Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Diskusi virtual di Indonesia Fintech Summit & Pekan Fintech Nasional, Rabu (11/11).

Diskusi virtual di Indonesia Fintech Summit & Pekan Fintech Nasional, Rabu (11/11).

Fintech Perlu Dukungan Regulasi Lebih Terpadu

Rabu, 11 November 2020 | 13:21 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Industri teknologi finansial atau financial technology (fintech) mendukung pendekatan kolaboratif lintas sektor jasa keuangan. Namun demikian, hal tersebut juga perlu didukung regulasi yang lebih terpadu.

Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Wijaya menyampaikan, regulasi saat ini mencoba untuk memfasilitasi berbagai aspek kolaborasi, utamanya kerja sama antara bank dan fintech. Adapun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mulai mengadopsi pembuatan regulasi berdasarkan prinsip.

Menurut dia, pendekatan tersebut dinilai positif dan dapat menciptakan industri fintech yang lebih lincah dan cepat berkembang. Regulasi yang ada juga sejalan dengan visi bersama yakni menggenjot inklusi keuangan di Indonesia. Kendati demikian, regulasi masih perlu dibuat lebih terpadu.

"Fintech itu bisa lebih kolaboratif. Kita perlu regulasi yang lebih terpadu. Karena aturan yang ada dibuat untuk berbagai bidang dan diawasi secara terpisah," kata Ronald pada acara diskusi virtual di Indonesia Fintech Summit & Pekan Fintech Nasional, Rabu (11/11).

Dia menilai, industri fintech masih tergolong belia. Para pelaku fintech mesti progresif melakukan pendekatan kepada regulator untuk berkembang bersama. Sebab, fintech Indonesia masih mampu membuka banyak peluang, utamanya menggarap layanan yang sudah ada di banyak negara tapi belum ada di Indonesia.

"Ada beberapa inisiatif dari pemerintah yang saya rasa inisiatif tersebut bisa mengubah peta jalan dari fintech syariah secara berkelanjutan. Tidak hanya bottom to up tapi dari atas ke bawah. Misalnya Wakil Presiden kita aktif memastikan ekonomi syariah itu bisa tumbuh, serta melakukan pendekatan kepada regulator untuk mendukung itu," ucap dia.

Ronald menambahkan, peran asosiasi juga perlu ditingkatkan. Terutama terkait dengan penerapan code of conduct oleh para penyelenggara layanan. Asosiasi perlu terus memastikan perlindungan konsumen tetap dijunjung seiring perkembangan pasar yang begitu cepat.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi menuturkan, bahwa kolaborasi adalah model bisnis dari fintech, utamanya fintech p2p lending. Dengan kolaborasi, risiko bisa lebih disesuaikan, informasi bisa lebih kokoh, sehingga manajemen risiko lebih terjaga.

"Kita melihat semakin banyak kolaborasi, ini kembali ke budaya Indonesia yakni gotong royong. Kita akan lebih banyak melihat kolaborasi daripada kompetisi. Sekarang sudah banyak kolaborasi Bank BUMN atau swasta dengan fintech," ucap dia.

Keterangan foto: Acara Indonesia Fintech Summit & Pekan Fintech Nasional, Rabu (11/11), pada panel diskusi bertajuk “Get Up, Stand Up: Fintech Initiatives in Supporting Indonesia’s Economic Recovery”.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN