Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO dan Founder ALAMI Dima Djani

CEO dan Founder ALAMI Dima Djani

First Jobbers Bisa Raih Pendapatan Pasif Lewat Platform Pembiayaan P2P Syariah

Thomas E Harefa, Selasa, 9 Juli 2019 | 13:36 WIB

JAKARTA, investor.id – CEO dan Founder ALAMI Dima Djani mengungkapkan perlu ada out of the box mindset yang relevan dengan problem finansial yang dialami generasi muda saat ini terutama first jobbers, salah satunya memasukkan unsur pendapatan pasif dalam perencanaan keuangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah angkatan kerja di Indonesia bertambah 2,24 juta orang pada Februari 2019 menjadi 136,18 juta. Artinya, ada 2,24 juta tenaga kerja baru yang memasuki lapangan kerja yang disebut juga dengan istilah first jobbers atau pekerja pertama.

Pendapatan pasif merupakan pendapatan yang dihasilkan tanpa mengharuskan individu bekerja secara aktif. Rata-rata karyawan Indonesia bekerja selama 8 jam sehari atau 40 jam per minggu. Oleh karena itu, menurut Dima, pendapatan pasif dapat menjadi langkah strategis bagi first jobbers untuk mewujudkan ambisi-ambisi tersebut selain dengan berinvestasi di instrumen keuangan ataupun menabung.

Dima menjelaskan, punya ambisi banyak itu baik, namun harus diimbangi dengan strategi untuk mencapainya. Selain menentukan prioritas keinginan, mencari sumber pendapatan selain gaji sangat mungkin dilakukan.

Tidak harus punya usaha sampingan atau menyewakan properti seperti generasi terdahulu, karena pertama, modal memulainya besar, kedua, perlu komitmen waktu dan tenaga untuk melakukannya, dan ketiga, membutuhkan ongkos produksi dan pemeliharaan yang berkelanjutan.

“Saat ini peluang pendapatan pasif sangat banyak. Jika waktu dan modal kita terbatas, first jobbers bisa memperoleh pendapatan pasif dengan menjadi pendana (funders) bagi usaha orang lain,” terang Dima dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, Selasa (9/7/2019).

Meskipun generasi muda atau first jobbers memiliki kemampuan finansial sebagai pendana, peluang ini kerap terhambat karena terbatasnya relasi mereka dengan bisnis yang potensial serta minimnya pemahaman akan skema pendanaan yang aman.

Kehadiran platform pembiayaan peer to peer (P2P) yang resmi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seperti ALAMI dapat memecah permasalahan tersebut, dengan menghubungkan masyarakat pemodal terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) yang ada di industri. Tugas ALAMI adalah menyeleksi kelayakan UKM yang berhak memperoleh pendanaan, agar meminimalisir risiko, sehingga mengupayakan keuntungan yang maksimal bagi para pendana.

Menurut Dima, prinsip syariah yang diterapkan ALAMI dalam menghimpun dan menyalurkan pembiayaan dapat menjadi keunggulan bagi first jobber yang relatif belum agresif dalam mengambil risiko.

“Prinsip syariah mengutamakan nilai-nilai kemaslahatan dan manfaat baik, serta mengusung unsur keamanan khususnya dalam menyaring bisnis-bisnis yang akan didanai. ALAMI melaksanakan credit scoring pada UKM melalui sistem credit engine yang merangkup sisi kualitatif dan kuantitatif demi memastikan operasional bisnis UKM tersebut sehat,” jelas dia.

Selain itu, saat ini produk pembiayaan ALAMI merupakan invoice financing (anjak piutang/factoring). Secara karakteristik, produk ini memiliki risiko yang rendah karena mengacu pada invoice resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan blue chip, sehingga kepastian penggunaan dana serta pembayarannya jelas.

 

Menguntungkan

Berbicara mengenai keuntungan, pendana di ALAMI akan mendapat ujrah (imbal hasil) atas jasa yang mereka berikan kepada UKM. Potensi ujrah yang dapat diraih rata-rata sebesar 14%-16% untuk setiap tagihan, sesuai dengan profil risiko UKM dari hasil credit scoring.

Jika dibandingkan dengan return deposito sebesar 5-7% per tahun, imbal hasil sebagai pendana di ALAMI tentu lebih menarik. Sementara itu, dibandingkan dengan return instrumen reksa dana per tahun, potensi keuntungan keduanya bersifat kompetitif. Namun, pembiayaan peer-to-peer financing syariah akan lebih unggul dari segi kepastian, mengingat return investasi reksa dana yang fluktuatif dipengaruhi oleh kinerja pasar.

Tenor pembiayaan pada ALAMI dimulai dari 1 hingga 6 bulan, waktu yang relatif lebih singkat untuk menuai pendapatan dibandingkan dengan deposito dan reksa dana yang setidaknya membutuhkan satu tahun untuk memaksimalkan keuntungan.

Dia menjelaskan, memiliki pendapatan pasif di era teknologi saat ini sangat mungkin dimulai oleh mereka yang berstatus first jobbers untuk memenuhi mimpi-mimpinya tanpa harus mengganggu tabungan simpanan atau dana darurat.

Menurut dia, keterbatasan modal dan waktu seharusnya tidak menjadi alasan bagi generasi muda untuk mengatur strategi perencanaan keuangan dengan cermat. Sebab, kehadiran platform pembiayaan P2P syariah seperti ALAMI memang dirancang khusus untuk memberi kemudahan bagi generasi muda yang ingin meningkatkan kekayaan yang halal dan berkah.

“Demi memudahkan calon pendana mengakses informasi, ALAMI menghadirkan tampilan dan fitur website yang menyerupai media sosial. Platform ALAMI siap mendampingi first jobbers dalam memberikan pengalaman terbaik dalam menjadi pendana bagi mitra UKM kami,” kata Dima.

Pascaterdaftar di OJK, ALAMI telah berhasil menyalurkan pinjaman sebesar Rp 10,8 miliar per Juni 2019. Perusahaan ini semakin memacu pergerakannya dengan aktif mengikuti beragam kompetisi salah satunya dalam kompetisi TaqwaTech di Malaysia Tech Week yang diselenggarakan oleh Gobi Partners pada Juni 2019, di mana ALAMI sukses meraih posisi sebagai runner up. Tahun 2017, ALAMI juga turut serta dalam INSEAD Venture Competition.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA