko masa depan juga sudah seharusnya dilakukan. Kemudian, yang tak kalah penting adalah tantangan terkait suku bunga. "Kemudian terkait suku bunga pinjaman, memang AFPI mematok bunga 0,8% per hari. Kalau di sektor produktif itu lebih rendah. Ini menjadi tantangan di 2021, bagaimana bunga bisa ditekan lagi. Dengan mempertajam credit scoring dan AI yang lebih andal," kata Munawar.

Tantangan terbaru, imbuh dia, yakni penerapan pelaporan terkait surat edaran OJK (SEOJK) Nomor 6/2021 tentang edoman Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT) bagi Fintech p2p Lending. Penyelenggara diinstruksikan mulai menerapkan laporan pada 1 April 2021.

Terakhir, Munawar mengatakan, fintech lending masih perlu memperluas keterlibatannya dalam ekosistem ekonomi digital. OJK sendiri cukup puas dengan pencapaian kolaborasi yang dijalin industri fintech lending seperti kerjasama dengan perbankan dan e-commerce. Namun demikian, eksplorasi pada ekosistem digital lainnya masih terbuka lebar untuk digarap, asalkan kolaborasi yang dijalin bisa saling menguntungkan.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN